SURYA.CO.ID - Sosok Roy Suryo kini tengah menjadi sorotan setelah mendapat kritik tajam dari rekan sesama tersangka dalam kasus dugaan ijazah palsu, Rismon Sianipar.
Rismon Sianipar menilai pakar telematika tersebut lebih layak disebut sebagai politisi ketimbang seorang peneliti.
Hal ini didasari atas penggunaan istilah "Ternak Mulyono" atau "Termul" dalam tulisan Roy Suryo di buku Jokowi's White Paper.
Seperti diketahui, Rismon kini telah meminta maaf kepada publik dan mengakui adanya kekeliruan dalam penelitiannya terkait ijazah tersebut, sembari mengajukan Restorative Justice (RJ).
Namun, ia menyayangkan gaya penulisan Roy Suryo yang dianggap tidak objektif.
"Kan enggak cocok ya dalam sebuah tulisan yang harusnya ilmiah tetapi melabel orang, bukan hanya dalam hal percakapan saja ya, ucapan, tetapi tulisan juga dikatakan Termul ya, itu tidak pantas," tegas Rismon, dikutip dari YouTube Balige Academy, Senin (13/4/2026).
Rismon menambahkan bahwa diksi tersebut muncul di bab 4 buku tersebut.
"Makanya dia (Roy Suryo) lebih cocok politisi, bukan peneliti. Itu di halaman 16 bab 4, sub bab pertama laporan TPUA ke Bareskrim, sub bab kedua, laporan Jokowi dan Termul-termulnya di Polda Metro Jaya," tambahnya.
Lebih lanjut, Rismon menekankan pentingnya menjaga netralitas dalam sebuah karya yang diklaim sebagai penelitian ilmiah agar tidak bias oleh kebencian pribadi.
"Harusnya itu kan dibuang diksi-diksi semacam itu, karena kita harus menempatkan kebenaran ilmiah tanpa preferensi."
"Kalau begini kan sudah preferensi namanya, menggunakan istilah termul, bahwa kebencian di situ, aroma kebencian ya, ini tulisan yang dipublikasi, yang dikatakan ini ilmiah, sangat disayangkan," ungkap Rismon.
Baca juga: Pecah Kongsi Kasus Ijazah Jokowi: Roy Suryo Sebut Rismon Zombie, Dokter Tifa Singgung Perubahan
Berikut adalah profil dan biodata KRMT Roy Suryo Notodiprojo yang dirangkum dari berbagai sumber:
Latar Belakang dan Pendidikan
Nama Lengkap: Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo.
Lahir: Yogyakarta, 18 Juli 1968.
Orang Tua: Prof. Dr. KPH Soejono PH, SpS., SpKJ dan Ray Soeratmiyati Notonegoro.
Pendidikan: Alumni Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan menyelesaikan pendidikan magister di kampus yang sama.
Karier sebagai Pakar Telematika
Roy Suryo dikenal luas sebagai narasumber bidang teknologi informasi, fotografi, dan multimedia.
Ia sempat menjadi pembawa acara e-Lifestyle di Metro TV selama lima tahun.
Selain menjadi ahli IT, ia juga pernah mengajar di ISI Yogyakarta (1994–2004) dan menjadi pengajar tamu di Program D-3 Komunikasi UGM.
Terjun ke Dunia Politik dan Jadi Menpora
2009: Maju sebagai Caleg DPR-RI dari Partai Demokrat dapil Yogyakarta.
2013: Ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) menggantikan Andi Mallarangeng.
2014: Tercatat sebagai salah satu caleg menteri dengan perolehan suara terbanyak.
Kontroversi Aset Kemenpora
Pada tahun 2018–2019, Roy Suryo sempat dinonaktifkan dari posisi Wakil Ketua Umum Partai Demokrat terkait masalah pengembalian aset negara di Kemenpora.
"Benar. Per hari ini, kami resmi menonaktifkan Mas Roy (Roy Suryo) sebagai waketum agar dia fokus menyelesaikan permasalahannya dengan Kemenpora," ungkap Sekjen Partai Demokrat kala itu, Hinca Panjaitan, Jumat (14/9/2019).
Kala itu, Roy Suryo menyatakan ingin fokus menyelesaikan kasus tersebut tanpa menyeret nama partai.
"Secara khusus kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, maka saya mohon agar dapat nonaktif sementara dari jabatan saya sekarang (waketum Partai Demokrat)," kata Roy Suryo dalam suratnya tertanggal 12 September 2018.
Ia menegaskan langkah tersebut diambil demi citra partai.
"Agar tak melibatkan Partai Demokrat karena persoalan ini tak ada hubungannya sama sekali dengan urusan partai," imbuhnya.
"Ya, mas dua hari lalu, tepatnya hari Rabu (12/9/2018) saya memang telah membuat surat pernyataan berisi tiga poin utama. Salah satunya yang terpenting adalah agar dapat nonaktif sementara dari posisi Waketum DPP PD untuk fokus dalam kasus tersebut," ujar Roy Suryo kala itu.
Menanggapi tudingan Rismon yang menyebut dirinya sebagai peneliti gadungan, Roy Suryo akhirnya buka suara dengan pernyataan keras.
Roy menegaskan tidak tertarik untuk menanggapi lebih jauh pernyataan mantan rekannya tersebut. Ia memilih untuk tidak melayani tuduhan yang menurutnya tidak layak dijawab.
"Saya sekali lagi ingin menegaskan bahwa saya sekali lagi tidak perlu menjawab Si Omon ya, karena dia sebenarnya sudah menjadi zombie. Tahu enggak zombie? zombie itu artinya mayat hidup ya," ujar Roy Suryo melalui kanal YouTube pribadinya (13/4/2026).
Tak hanya itu, Roy juga mengungkit latar belakang pendidikan Rismon di Jepang yang ia nilai bermasalah. Ia menyebut ada persoalan terkait studi yang tidak diselesaikan.
"Kita ucapkan selamat jalan kalau sudah meninggalkan dunia. itu ada suratnya ke (Universitas) Yamaguchi (Jepang) supaya dia enggak bayar beasiswa ya karena dia tidak selesai S3-nya di Yamaguchi doktor eng-nya itu bodong ya dan dia tidak pernah ngambil S2 atau magister eng-nya dan sekali lagi saya tidak perlu menjawab zombie apapun yang kamu katakan itu zong apapun yang kamu katakan nol," tegasnya.
Lebih jauh, Roy turut menyinggung soal integritas sebagai seorang peneliti. Ia menantang Rismon untuk bersikap terbuka, termasuk tidak menutup kolom komentar di media sosial.
"Peneliti itu harus apa? Memiliki integritas. Tidak boleh bohong. Di mana ada orang yang bohong, bohong ijazahnya, bohong kehidupannya. Hidupkan komenmu. Ya, jangan pengecut komennya tidak dihidupkan. Jadi sekali lagi enggak perlu melayani zombie. Masyarakat lupakan saja kepada si zombie ini ya. Selamat jalan zombie," pungkas Roy.