Oleh: Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng, Kristina Fantesa, Plasida Marisa Paduk, Angelina Suryanti Jemimun, Paskalis Febri Supardi
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Sektor transportasi konvensional di Ruteng, Kabupaten Manggarai, tengah menghadapi tekanan berat.
Para sopir angkutan kota (angkot) mengeluhkan penurunan pendapatan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan semakin berkembangnya layanan transportasi berbasis aplikasi.
Emil (25), sopir angkot yang telah bekerja selama lebih dari sembilan tahun, mengaku kondisi saat ini merupakan yang terberat sepanjang kariernya.
Jika sebelumnya ia mampu membawa pulang penghasilan bersih hingga Rp 300.000 per hari, kini untuk mendapatkan Rp 100.000 saja menjadi sulit.
Baca juga: Mahasiswa Unika Ruteng Soroti Tes Kompetensi Akademik: Solusi Evaluasi atau Beban Baru Siswa?
“Sekarang cari Rp 100.000 saja susah. Harga BBM naik terus, tapi tarif angkot tidak bisa dinaikkan sembarangan karena takut penumpang beralih,” ujarnya saat ditemui di pangkalan Pitak, Sabtu (11/4/2026).
Selain tekanan biaya operasional, kehadiran transportasi online menjadi tantangan utama. Menurut Emil, masyarakat kini lebih memilih layanan berbasis aplikasi karena dinilai lebih praktis dan nyaman.
“Penumpang sekarang ingin dijemput langsung di rumah. Angkot harus menunggu penuh dulu baru jalan, itu yang membuat kami kehilangan pelanggan,” katanya.
Meski demikian, beralih ke transportasi online bukan solusi mudah bagi semua sopir. Keterbatasan usia dan kemampuan dalam mengoperasikan ponsel pintar menjadi kendala tersendiri.
“Tidak semua dari kami paham aplikasi,” tambahnya.
Untuk bertahan, banyak sopir terpaksa memperpanjang jam kerja. Jika sebelumnya beroperasi hingga pukul 17.00 WITA, kini mereka harus bekerja hingga malam hari demi menutupi biaya operasional dan setoran.
“Kadang bensin yang terbakar tidak sebanding dengan pendapatan. Kami hanya bisa bertahan,” ujarnya.
Para sopir berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai dapat menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak. Mereka tidak menolak kemajuan teknologi, namun meminta regulasi yang adil agar transportasi konvensional dan online dapat berjalan berdampingan.
“Kami berharap ada pengaturan tarif, pembatasan kuota transportasi online, atau bantuan subsidi,” katanya.
Fenomena ini mencerminkan dampak nyata modernisasi di sektor transportasi daerah. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, keberlangsungan angkutan kota di daerah seperti Ruteng dikhawatirkan akan semakin tergerus oleh perubahan pola mobilitas masyarakat.