Hasil TKA di Lampung Disorot DPR RI, Abdul Fikri: Belum Menggembirakan, Jadi Bahan Evaluasi
Reny Fitriani April 16, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menyoroti hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Provinsi Lampung yang dinilai masih belum menggembirakan meski tingkat partisipasi tergolong tinggi.

Hal itu disampaikan Fikri saat kunjungan kerja Komisi X DPR RI ke Lampung dalam rangka evaluasi sektor pendidikan, khususnya pelaksanaan asesmen pendidikan, Kamis (16/4/2026). 

“Secara umum partisipasi cukup bagus, Lampung mencapai 84 persen. Tapi hasilnya memang belum menggembirakan, hanya di kisaran 10 sampai 14 persen. Ini menjadi bahan evaluasi kita,” ujar Fikri.

Menurutnya, berbagai temuan di lapangan akan menjadi masukan penting bagi Komisi X DPR RI yang saat ini tengah membahas revisi Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), mencakup aspek guru, dosen, kurikulum hingga sistem evaluasi pendidikan.

Ia menilai, sistem pendidikan di Indonesia saat ini masih terlalu berorientasi pada tes, sehingga membuat peserta didik cenderung bergantung pada bimbingan belajar (bimbel), bukan pada proses pembelajaran di satuan pendidikan.

Baca Juga Tes Kemampuan Akademik Siswa di Lampung Jadi Indikator Seleksi Jalur Prestasi

“Pendidikan kita ini cenderung berorientasi pada tes. Akibatnya, banyak yang bergantung pada bimbel, bukan pada sekolah,” katanya.

Selain itu, Fikri juga menyoroti sejumlah persoalan dalam pelaksanaan TKA, di antaranya adanya kesan bahwa tes yang bersifat tidak wajib justru menjadi seolah-olah wajib di lapangan.

Ia juga menyinggung kesenjangan sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan yang dinilai turut memengaruhi hasil asesmen.

“Di tengah disparitas SDM dan fasilitas antara kota dan desa, tentu hasilnya juga berbeda. Ini harus menjadi perhatian,” jelasnya.

Tak hanya itu, ia menilai TKA belum sepenuhnya mengakomodasi potensi daerah serta belum mampu mengukur aspek pendidikan karakter siswa secara komprehensif.

“TKA ini juga dinilai belum ramah terhadap potensi daerah, dan belum bisa memetakan pendidikan karakter secara optimal,” imbuhnya.

Terkait upaya perbaikan ke depan, Fikri menyebut pihaknya masih mengumpulkan berbagai masukan dari daerah sebagai bahan penyempurnaan kebijakan, termasuk melalui lembaga yang kini dikenal sebagai Badan Kebijakan Pendidikan.

Sementara itu, ia mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Lampung yang dinilai tidak larut dalam hasil, melainkan melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Salah satunya adalah penggunaan sistem Computer Assisted Test (CAT) dalam pelaksanaan evaluasi.

“Lampung tidak meratapi hasil, tetapi justru bangkit dengan berbagai terobosan seperti penggunaan CAT. Ini bisa menjadi best practice bagi daerah lain,” ujarnya.

Ia menegaskan, hasil TKA seharusnya menjadi potret kondisi pendidikan saat ini yang dapat dijadikan dasar untuk melakukan perbaikan ke depan, bukan untuk disesali.

“Ini potret, bukan untuk diratapi. Tapi bagaimana dari potret itu kita bisa melaju lebih baik ke depan,” tandasnya.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)  

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.