PUKAU Warga Gianyar, Sendratari Paripurna Pentaskan Lakon Lelalu Sang Bima
Anak Agung Seri Kusniarti April 16, 2026 10:03 PM

TRIBUN-BALI.COM - Gemuruh gamelan mengalun pelan, disusul sorot cahaya yang menegaskan kemegahan Panggung Terbuka Balai Budaya Gianyar, Rabu (15/4) malam.

Ratusan pasang mata terpaku saat sendratari kolosal Bima Swarga bertajuk Lelaku Sang Bima mulai dipentaskan. Tak sekadar tontonan, pertunjukan ini menjelma menjadi perjalanan batin yang menyentuh sisi kemanusiaan penonton.

Kisah dibuka dengan kegelisahan Dewi Kunti setelah turunnya sabda dari angkasa. Ia tak dapat melaksanakan upacara Dewa Yadnya sebelum roh Maharaja Pandu dan Dewi Madri mencapai sunia loka. Dalam suasana haru, Bima, putra Dewi Kunti yang dikenal kuat dan teguh, menyatakan kesanggupannya menembus Yama Loka demi membebaskan atma kedua orang tuanya.

Baca juga: AMBRUK Seorang Pamedek di Pura Besakih, Berpulang Setelah Dapat Pertolongan Medis di Puskesmas

Baca juga: DAMPAK Konflik dan Dinamika Global, Indonesia AirAsia Hentikan Rute Denpasar-Banjarmasin PP! 

Perjalanan Bima menuju alam kematian divisualisasikan secara dramatik. Pintu Yama Loka dijaga Sang Jogor Manik Suratma bersama para Cikrabala, menghadirkan ketegangan sejak awal.

Penonton disuguhkan gambaran neraka yang getir, saat roh-roh menerima siksaan akibat dosa semasa hidup, dipanggang, ditusuk, hingga diceburkan ke kawah panas. Visual tersebut tak hanya memukau, tetapi juga menyisakan renungan mendalam tentang hukum karma.

Meski hatinya tergetar, Bima tetap melangkah mantap. Puncak cerita terjadi saat ia berhadapan dengan Sang Hyang Yama Dipati. Dengan ketulusan, Bima memohon pembebasan atma Pandu dan Madri, menegaskan bahwa kematian keduanya bukanlah buah angkara, melainkan takdir yang diliputi kutukan dan cinta.

Ujian demi ujian pun diberikan melalui para penjaga alam baka. Namun keteguhan, keberanian, dan keikhlasan Bima akhirnya mampu meluluhkan hati sang penguasa akhirat. Atma Pandu dan Dewi Madri pun dibebaskan, menandai kemenangan dharma atas karma.

Sendratari kolosal ini dipersembahkan oleh Sanggar Paripurna dengan moto “Ngwerdiang Budaya, Ngewangun Yowana”, yang bermakna membangkitkan budaya sekaligus membangun generasi muda.

Nama “Paripurna” sendiri dimaknai sebagai tekad untuk berkesenian secara utuh, ngajegang tradisi, ngelestariang kearifan lokal, serta ngupapira generasi muda agar tetap berakar pada budaya leluhur.

Kepala Dinas Kebudayaan Gianyar, I Wayan Adi Prabawa, Kamis (16/4) mengatakan, melalui pementasan ini, pihaknya tak hanya menghadirkan tontonan berkualitas, tetapi juga menegaskan komitmennya dalam merawat denyut seni tradisi Bali di tengah perkembangan zaman. 

"Di tengah semaraknya kegiatan budaya, sendratari ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup dan relevan, mengalir dari panggung ke hati setiap penonton," ujarnya.

Tak hanya itu, melalui pementasan yang mengandung nilai filosofis tentang kehidupan, pihaknya ingin mengajak masyarakat Bali, akan kembali memahami makna kehidupan, hukum karma dan hal lainnya.

"Kami akan terus menyuguhkan tontonan yang penuh makna dalam setiap kesempatan. Sebab selain memberikan hiburan, pagelaran seni juga sebagai wadah edukasi," ujarnya. (weg)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.