Tribunlampung.co.id, Pringsewu – Pemerintah Kabupaten Pringsewu pada 2025 telah menyalurkan bantuan dua unit alat pengering gabah (dryer) yang masing-masing ditempatkan di Pekon Tambah Rejo dan Pekon Mataram.
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari dukungan awal pemerintah dalam memperkuat penanganan pascapanen padi di tingkat pekon, terutama untuk membantu petani menghadapi keterbatasan pengeringan saat kondisi cuaca tidak menentu.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu Luky Adrian mengatakan kedua unit dryer tersebut saat ini masih beroperasi dan dimanfaatkan petani, khususnya pada periode panen raya.
“Bantuan dryer diberikan di Pekon Tambah Rejo dan Pekon Mataram, dan hingga kini masih dimanfaatkan dengan baik, terutama saat panen raya,” ujarnya kepada Tribun Lampung, Selasa (14/4/2026).
Menurut Luky, keberadaan alat pengering ini memberikan dampak langsung pada peningkatan mutu gabah karena mampu menurunkan kadar air hingga di bawah 15 persen secara lebih efisien.
Kondisi tersebut juga membantu menekan risiko penurunan kualitas akibat cuaca lembap yang kerap terjadi pada musim hujan.
“Dengan dryer, kualitas gabah meningkat dan berdampak langsung pada harga jual,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui jumlah alat pengering yang tersedia masih jauh dari kebutuhan di lapangan.
Kabupaten Pringsewu sebagai salah satu sentra produksi padi masih menghadapi keterbatasan sarana pascapanen, terutama di wilayah dengan volume panen tinggi yang belum memiliki fasilitas serupa.
Luky menilai, penambahan unit dryer menjadi penting agar petani tidak hanya menjual gabah dalam kondisi basah, tetapi dapat meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan awal.
“Ini tentu akan meningkatkan pendapatan petani dari sisi pengolahan gabah kering panen,” katanya.
Saat ini, panen padi musim tanam (MT) I di Kabupaten Pringsewu tengah berlangsung dan diperkirakan mencapai puncak pada April 2026. Panen telah dimulai sejak Maret dengan luasan sekitar 1.016 hektare, dan pada April diperkirakan mencapai 8.791 hektare, sementara sisanya 3.913 hektare akan dipanen pada Mei.
Perbedaan waktu panen antarwilayah dipengaruhi variasi pola tanam serta kondisi curah hujan di awal musim, termasuk belum meratanya penggunaan mekanisasi pertanian.
Dari total luas sawah sekitar 13.720 hektare, produksi gabah kering giling (GKG) Kabupaten Pringsewu diperkirakan mencapai 90.552 ton.
“Hasil panen dipengaruhi oleh curah hujan, kondisi hama dan penyakit, serta penggunaan benih varietas unggul,” ujar Luky.
Ia menambahkan, penggunaan benih unggul dari program pemerintah terbukti membantu meningkatkan produktivitas dibandingkan benih turunan yang selama ini masih digunakan sebagian petani.
Di sisi harga, pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebagai upaya menjaga stabilitas harga saat panen raya.
Luky menyebut harga di lapangan saat ini masih relatif berada di atas HPP, namun pemerintah tetap menyiapkan mekanisme penyerapan melalui Bulog.
“Kami juga membantu menghubungkan petani dengan Bulog Kanwil Lampung jika ada yang menjual di bawah harga tersebut,” katanya.
Ke depan, Dinas Pertanian Pringsewu mendorong penguatan sektor pertanian melalui penambahan alat dan mesin pertanian, perluasan akses benih unggul, penguatan peran Bulog, serta pembangunan infrastruktur irigasi.
Sementara petani diharapkan semakin adaptif terhadap teknologi budidaya dan penguatan kelembagaan kelompok tani agar pola tanam lebih terkoordinasi.
“Dengan begitu, produksi, kualitas, dan pendapatan petani dapat meningkat secara berkelanjutan,” tandasnya.
( Tribunlampung.co.id / Oky Indrajaya )