Konflik Memanas! Iran Siapkan Langkah Keras Lawan Blokade AS di Selat Hormuz: Manfaatkan Perbatasan
Eri Ariyanto April 15, 2026 04:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Konflik di kawasan Selat Hormuz kembali memanas setelah Amerika Serikat resmi memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, langkah yang langsung memicu reaksi keras dari Teheran.

Sebagai salah satu jalur energi paling vital di dunia yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global, Selat Hormuz kini menjadi titik panas geopolitik internasional.

Iran menilai kebijakan blokade tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan ancaman serius terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Iran pun menegaskan tidak akan tinggal diam dan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menghadapi tekanan Washington.

Di sisi lain, Amerika Serikat berdalih bahwa kebijakan ini bertujuan menekan Iran agar membuka kembali jalur pelayaran internasional yang dianggap terganggu.

Ketegangan yang terus meningkat ini membuat situasi di Teluk Persia semakin tidak menentu dan berdampak pada pasar energi dunia.

Banyak pihak menilai bahwa setiap eskalasi di wilayah ini berpotensi memicu krisis global yang lebih luas.

Kini dunia menanti langkah lanjutan dari kedua negara yang bisa menentukan arah stabilitas keamanan dan ekonomi internasional.

Baca juga: Heboh! Trump Unggah Lalu Hapus Gambar AI Mirip Yesus, Alasan Konten Kontroversial Dihapus Terbongkar

Seperti diketahui, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni mengatakan Iran tidak akan terpengaruh oleh blokade yang dilakukan Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz.

Dia menyebut, Iran memiliki lebih dari 8.000 kilometer perbatasan darat dan laut yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan perdagangan.

Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (14/4/2026), Momeni menginstruksikan para pejabat di provinsi-provinsi perbatasan Iran untuk memfasilitasi impor barang-barang penting guna menetralisir ancaman blokade angkatan laut AS.

Seperti diketahui, AS mulai memblokade Selat Hormuz pada Senin (13/4/2026), untuk memberikan tekanan ekonomi tambahan pada Iran dengan memutus salah satu sumber pendapatan yang tersisa.

Para analis menilai, blokade ini dapat menimbulkan kerusakan dampak pada ekonomi Iran. Sebab, sebagian besar ekspor minyak dan gas Iran dilakukan melalui pelabuhan dan melewati selat tersebut.

Selat Hormuz dilewati oleh 20 persen pasokan minyak dan gas dunia pada masa damai. Saat perang Iran pecah pada 28 Februari 2026, Teheran langsung menutup aksesnya.

Keputusan ini justru membuat ekspor Iran melalui selat tersebut meningkat pada Maret dan awal April. Karena hanya kapal mereka dan beberapa negara sahabat yang boleh melewatinya.

Namun, dengan adanya militer AS yang memblokade pelabuhan Iran dan Selat Hormuz, kemampuan Teheran untuk mengekspor minyak mentah terkena dampak langsung.

Selain minyak, blokade AS terhadap pelabuhan Iran juga dapat berdampak pada perdagangan barang-barang lain milik Teheran.

Beberapa ekspor utama yang dikirim melalui pelabuhannya meliputi petrokimia, plastik, dan produk pertanian yang terutama diekspor ke negara-negara seperti China dan India.

Sementara impor utama meliputi mesin industri, elektronik, dan makanan, sebagian besar berasal dari China, Uni Emirat Arab, dan Turki.

PERANG IRAN AS - Ilustrasi Selat Hormuz.
PERANG IRAN AS - Ilustrasi Selat Hormuz. (Dok./Wikimedia Commons)

Jalur perdagangan alternatif Iran

Teheran sebenarnya sudah memiliki jalur perdagangan alternatif yang digunakan untuk mengurangi ketergantungan pada selat, seperti Selat Hormuz dari Teluk dan Selat Malaka di Asia Tenggara.

Terutama untuk menjalin akses dengan mitra dagang utamanya, yakni China. Kedua negara telah mengembangkan jalur kereta api.

Dengan menggunakan jalur kereta api yang sudah ada di negara-negara Asia Tengah seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan, kereta dapat membawa barang dagangan dari China ke Iran.

Menurut laporan dari lembaga konsultan geopolitik SpecialEurasia, jalur kereta api China-Iran membantu mengurangi risiko pencegahan angkatan laut oleh pasukan Barat yang menghambat perdagangan Iran.

“Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa pengangkutan hidrokarbon melalui kereta api melibatkan tantangan logistik yang cukup besar,” tambah laporan tersebut.

Selain itu, saat ini tidak ada bukti kredibel bahwa minyak telah diangkut melalui kereta api dari Iran ke China.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.