TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kabar baik datang dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau.
Hingga Rabu (15/4/2026), kondisi di lapangan dipastikan nihil titik api.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M. Edy Afrizal menegaskan bahwa tidak ditemukan lagi hotspot maupun titik kebakaran aktif di seluruh wilayah Riau.
“Per hari ini, Riau nihil titik api. Artinya tidak ada lagi kebakaran yang terdeteksi. Namun demikian, kami tetap siaga dan tidak lengah,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Meski situasi terkendali, BPBD memastikan patroli dan monitoring tetap dilakukan secara intensif, khususnya di wilayah-wilayah yang selama ini dikenal rawan karhutla.
Langkah ini diambil karena dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah daerah di Riau sempat dilanda kebakaran lahan cukup hebat.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kabupaten Bengkalis.
“Pengawasan terus kita lakukan, terutama di daerah rawan. Kita tidak ingin kebakaran kembali terjadi,” tegasnya.
Berdasarkan data dari BPBD Riau beberapa wilayah di Riau yang masuk kategori rawan karhutla antara lain Bengkalis, terutama kawasan gambut, kemudian Rokan Hilir, Siak, Pelalawan, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu dan Kampar.
Wilayah-wilayah tersebut memiliki karakteristik lahan gambut yang mudah kering dan terbakar, terutama saat musim kemarau.
Meski saat ini Riau dalam kondisi aman dari titik api, pemerintah mengingatkan seluruh pihak untuk tetap waspada.
Pasalnya, kombinasi lahan gambut kering, aktivitas manusia, serta cuaca yang cenderung lebih panas dapat dengan cepat memicu kebakaran kembali.
“Status boleh nihil titik api, tapi kewaspadaan tidak boleh nol,” kata Edy.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa kondisi cuaca tahun 2026 berpotensi lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebelumnya Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, saat kunjungan kerja ke Riau menjelaskan bahwa tahun ini tidak dipengaruhi oleh fenomena La Nina maupun El Nino, sehingga kondisi cenderung netral.
“Secara umum kondisinya akan lebih kering jika dibandingkan dengan tahun 2025,” ujarnya.
BMKG juga mencatat curah hujan tahun ini berada sedikit di bawah normal jika dibandingkan dengan rata-rata 30 tahun terakhir.
Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa risiko karhutla tetap tinggi, terutama menjelang puncak kemarau yang diprediksi terjadi pada Juni hingga Agustus 2026.
Mengantisipasi potensi karhutla, berbagai langkah mitigasi terus dilakukan, di antaranya dengan melakukan Patroli darat dan udara di wilayah rawan.
Sosialisasi dan edukasi ke masyarakat terkait larangan membuka lahan dengan cara membakar pembasahan lahan gambut melalui sekat kanal dan embung, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk hujan buatan dan peningkatan koordinasi lintas instansi (BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan pemerintah daerah)
Menurut BMKG, kondisi saat ini yang masih berada pada fase “kemarau kecil” justru menjadi momentum penting untuk melakukan pembasahan lahan sebelum memasuki kemarau panjang.
“Ini kesempatan untuk mengisi embung dan membasahi lahan gambut sebagai persiapan menghadapi puncak kemarau,” jelas Faisal. (Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)