Menyoal Pernyataan Jusuf Kalla: Kontroversial Makna Syahid dan Mati Konyol
Abdul Azis Alimuddin April 17, 2026 01:22 AM

Oleh: Mahcmud Suyuti
Dosen Hadis UIM

TRIBUN-TIMUR.COM - JK, Jusuf Kalla dalam pekan terakhir ini menuai sorotan karena pernyataannya tentang mati syahid.

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 itu saat ceramah Ramadan di masjid kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta (5/3) melontarkan opini bahwa definisi syahid dalam konsep Islam dan Kristen sama.

Menurut JK, Islam dan Kristen sependapat bahwa mati atau menewaskan orang atau mematikan yang tidak seagama adalah syahid.

Pernyataan JK sebulan lalu itu baru saat ini menjadi viral di medsos bersamaan dengan viralnya kritikan terhadap JK.

Membunuh Kristen bagi muslim adalah syahid.

Sebaliknya membunuh muslim bagi non-muslim adalah syahid dan pelakunya masuk surga.

Dengan pernyataan ini, maka sejumlah ormas dan lembaga keagamaan Kristen khususnya GAMKI, Gerakan Angkatan Muda Kristen justru telah melaporkan JK di Polda Metro Jaya (12/4) terkait dugaan penistaan agama.

Ketua Umum GAMKI, Sahat Sinurat dalam laporannya menyatakan bahwa agama Kristen tidak pernah mengajarkan membunuh orang Islam akan syahid masuk surga.

Agama Kristen mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia bahkan musuh sekalipun, tegas Sahat Sinurat.

Jihad: Jangan Mencari Musuh

Al-Qur’an memerintahkan untuk berperang, dan perang yang dimaksudkan adalah jihad.

Ditemukan pula hadis-hadis yang memerintahkan untuk berjihad, namun jihad yang dimaksud tidak identik teroris dengan iming-iming mati syahid yang pahalanya surga.

Nabi SAW bersabda “La tamannsuw liqa’al aduww” (HR. Bukhari/2621) yang artinya “Jangan kalian berharap-harap mencari musuh”.

Pelarangan mencari musuh dimaksudkan bila situasi aman di mana gerak dakwah Islamiyah tidak diperangi.

Tetapi, justru pada beberapa kasus ada umat yang secara nyata memerangi orang-orang dianggap sebagai musuhnya dengan dalih jihad dan berharap ingin mendapatkan mati syahid.

JK mencontohkan kasus konflik Poso dan Ambon awal tahun 2000-an umat Islam dan Kristen bermusuhan.

Pelaku jihad masing-masing agama yang berbeda memegang doktrin terbunuh dalam jihad adalah syahid.

Setelah konflik tersebut, muslim dan non-muslim hidup rukun dan damai maka doktrin yang tadi tidak berlaku lagi.

Doktrin membunuh dan bunuh diri dalam kondisi kondusif masing-masing agama bersikap moderat, mengutamakan moderasi beragama.

Karena itu jihad terhadap non-muslim tidak selamanya harus dikonotasikan perang saling membunuh satu sama lain untuk menjadi syahid.

Bunuh Diri Pelaku Teroris

Apakah orang yang berani terjun ke medan perang sama dengan bunuh diri?

Jawabnya, bunuh diri adalah tindakan atau perbuatan yang kalau dilakukan maka pasti nol persen peluangnya untuk dapat hidup.

Bagi teroris, menyerang musuh seraya mengikatkan di badan bahan peledak (bom) pasti itu adalah bunuh diri karena tak lagi ada peluang sedikit pun untuk mempertahankan hidup dan 100 persen pasti mati.

Sebaliknya, pasukan jihad yang maju ke medan perang, tentu tidaklah dengan prinsip bahwa ia pasrah menyerahkan dirinya untuk mati di hadapan musuh.

Jadi, bagi pelaku jihad, jika ia mati adalah syahid dan surga pahalanya.

Sedang pelaku teroris, singkat cerita, matinya pasti konyol karena ia bunuh diri yang berakibat neraka.

Khalid Ibn Walid, salah seorang sahabat Rasulullah SAW, mantan panglima dikenal sangat berani dalam memimpin perang, bahkan juga dikenal sangat ingin mati syahid di perang.

Tetapi, Khalid bersedih ketika berbaring sakit di pembaringannya karena menyadari sakitnya itu akan membawanya kepada umatnya, kenapa ia tidak syahid di pertempuran.

Sebenarnya apa sulitnya bagi Khalid yang terkenal sangat berani itu untuk menyerahkan tubuhnya menjadi sasaran pedang musuhnya, lalu ia menjadi syahid.

Namun tindakan itu tidak dilakukannya karena tindakan tersebut termasuk mati konyol.

Di sinilah pentingnya memahami antara mati syahid dan mati konyol.

Dengan begitu, wajar jika JK menyatakan bahwa kalian yang berkonflik ini bukan masuk surga.

Anda semua akan masuk neraka jika saling membunuh, bukan masuk surga karena tidak ada agama yang mengajarkan untuk bertindak demikian.

Tegas JK dalam ceramahnya yang lagi viral.

Jadi apa yang diceramahkan JK di UGM (5/3) sesuai dengan realitas saat terjadi konflik antar umat beragama.

Saat dan setelah konflik terjadi, JK justru dalam berbagai pernyataannya selalu menyerukan perdamaian.

JK bahkan turun gunung untuk mendamaikan pelaku konflik.

JK dikenal sebagai juru damai dan maestro rekonsiliasi yang berperan aktif meredakan konflik seperti yang terjadi di Poso, Maluku dan Aceh.

JK telah berhasil merumuskan perjanjian Malino yang mengusung perdamaian.

JK pernah diminta oleh Hamas untuk menjadi juru damai Israel.

Peran JK sampai saat ini sangat aktif memberikan masukan perdamaian di Timur Tengah, khususnya dalam menanggapi konflik antara Iran, Israel dan Amerika Serikat.

Apa yang diperankan JK sesungguhnya membawa misi ajaran Islam sebagai agama damai dan sebagai rahmat untuk semua manusia (QS. al-Anbiya/21:107).

Ajaran semua agama samawi pada dasarnya sama yakni untuk membawa perdamaian bagi seluruh umat manusia.

Kesimpulannya, berkeyakinan bahwa berkonflik dengan jargon agama sebagai alasan untuk mati syahid perlu diluruskan.

Mati syahid itu, jika terjadi di medan jihad.

Namun jika terjadi di medan konflik dengan alasan agama adalah mati konyol.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.