SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Hasil panen padi di Kabupaten OKU Timur, Sumsel di awal 2026 ini anjlok hingga 80 persen.
Situasi ini mempengaruhi keadaan ekonomi para petani.
Produksi padi dilaporkan mengalami penurunan drastis akibat serangan hama penggerek batang yang meluas di sejumlah wilayah sentra pertanian.
Parsid, petani asal Desa Sukaraja, Kecamatan Buay Madang, menjadi salah satu yang terdampak langsung.
Ia menyebut penurunan hasil panen tahun ini sangat jauh dibandingkan musim sebelumnya.
Baca juga: KPK Panen OTT Kepala Daerah, Mendagri Tito Karnavian Sebut Kalimat Ini Saat Dimintai Tanggapannya
Menurutnya, serangan hama sudah terlihat sejak awal tanam dan semakin parah saat memasuki masa panen.
Kondisi itu membuat sebagian besar tanaman tidak mampu menghasilkan gabah secara maksimal.
“Kalau dibandingkan tahun kemarin, hasilnya turun jauh. Banyak batang yang kosong, tidak berisi. Modal saja belum tentu kembali,” ungkap Parsid, Kamis (16/4/2026).
Ia merinci, pada kondisi normal, lahan seluas seperempat hektare mampu menghasilkan sekitar 15 karung gabah kering panen.
Namun pada musim ini, hasilnya merosot tajam.
“Biasanya seperempat hektar bisa dapat 15 karung, sekarang hanya 3 karung, bahkan ada yang cuma 2,5 karung. Jauh sekali turunnya,” tambahnya.
Parsid juga menilai, serangan hama kali ini lebih sulit dikendalikan karena datang lebih awal dan menyebar cepat di lahan pertanian.
Upaya pengendalian yang dilakukan petani pun belum cukup efektif menahan laju serangan.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian OKU Timur, Niswaturrohmah, membenarkan bahwa serangan hama penggerek batang tahun ini tergolong tinggi dan merata di beberapa wilayah.
Baca juga: Ketebalan Lumpur 40 CM, Warga di Musi Rawas Terisolasi Tak Bisa Keluar, Hasil Panen Busuk
Ia menjelaskan, meningkatnya intensitas curah hujan menjadi salah satu faktor utama yang memicu perkembangan hama.
Kondisi lingkungan yang lembap membuat siklus hidup hama berlangsung lebih cepat dan sulit dikendalikan.
“Serangan ini sudah terjadi sejak awal musim tanam. Namun pengendalian di tingkat petani belum optimal. Ditambah dengan curah hujan yang tinggi, kondisi ini sangat mendukung perkembangan hama,” jelasnya.
Niswaturrohmah menambahkan, keterlambatan dalam deteksi dini dan tindakan pengendalian menjadi salah satu penyebab meluasnya serangan.
Karena itu, pihaknya mendorong petani untuk lebih aktif melakukan pemantauan kondisi tanaman secara berkala.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan pengendalian hama terpadu, mulai dari penggunaan varietas tahan hama, pengaturan pola tanam serempak, hingga pemanfaatan agen hayati sebagai alternatif pengendalian.
“Kami mengimbau petani untuk rutin melakukan pengamatan dan tidak menunggu serangan meluas. Pengendalian harus dilakukan sejak dini agar dampaknya bisa ditekan,” ujarnya.
Ke depan, Dinas Pertanian OKU Timur akan meningkatkan sosialisasi dan pendampingan kepada petani di lapangan.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kesiapsiagaan petani dalam menghadapi potensi serangan hama pada musim tanam berikutnya.
“Kami akan perkuat pendampingan dan menyiapkan langkah antisipasi, agar kejadian seperti ini tidak terulang dan petani bisa kembali mendapatkan hasil optimal,” tegasnya.
Akibat kondisi ini, musim panen yang seharusnya menjadi momentum peningkatan pendapatan, justru berubah menjadi sumber kekhawatiran.
Penurunan hasil yang signifikan membuat banyak petani terancam tidak balik modal, bahkan berpotensi mengalami kerugian lebih besar jika tidak ada penanganan yang efektif ke depan.