Kapal Tanker China Putar Balik ke Selat Hormuz, Gagal Tembus Blokade Kapal Perang AS
Juang Naibaho April 15, 2026 01:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Kapal tanker China yang dijatuhi sanksi dilaporkan putar balik di Selat Hormuz setelah gagal menembus blokade Amerika Serikat.

Dilansir Wall Street Journal, Selasa (14/4/2026), kapal tanker bernama Rich Starry tersebut memiliki rekam jejak menghindari pembatasan AS terhadap minyak Iran.

Menurut data dari firma pelacak kapal, Kpler, kapal pengangkut bahan kimia dan produk minyak tersebut mengibarkan bendera palsu Malawi. 

Rich Starry sempat melewati titik tersempit Selat Hormuz sebelum akhirnya berbalik arah pada Selasa waktu setempat. 

Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa Rich Starry terpantau berlayar keluar dari Hormuz dari perairan Uni Emirat Arab (UEA). 

Namun, Samir Madani, salah satu pendiri TankerTrackers.com yang menggunakan citra satelit untuk memantau pergerakan kapal, mengungkapkan pola mencurigakan dari kapal tersebut. 

"Rich Starry memiliki riwayat mengirimkan sinyal palsu saat bersandar di pelabuhan-pelabuhan Iran untuk memuat produk minyak," ujar Madani. 

Banyak kapal dalam "armada bayangan" yang mengangkut minyak ilegal menggunakan bendera palsu atau menyiarkan lokasi palsu untuk menyamarkan asal kargo mereka.

Hingga saat ini, belum jelas apa yang dibawa oleh Rich Starry saat melakukan manuver tersebut. 

Baca juga: Profil Paus Leo XIV, Pemimpin Gereja Katolik yang Dihina Donald Trump dengan Kata-kata Kasar

Blokade AS 

Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) menegaskan, blokade tersebut dirancang khusus untuk mencegah kapal masuk dan keluar dari pelabuhan serta garis pantai Iran. 

Langkah tersebut diambl setelah perundingan damai AS-Iran menemui kebuntuan sekaligus respons terhadap penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Blokade AS ini tidak menghentikan kapal yang sekadar melintasi Selat Hormuz. 

Setidaknya enam kapal dagang dilaporkan mematuhi arahan pasukan AS untuk berbalik arah dan memasuki kembali pelabuhan Iran di Teluk Oman. 

Blokade yang dilakukan AS ini melibatkan lebih dari 10.000 pelaut, marinir, dan personel angkatan udara AS, serta lebih dari selusin kapal perang dan pesawat.

Beberapa persenjataan yang dikerahkan termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, kapal serbu amfibi USS Tripoli, dan sejumlah kapal perusak berpeluru kendali. 

Centcom juga membantah adanya kapal yang berhasil menembus barisan blokade mereka.

Pihak militer AS menegaskan bahwa blokade tetap dilakukan dan berfungsi efektif.

Dalam pernyataannya melalui unggahan di media sosial X, Centcom menyatakan telah menghentikan enam kapal yang mencoba berlayar keluar dari pelabuhan Iran di luar Teluk selama 24 jam pertama.

"Tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade AS dan enam kapal dagang telah mematuhi arahan pasukan AS untuk berbalik arah kembali ke pelabuhan Iran di Teluk Oman," tulis Centcom. 

Centcom juga menambahkan bahwa blokade tersebut diberlakukan secara adil terhadap semua negara. "Blokade ini ditegakkan secara tidak memihak terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau berangkat dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman," tambah pernyataan tersebut. 

Sebelumnya, sejumlah kapal dilaporkan melintasi jalur tersebut meskipun militer AS menetapkan blokade terhadap kapal yang berasal atau menuju pelabuhan Iran. 

Berdasarkan data pelacakan maritim dari penyedia data Kpler pada Selasa (15/4/2026), setidaknya terdapat tiga kapal yang berlayar dari pelabuhan Iran terpantau melewati Selat Hormuz.

Washington sendiri resmi memberlakukan blokade pada Senin (13/4/2026) pukul 14.00 GMT. 

Salah satu dari kapal yang terdeteksi melewati Hormuz dari pelabuhan Iran adalah Christianna, kapal kargo curah berbendera Liberia. Kapal ini melewati selat setelah membongkar 74.000 ton jagung di pelabuhan Bandar Imam Khomeini, Iran.

Data Kpler menunjukkan kapal tersebut melewati Pulau Larak di Selat Hormuz sekitar pukul 16.00 GMT pada Senin. 

Selain itu, kapal tanker berbendera Komoro, Elpis, yang memuat 31.000 ton metanol dari pelabuhan Bushehr, juga terpantau melewati selat pada waktu yang hampir bersamaan.

Namun, sinyal transponder AIS milik Elpis dilaporkan hilang pada pukul 23.00 GMT, sehingga lokasinya saat ini tidak dapat dipastikan.

Meski beberapa kapal dilaporkan berhasil melintas, data pelacakan menunjukkan adanya pola pergerakan yang tidak berbeda.

Kapal tanker China, Rich Starry, sempat melewati Selat Hormuz menuju Sohar, Oman.  Namun, pada Selasa (14/4/2026) pukul 11.00 GMT, kapal yang memuat metanol tersebut terpantau berputar balik di Teluk Oman kembali menuju Selat Hormuz. 

Hal serupa terjadi pada kapal Christianna yang berputar balik di lepas pantai Oman pada pukul 15.00 GMT dengan tujuan yang belum diketahui. 

Sejumlah kapal lain yang tercatat melintas antara lain kapal curah Manali, kapal kontainer Iran Kashan yang sedang dalam sanksi AS, serta kapal kargo Moshtari.

Adapun Rich Starry dan Elpis juga masuk dalam daftar sanksi Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) AS karena keterkaitannya dengan Iran.

Analis maritim memperingatkan bahwa pelacakan kapal di wilayah tersebut juga menjadi sangat sulit. Selama beberapa minggu terakhir sejak konflik pecah, sinyal kapal di sekitar selat sering kali terganggu atau dimanipulasi secara sengaja. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.