TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Laju pertumbuhan investasi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Data dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) mencatat realisasi investasi mencapai Rp 2,6 triliun.
Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berada di kisaran Rp 2,4 triliun, menandakan adanya peningkatan kepercayaan investor terhadap potensi ekonomi daerah yang dikenal sebagai Kota Pisang tersebut.
Pejabat Fungsional Pengolahan Penanaman Modal Ahli Madya Dinas PMPTSP Lumajang, Abdul Munir, menjelaskan mayoritas investasi masih berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Baca juga: Pungli Tumpak Sewu Lumajang, Polisi Panggil BUMDes dan Pengelola, Belum Tetapkan Tersangka
“Didominasi penanaman modal dalam negeri dengan nilai investasi sebesar Rp2,5 triliun,” ujar Munir, Kamis (16/4/2026).
Kontribusi penanaman modal asing (PMA) tercatat sekitar Rp 53,95 miliar. Secara keseluruhan, investasi tersebut tersebar di 407 unit usaha di berbagai sektor.
Sektor Perdagangan hingga Industri Kayu Mendominasi
Munir menyebutkan, sektor perdagangan dan reparasi menjadi penyumbang terbesar investasi di Lumajang sepanjang 2025.
“Sektor perdagangan dan reparasi mencapai Rp 912,2 miliar. Sementara industri kayu Rp841,7 miliar dan industri makanan Rp 580,3 miliar,” jelasnya.
Baca juga: Kades Pakel Lumajang Diserang Belasan Orang, Ini Kronologi dan Pengakuan Korban
Dominasi sektor ini menunjukkan aktivitas ekonomi berbasis perdagangan dan industri pengolahan masih menjadi tulang punggung investasi daerah.
Seiring tren positif tersebut, target investasi tahun 2026 dinaikkan menjadi Rp 2,8 triliun. Hingga triwulan pertama, realisasi investasi sudah mencapai Rp 1,2 triliun.
Hal ini menunjukkan optimisme pemerintah daerah terhadap pertumbuhan investasi yang berkelanjutan.
Baca juga: Kades Pakel Lumajang Digebuki 10 Orang di Rumahnya Hingga Masuk RS
Selain sektor utama, pemerintah juga melihat potensi besar dari sektor pariwisata. Salah satu kawasan yang mulai dilirik adalah Selo Kambang, yang dinilai memiliki prospek pengembangan wisata terintegrasi.
“Terutama di Selo Kambang, mudah-mudahan ini ada investor yang masuk. Karena prospeknya bagus, apalagi dibuat pariwisata paket sampai di Bromo,” kata Munir.
Pengembangan fasilitas pendukung seperti penginapan dan transportasi wisata menuju kawasan Senduro juga diyakini dapat meningkatkan daya tarik investasi sekaligus kesejahteraan masyarakat lokal.
“Kemudian ada armada khusus road show wisata ke arah Senduro. Itu mungkin bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lumajang,” tambahnya.