SURYA.CO.ID – Setelah perundingan pertama yang dimediasi Pakistan gagal mencapai kesepakatan, Amerika Serikat (AS) berencana bernegosiasi lagi dengan Iran.
Negosiasi kedua ini akan kembali di Pakistan dalam waktu dua hari ke depan.
Rencana ini diungkapkanPresiden AS Donald Trump serta dikonfirmasi sejumlah pejabat dari Pakistan, Iran, dan negara-negara Teluk.
Namun demikian, belum ada satu pun sumber dari pihak Iran yang dapat menyebutkan kapan tanggal pasti pertemuan tersebut akan ditetapkan.
Trump memberikan sinyal kuat mengenai kelanjutan pembicaraan tersebut, seperti dikutip dari New York Post.
Baca juga: Perjanjian dengan Iran di Pakistan Buntu, AS Umumkan Kepung Akses Selat Hormuz Mulai Senin Malam
"Anda harus tetap di sana, sungguh, karena sesuatu bisa terjadi selama dua hari ke depan, dan kami lebih cenderung pergi ke sana," ujar Trump pada Selasa waktu setempat (14/4/2026).
Di tempat berbeda, Wakil Presiden AS JD Vance juga membenarkan rencana negosiasi dari Trump tersebut.
Saat berbicara dalam acara Turning Point USA di Georgia, Vance menegaskan bahwa Trump tidak tertarik pada solusi jangka pendek atau skala kecil dalam menangani isu Teheran.
Vance mengatakan, hari ini bahwa Trump ingin membuat "kesepakatan besar” terkait Iran.
Ia juga mengklaim bahwa Trump menjanjikan kesuksesan ekonomi bagi Iran dalam negosiasi tersebut.
“Dia tidak ingin membuat kesepakatan kecil. Dia ingin membuat kesepakatan besar,” tegas Vance.
Terkait kegagalan proses negosiasi yang berjalan di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan kemarin, Vance pun buka suara.
Ia mengakui adanya kemajuan pemahaman antara kedua belah pihak meskipun pertemuan kala itu belum membuahkan kesepakatan final.
“Di Pakistan, kami membuat banyak kemajuan,” ungkap Vance mengenai negosiasi tersebut.
Vance pun menjelaskan lebih detail mengenai alasan di balik alotnya perundingan.
Menurutnya, Presiden AS menginginkan sebuah perjanjian komprehensif yang menjamin keamanan global sekaligus kesejahteraan rakyat Iran.
“Tetapi alasan mengapa kesepakatan itu belum selesai adalah karena presiden benar-benar menginginkan kesepakatan di mana Iran tidak memiliki senjata nuklir dan Iran tidak menjadi negara sponsor terorisme. Selain itu, Trump juga ingin rakyat Iran dapat berkembang dan makmur serta bergabung dengan ekonomi dunia,” papar Vance.
Dalam penjelasannya, Vance menggambarkan proposal yang diajukan AS sebagai jalan menuju normalisasi hubungan ekonomi.
Trump disebut menawarkan insentif besar bagi Iran jika Iran bersedia menghentikan ambisi nuklirnya.
“Dia mengatakan, jika kalian berkomitmen untuk tidak memiliki senjata nuklir, kami akan membuat Iran berkembang, kami akan menjadikannya makmur secara ekonomi dan kami akan mengundang rakyat Iran ke dalam ekonomi dunia,” kata Vance.
Vance menambahkan bahwa janji tersebut merupakan dasar dari "kesepakatan besar" yang coba ditawarkan ke Iran.
“Dan itulah jenis kesepakatan besar ala Trump yang telah diletakkan presiden di atas meja.” sambung Vance
Vance mengisyaratkan bahwa pemerintah AS tidak akan menyerah pada proses diplomasi ini karena dampaknya yang akan dirasakan secara global.
“Kami akan terus bernegosiasi dan mencoba mewujudkannya, karena itu akan berdampak besar bagi dunia, itu akan berdampak besar bagi negara kami, itu akan berdampak besar bagi semua orang,” lanjutnya.
Sebelumnya,perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran pada pekan lalu gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Wakil Presiden AS, JD Vance. mengatakan kegagalan itu dikarenakan Iran tak mau menerima syarat-syarat yang ditawarkan oleh AS.
"Kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran, itu kabar baiknya. Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan menurut saya ini adalah kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk daripada bagi AS," kata Vance dalam konferensi pers, Minggu (12/4/2026).
Vance mengaku bahwa AS datang ke perundingan dengan sikap fleksibel dan "itikad baik", namun sangat disayangkan kedua pihak tidak mencapai kesepakatan.
"Kami meninggalkan tempat ini dengan sebuah proposal yang sangat sederhana, sebuah pemahaman bahwa ini adalah penawaran terakhir dan terbaik dari kami. Kita lihat saja apakah pihak Iran akan menerimanya," kata Vance.
Baca juga: Membedah Penyebab Negosiasi AS dan Iran Macet, Ada 3 Poin Harga Mati yang Sulit Diterima JD Vance
Terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menjelaskan bahwa hambatan utama adalah tuntutan pihak Amerika yang dinilai tidak masuk akal.
Padahal, menurutnya, kedua pihak sebenarnya sudah mulai menemukan titik temu pada beberapa poin.
Baqaei mengungkapkan bahwa dari sekian banyak bahasan, masih ada ganjalan besar yang sulit dijembatani.
Isu tersebut meliputi program nuklir, pengaturan di Selat Hormuz, serta tuntutan spesifik lainnya.
“Dalam beberapa isu kami telah mencapai pemahaman bersama, tetapi masih ada perbedaan pada dua hingga tiga hal penting,” ujar Baqaei sebagaimana dilansir Tasnim News Agency dari Kompas.com.
Pertemuan ini diakui berlangsung dalam kondisi yang sangat berat.
Selain menjadi pertemuan terlama dalam setahun terakhir (sekitar 25 jam), negosiasi ini terjadi hanya 40 hari setelah kedua negara terlibat konflik bersenjata.
“Perundingan ini berlangsung dalam suasana penuh ketidakpercayaan dan kecurigaan. Wajar jika sejak awal tidak ada ekspektasi untuk mencapai kesepakatan hanya dalam satu pertemuan,” katanya.
Meski atmosfer perundingan cukup tegang, Iran tetap memilih jalan dialog sebagai cara utama untuk memperjuangkan hak-hak negaranya.
“Diplomasi tidak pernah berakhir. Ini adalah alat untuk melindungi kepentingan nasional, baik dalam kondisi perang maupun damai,” tegas Baqaei.
Di akhir pernyataannya, Iran menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada pemerintah Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Asim Munir, yang telah bersedia menjadi mediator bagi dua negara yang telah lama berseteru ini.