Nabung Rp 50 Sehari dari Jualan Rujak Ulek, Machmudah Lega Bisa Segera Naik Haji: Jangan Putus Asa
Ani Susanti April 15, 2026 03:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Tak sia-sia Machmudah nabung Rp 50 ribu tiap hari dari jualan rujak.

Wanita berusia 62 tahun, yang merupakan penjual rujak ulek itu kini bisa naik haji.

Penjual rujak ulek asal Desa Marikangen, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat ini dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 19 Mei 2026, melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Al-Washliyah di kloter 40.

Saat ditemui, Machmudah tampak berada di lapaknya yang sederhana.

Baca juga: Uswatun Bahagia Akhirnya Naik Haji Setelah Nabung Uang Recehan di Galon 15 Tahun

Mengenakan jilbab dan celemek, Machmudah duduk di depan ulekan batu besar, meracik bumbu kacang. 

Tangannya cekatan mencampur cabai, kacang dan bumbu lainnya, sementara sesekali ia menyapa pelanggan yang datang.

Di hadapannya, bahan-bahan segar tertata sederhana.

Sementara di belakangnya, deretan barang dagangan toko kelontong milik pemilik lapak menggantung, menjadi saksi perjalanan panjang hidupnya.

Tak jauh dari sana, sekitar 200 meter, rumahnya berdiri sederhana.

Di tempat itulah, suasana berbeda terasa.

Tumpukan pakaian putih rapi tersusun, perlengkapan haji disiapkan satu per satu dan senyum haru tak bisa lagi disembunyikan.

“Susah payahnya itu, Dek... kepala pusing nggak dirasakan, badan nggak enak nggak dirasakan, soalnya keinginannya biar tercapai,” ujar Machmudah, Selasa (14/4/2026).

Konsisten Menabung

Baginya, keinginan berhaji bukan sekadar angan sesaat.

Ia mengaku, impian itu terus hadir setiap waktu, bahkan hingga terbawa dalam diam.

“Tiap malam itu nggak putus-putus, nggak pernah nggak teringat. Teringat terus. Sampai sekarang sudah tercapai keinginannya, tinggal mintanya ridanya Allah,” ucapnya, melansir dari TribunJabar.

Sehari-hari, ibu empat anak itu menggantungkan hidup dari berjualan rujak ulek.

Ia memulai aktivitas sejak selepas salat Subuh berjamaah.

“Kalau jualan, dari habis salat Subuh, terus jualan sarapan dulu. Jam 08.00 mulai menanak sayur, jam 09.00 nasi sudah siap, rujaknya disiapkan,” jelas dia.

Tak jarang, dagangannya habis sebelum siang.

“Kadang-kadang jam 11.00 sudah habis, kita bikin lagi. Namanya rezeki Allah yang mengatur,” katanya.

Dari hasil jualannya itulah, ia menabung sedikit demi sedikit.

Tak besar, bahkan sering kali tak menentu.

“Sehari itu sekitar Rp 50.000-an buat haji. Tapi nggak pasti, kadang Rp 30.000, kadang Rp 70.000, kadang Rp 100.000,” ujarnya.

Namun, konsistensi menjadi kunci.

Ia tak pernah absen menyisihkan uang, berapa pun yang didapat.

“Pokoknya menabung seadanya. Adanya berapa, disisihkan,” ucap Machmudah.

Perjalanan menuju haji bukan tanpa cerita haru.

Machmudah mengaku, setiap melihat orang berangkat haji, hatinya selalu bergetar.

“Kalau ada orang berangkat, hati itu keluar air tapi nggak kelihatan. ‘Ya Allah, kapan kita bisa ke sana?’,” jelas dia, lirih.

Kerinduan itu terus dipupuk dengan doa yang tak pernah berhenti.

“Keinginannya itu nggak habis-habis. Kalau punya keinginan itu harus terus, jangan putus asa. Allah tahu yang mintanya terus,” katanya.

Kumpulkan Rp 100 Juta Dalam 3 Bulan

Ia mulai mendaftar haji sejak 2013 dan terus berjuang hingga akhirnya mampu melunasi biaya.

Bahkan dalam tiga tahun terakhir, ia berhasil mengumpulkan hingga Rp 100 juta.

Di tengah keterbatasan, Machmudah justru memilih tetap aktif bekerja.

Baginya, bekerja adalah bagian dari menjaga kesehatan dan ketenangan hati.

“Kalau orang duduk manis cepat sakit. Kalau jualan kan segar, sehat, pikirannya normal, uangnya ada, jadi nggak pernah cemas,” ujarnya.

Menjelang keberangkatan, ia kini memperbanyak ibadah.

Zikir, selawat dan istigfar menjadi bagian dari kesehariannya, bahkan saat berjualan.

“Sambil jualan itu terus, mau Al-Insyirah, Ayat Kursi, selawat, istigfar. Sambil goreng-goreng juga,” ucap Machmudah.

Ia juga mengaku mendapat pesan khusus untuk memperbanyak amalan.

“Sekarang disuruh istigfar seribu kali, selawat seribu kali setiap hari, biar di sananya enak,” jelas dia.

Baca juga: Pasutri Penjual Pecel Lele Tertipu Rp 600 Juta usai Tergiur Tawaran Percepatan Berangkat Haji

Kini, segala persiapan telah dilakukan.

Dari pakaian, obat-obatan, hingga perlengkapan sederhana untuk kebutuhan sehari-hari selama di Tanah Suci.

Namun bagi Machmudah, satu hal yang paling utama bukanlah barang bawaan, melainkan hati yang terus terhubung dengan Sang Pencipta.

“Yang penting tasbih. Jangan putus berzikir,” katanya.

Perjalanan Machmudah menjadi bukti, bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari hal-hal sederhana.

Dari ulekan rujak, dari uang receh yang disisihkan setiap hari, hingga doa yang tak pernah berhenti.

Dan kini, air mata yang dulu tak terlihat itu, akhirnya dijawab.

Kisah Calon Jemaah Haji Lain

Kisah perjuangan warga bisa naik haji kerap menjadi inspirasi.

Tak terkecuali dari warga Desa Tanjungori, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur ini.

Ia adalah Uswatun Hasanah (50).

Uswatun bahagia akhirnya bisa haji setelah menabung selama 15 tahun.

Cara Uswatun mengumpulkan uang terbilang unik, yakni menabung uang recehan di galon air minum bekas bertahun-tahun.

Uang recehan dari hasil berjualan dikumpulkan secara rutin untuk mewujudkan impian berhaji.

"Saya ini kan punya toko, jadi banyak galon di rumah. Daripada beli celengan, saya kemudian berpikir kenapa tidak pakai galon saja untuk menabung," ujar Uswatun saat dihubungi, Selasa (14/4/2026).

Baca juga: Kisah Jemaah Haji Ponorogo 2026: Pelajar 15 Tahun Jadi Termuda, Nenek Jual Tanah Demi ke Makkah

Ia menggunakan tiga galon untuk menyimpan uang pecahan mulai dari Rp 100 hingga Rp 10.000.

Uang tersebut dikumpulkan dari hasil berjualan dan digunakan untuk mencicil ongkos naik haji (ONH).

"Kalau sudah terkumpul penuh, uang dari galon saya tukar di bank. Biasanya setiap bulan puasa, atau menjelang Hari Raya Idul Fitri. Saya gunakan untuk membayar cicilan biaya haji," jelasnya.

Uswatun menjual berbagai kebutuhan di toko miliknya, mulai dari sembako, jajanan anak, perlengkapan sekolah, air isi ulang, hingga busana.

Pendapatan hariannya tidak menentu, berkisar Rp 20.000 hingga Rp 30.000.

Namun pada momen tertentu seperti Ramadhan dan Idul Fitri, penghasilannya bisa meningkat hingga Rp 200.000 sampai Rp 700.000 per hari.

"Tidak pasti. Kadang Rp20.000, kadang Rp30.000. Tapi kalau pas ramai, ya menabung lebih," ujarnya.

Uswatun mengaku mulai menabung atas dorongan suaminya. Namun tujuh tahun lalu, suaminya meninggal dunia setelah sakit.

"Awalnya suami yang mendorong, minta saya agar menabung. Tujuh tahun lalu suami saya meninggal dunia," ungkapnya.

Saat itu, ketiga anaknya belum bekerja. Ia harus membagi penghasilan untuk kebutuhan keluarga sekaligus tetap menyisihkan tabungan haji.

Meski demikian, Uswatun berhasil melunasi biaya haji dan bahkan masih memiliki sisa tabungan sekitar Rp 200.000 di dalam galon.

Ia mengaku bahagia karena akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci.

"Alhamdulillah, senang banget akan bisa berangkat menunaikan ibadah haji. Semoga menjadi haji yang mabrur," tuturnya.

Perwakilan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Babussalam, Mohammad Salim, membenarkan Uswatun merupakan jemaah yang akan berangkat tahun ini.

"Untuk tahun ini, ada sebanyak 36 jemaah di tempat kami yang akan berangkat. 30 jemaah dari Pulau Bawean, termasuk Bu Uswatun, dan enam jemaah lain dari Gresik," kata Salim.

Ia menyebut pelunasan biaya haji dilakukan pada 18 Desember 2025 melalui Bank Jatim Syariah Cabang Bawean dengan nilai Rp 32.971.215.

Menurut Salim, seluruh jemaah KBIHU Babussalam tergabung dalam kloter 46 dan dijadwalkan masuk asrama haji pada 2 Mei 2026.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Gresik, Lulus, mengatakan total jemaah asal Gresik yang berangkat tahun ini mencapai 2.679 orang.

"Ada 31 jemaah dari Pulau Bawean. Untuk jemaah dari Bawean yang tergabung di KBIHU Babussalam, masuk kloter 46," ujarnya.

Ia menjelaskan, ribuan jemaah tersebut terbagi dalam delapan kloter, yakni kloter 42 hingga 49, dan mulai masuk asrama haji pada 2 Mei 2026.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.