BANGKAPOS.COM, BANGKA - Tingginya aktivitas bongkar muat curah cair di Pelabuhan Pangkalbalam, didominasi oleh Crude Palm Oil (CPO) sebagai hinterland utama, Kamis (16/4/2026).
Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Pangkalbalam, Alamsyah mengatakan optimalisasi layanan curah cair, khususnya CPO terus menjadi fokus utama perusahaan seiring besarnya potensi komoditas sawit di wilayah Bangka Belitung.
"PTP Nonpetikemas Cabang Pangkalbalam terus memperkuat perannya dalam mendukung kelancaran rantai pasok industri CPO, melalui layanan bongkar muat yang andal dan terintegrasi di wilayah Kepulauan Bangka Belitung," ujar Alamsyah.
Berdasarkan data tahun 2025, luas perkebunan sawit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 355.065 hektare dengan potensi produksi sekitar 4 ton per hektare.
Selain CPO, turunan sawit seperti cangkang dan kernel juga menjadi potensi yang terus dikembangkan dalam layanan bongkar muat.
Dengan potensi tersebut sepanjang tahun 2025 PTP Nonpetikemas Cabang Pangkalbalam, melayani throughput sebesar 1,6 juta ton, dengan dominasi curah cair sebesar 33,24 persen.
"Pada Triwulan I tahun 2026, realisasi bongkar muat tercatat sebesar 391.624 ton, dengan porsi curah cair mencapai 35,18 persen," tuturnya.
Alamsyah mengatakan berbagai inovasi operasional dilakukan untuk memastikan proses bongkar muat berjalan lebih efisien, aman dan berkelanjutan
"Kami terus melakukan penguatan layanan, khususnya pada penanganan CPO dan turunannya, melalui inovasi operasional yang mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga aspek keselamatan dan lingkungan," ucapnya.
Kinerja operasional tersebut didukung oleh berbagai inovasi, salah satunya penerapan sistem portable drop tank yang dilengkapi pompa submersible untuk penanganan CPO.
Inovasi ini mampu meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan, serta meningkatkan kapasitas pompa secara optimal.
Selain itu, penerapan sistem truck losing memungkinkan pelayanan hingga empat truk secara bersamaan.
Dari sisi keselamatan dan lingkungan, PTP Nonpetikemas Cabang Pangkalbalam juga telah dilengkapi dengan sistem penanganan tumpahan minyak (oil spill response) berupa oil boom, bahan pengurai, serta kapal penunjang.
"Kedepan, PTP Nonpetikemas Cabang Pangkalbalam tengah menyiapkan inovasi tambahan berupa tudung drop tank agar kegiatan pemuatan tetap dapat berlangsung saat hujan. Dengan rata-rata curah hujan mencapai 12 hari per bulan, inovasi ini diproyeksikan dapat meningkatkan kapasitas pemuatan hingga 5.280 ton per bulan," jelasnya.
Selain CPO, pengembangan layanan juga dilakukan pada komoditas turunan sawit.
Sejak pertengahan 2025, PTP Nonpetikemas Cabang Pangkalbalam telah melayani pemuatan cangkang sawit, dengan realisasi curah kering meningkat dari 185.229 ton pada 2024 menjadi 310.441 ton pada 2025, dan hingga Maret 2026 telah mencapai 85.410 ton.
Sebagai bagian dari PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), PTP Nonpetikemas Cabang Pangkalbalam didukung fasilitas lengkap dengan panjang dermaga mencapai 649 meter serta berbagai peralatan bongkar muat dan area penumpukan yang memadai.
"Melalui dukungan fasilitas, inovasi dan pengembangan layanan tersebut, PTP Nonpetikemas Cabang Pangkalbalam terus memperkuat perannya sebagai simpul logistik strategis dalam mendukung rantai pasok industri sawit dan turunannya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung," bebernya.
Lebih lanjut PTP Nonpetikemas cabang Pangkalbalam, melayani komoditi dari sektor pertanian dan perkebunan.
Hal ini diungkapkan Alamsyah, dikarenakan sektor pertanian merupakan sektor unggulan dalam prioritas pembangunan daerah Bangka Selatan.
PTP Nonpetikemas cabang Pangkalbalam, beroperasi di Pangkalbalam dan Belinyu.
Sementara itu Pelabuhan Pangkalbalam mengoperasikan terminal multipurpose yang meliputi Dermaga Beton, Dermaga Sheet Pile 1, Dermaga Sheet Pile 2, Dermaga Beton, Dermaga Perahu Layar, Dermaga Ketapang I, Trestle Dermaga Beton dan Dermaga Perahu Layar.
"Pelabuhan ini melayani berbagai macam komoditi seperti pupuk, semen, bahan bangunan, karet, bungkil, cangkang, dan peti kemas," ungkapnya.
(Bangkapos.com/Rizky Irianda Pahlevy)