Strategi Dagang Alternatif di Perbatasan, Cara Iran Akali Blokade AS di Selat Hormuz
Agilio OktoViasta April 15, 2026 06:42 PM

Amerika Serikat diketahui mulai memblokade Selat Hormuz pada Senin (13/4/2026) guna menekan ekonomi Iran.

Kebijakan ini dinilai mengancam pendapatan Iran yang bergantung pada ekspor energi.

Sebagian besar ekspor minyak dan gas Iran memang melalui pelabuhan dan jalur Selat Hormuz.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global melewati selat itu saat kondisi normal.

Saat konflik pecah pada 28 Februari 2026, Iran sempat menutup akses selat tersebut.

Penutupan itu justru membuat ekspor Iran naik karena hanya kapal tertentu yang diizinkan melintas.

Namun, blokade militer AS kini langsung menekan kemampuan ekspor minyak mentah Teheran.

Dampaknya tak hanya pada energi, tetapi juga perdagangan komoditas lain dari Iran.

Ekspor utama Iran meliputi petrokimia, plastik, dan hasil pertanian ke China dan India.

Sementara impor penting berupa mesin, elektronik, dan pangan berasal dari China, UEA, dan Turki.

Iran juga mengandalkan jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Salah satunya melalui jaringan perdagangan yang terhubung hingga Asia Tenggara.

Kerja sama dengan China diperkuat lewat pengembangan jalur kereta lintas negara.

Rute ini melibatkan negara Asia Tengah seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.

Jalur kereta memungkinkan distribusi barang dari China menuju Iran tanpa lewat laut.

Laporan SpecialEurasia menyebut jalur ini membantu menghindari hambatan armada Barat.

Meski begitu, distribusi hidrokarbon lewat kereta menghadapi tantangan logistik besar.

Selain itu, belum ada bukti kuat minyak Iran dikirim ke China melalui jalur kereta.


© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.