TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Gedung Siola di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, menjadi bukti nyata perjalanan panjang kota ini, mulai dari pusat perdagangan modern era kolonial, saksi pertempuran 1945, hingga kini bertransformasi sebagai pusat layanan publik dan museum kota, Kamis (16/4/2026).
Berdasarkan sumber Disbudporapar.surabaya.go.id, Gedung Siola yang berada di Jalan Tunjungan telah menjadi salah satu bangunan ikonik sejak awal 1900-an.
Pada masa sebelum kemerdekaan, bangunan ini dikenal sebagai toko serba ada milik perusahaan ritel Inggris Whiteaway Laidlaw & Co, dengan nama “Whiteaway Laidlaw.”
Gedung ini merupakan pusat pertokoan terbesar di Hindia Belanda pada masanya.
Kawasan Jalan Tunjungan dikenal sebagai area elite tempat warga Belanda berbelanja berbagai kebutuhan dengan harga tinggi, sehingga hanya dapat dijangkau kalangan tertentu.
Dalam memoarnya, Hario Kecik menggambarkan suasana Tunjungan sebagai pusat perbelanjaan mewah dengan deretan toko eksklusif.
Hal serupa juga disampaikan oleh penyiar radio asal Australia, Frank Clune, yang menyebut kawasan tersebut sebagai pusat belanja paling trendi di Asia, lengkap dengan toko buku multibahasa hingga penjual barang seni dan tas kulit berkualitas tinggi.
Dikutip dari TribunJatim.com, gedung ini pertama kali dibangun pada tahun 1877 oleh investor asal Inggris, Robert Laidlaw.
Bangunan tersebut awalnya bernama “Het Engelsche Warenhuis” atau Toko Serba Ada Inggris dan menjadi bagian dari jaringan ritel besar dunia saat itu.
kejayaan bisnis Whiteaway Laidlaw berakhir pada tahun 1935 seiring meninggalnya sang pendiri.
Setelah itu, gedung diambil alih oleh pengusaha Jepang dan berganti nama menjadi Toko Chiyoda.
Toko ini dikenal sebagai pusat penjualan tas dan koper terbesar di Surabaya kala itu.
Popularitasnya bahkan memicu tumbuhnya toko-toko serupa di kawasan sekitar, seperti di Jalan Gemblongan dan Jalan Praban.
Baca juga: Sejarah Ponpes Banyuanyar, Dari Sumber Air Baru hingga Jadi Pusat Pendidikan Islam di Madura
Memasuki masa perjuangan kemerdekaan, gedung ini memiliki peran penting dalam sejarah pertempuran Surabaya.
Gedung Siola dijadikan titik pertahanan rakyat untuk mengadang pasukan Inggris.
Dalam peristiwa tersebut, tercatat aksi heroik seorang pemuda bernama Madun.
Madun memberikan tembakan perlindungan seorang diri menggunakan senapan mesin untuk menahan serangan musuh, sehingga rekan-rekannya dapat menyelamatkan diri. Namun, Madun gugur setelah serangan udara Inggris menghantam lokasi tersebut.
Jasanya kini dikenang melalui sebuah patung yang berada di kawasan Siola.
Sementara itu, serangan udara yang dilakukan secara intens menyebabkan kerusakan parah pada bagian depan gedung.
Pada November 1945, gedung ini menjadi markas pertahanan rakyat Surabaya dan menjadi sasaran tembakan tank pasukan sekutu hingga terbakar dan rusak berat.
Baca juga: Sejarah dan Filosofi Keris, Dari Senjata Pusaka hingga Warisan Dunia UNESCO
Pasca perang, gedung sempat terbengkalai hingga akhirnya pada tahun 1950 diambil alih pemerintah dan menjadi aset Pemerintah Kota Surabaya.
Pada tahun 1960 lima pengusaha yakni Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem, dan Aang mengontrak serta merenovasi gedung tersebut menjadi pusat grosir modern bernama Siola, akronim dari nama mereka.
Siola kemudian berkembang menjadi salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan dianggap sebagai “mall” pertama di Surabaya.
Kejayaannya berlangsung selama kurang lebih 28 tahun sebelum akhirnya tutup pada tahun 1998 akibat persaingan dengan pusat perbelanjaan modern lainnya.
Setelah sempat difungsikan sebagai Tunjungan Center dan Ramayana Department Store pada 1999 hingga 2008, gedung ini kembali dikelola Pemerintah Kota Surabaya.
Pada tahun 2015, di bawah kepemimpinan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Gedung Siola diubah menjadi Museum Surabaya sekaligus Mall Pelayanan Publik.
Kini, meskipun telah mengalami berbagai perubahan fungsi, Gedung Siola tetap menjadi landmark penting di Jalan Tunjungan dan simbol sejarah panjang perdagangan serta perjuangan Kota Surabaya.
Baca juga: Dari Upacara Adat ke Panggung Dunia, Begini Jejak Sejarah Panjang Angklung