Alarm Campak di Cirebon! RSD Gunung Jati Terima 50 Pasien, 2 Meninggal Dunia
Dwi Yansetyo Nugroho April 17, 2026 12:11 PM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Alarm kewaspadaan penyakit campak di RSD Gunung Jati Cirebon kian menguat.

Dalam tiga bulan terakhir, rumah sakit rujukan tersebut mencatat sekitar 50 pasien harus menjalani perawatan intensif, bahkan dua di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Direktur Utama RSD Gunung Jati, dr Katibi mengungkapkan, bahwa pihaknya saat ini berada di garda terdepan sebagai penerima rujukan kasus campak dari berbagai fasilitas kesehatan.

Baca juga: Bongkar Rel Kuno Sukalila, PT KAI dan Wali Kota Cirebon Dilaporkan ke Polisi


“Sampai saat ini, rumah sakit berposisi sebagai penerima rujukan. Rujukan yang datang ke Rumah Sakit Gunung Jati itu melalui dua pintu, yaitu pintu IGD atau pelayanan gawat darurat, dan pintu rawat jalan,” ujar Katibi, saat diwawancarai di RS setempat, Jumat (17/4/2026).

Ia menjelaskan, jumlah pasien dari jalur rawat jalan relatif kecil dibandingkan IGD.

Dalam periode Januari hingga pertengahan April, total hanya enam pasien yang masuk melalui layanan tersebut.

“Untuk tiga bulan terakhir dari rawat jalan, Januari ada 3 pasien, Februari 0 pasien, Maret 2 pasien dan April sampai tanggal 16 ada 1 pasien. Total rujukan dari rawat jalan kurang lebih ada 6 pasien,” ucapnya.

Baca juga: Skandal Kredit BPR Cirebon Memanas, Tak Berhenti di 3 Tersangka, Nama Baru Berpotensi Muncul


Sebaliknya, lonjakan signifikan terjadi di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Puluhan pasien datang dengan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut hingga dirawat inap.

"Untuk yang dari IGD, jumlahnya relatif lebih besar dibanding dari rawat jalan. Januari 26 pasien, Februari 19 pasien, Maret 5 pasien. Jadi totalnya kurang lebih sekitar 50 pasien sampai tanggal 31 Maret,” jelas dia.

Menurutnya, angka tersebut baru menggambarkan kasus yang telah sampai di rumah sakit rujukan.

Baca juga: NASKAH Khutbah Jumat Hari Ini 17 April 2026: Bersiap Diri Menghadapi Ajal yang Pasti Tiba


Ia menduga jumlah sebenarnya di masyarakat jauh lebih besar.

“Kalau sudah sampai ke rumah sakit rujukan saja sebesar itu, kemungkinan di Puskesmas atau fasilitas pelayanan tingkat pertama jumlahnya bisa jauh lebih banyak, dan mungkin juga di masyarakat jumlahnya lebih banyak lagi,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pihak rumah sakit telah menyiapkan berbagai upaya, mulai dari penguatan sumber daya manusia hingga sarana prasarana, termasuk ruang isolasi di setiap gedung.

“Kami menyiapkan tata laksana secara memadai, baik dari sisi SDM maupun sarana prasarana, baik di IGD, rawat jalan, maupun rawat inap. Di rawat inap, kami menyediakan ruang isolasi supaya proses penularan intra-hospital bisa diminimalisir,” ujarnya.

Baca juga: Mega Proyek Tol Terpanjang di Indonesia Terhenti? Nasib Rp56 Triliun Jadi Sorotan


Sementara itu, dokter spesialis anak RSD Gunung Jati, dr Suci Saptyuni Permadi mengungkapkan, bahwa pasien campak yang dirawat umumnya sudah dalam kondisi berat dan disertai komplikasi.

“Rawat jalan memang sedikit karena memang tidak semua campak harus dirawat. Jadi memang ada beberapa indikasi rawat, misalnya demam tinggi, dehidrasi, atau sudah ada komplikasi,” ucap Suci.

Ia menyebutkan, komplikasi yang paling sering ditemukan saat ini adalah bronkopneumonia atau radang paru.

“Komplikasi yang sering kami terima adalah bronkopneumonia, otitis media, sepsis, ensefalitis dan miokarditis. Saat ini yang paling banyak dirawat adalah karena bronkopneumonia,” jelas dia.

Baca juga: Bongkar Rel Kuno Sukalila, PT KAI dan Wali Kota Cirebon Dilaporkan ke Polisi


Menurut dr Suci, kondisi berat umumnya terjadi pada pasien dengan faktor risiko tertentu, terutama yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap.

“Biasanya terjadi pada pasien yang tidak diimunisasi atau imunisasinya kurang lengkap, serta memiliki faktor risiko lain seperti gizi buruk atau kelainan bawaan,” katanya.

Ia juga mengungkapkan, bahwa dalam beberapa bulan terakhir terdapat pasien yang harus dirawat di ruang intensif.

"Kami mendapatkan pasien yang sampai gawat, yang dari ruang isolasi dipindahkan ke ruang intensif itu ada empat pasien,” ujarnya.

Baca juga: Jadwal SIM Keliling di Indramayu Hari Ini 17 April 2026, di Tugu KB Singaraja dan Desa Juntikebon


Lebih memprihatinkan lagi, dua kasus kematian turut tercatat dalam periode tersebut.

“Ada dua pasien yang meninggal, satu dari kabupaten dan satu dari Kota Cirebon. Keduanya memiliki kondisi pemberat dan tidak diimunisasi secara lengkap,” ucap Suci.

Melihat kondisi ini, dr Suci menegaskan pentingnya imunisasi sebagai langkah utama pencegahan penyebaran campak di masyarakat.

“Anak wajib diimunisasi dan dilakukan screening dari usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun,” jelas dia.

Baca juga: Jadwal SIM Keliling di Cirebon Hari Ini 17 April 2026, Ada di RSUD Waled dan Desa Bodelor


Ia mengingatkan, bahwa campak bukan sekadar penyakit ringan, melainkan infeksi virus yang dapat menyerang berbagai organ tubuh dan berujung fatal jika tidak ditangani dengan tepat.

“Karena ini merupakan virus, jadi memang bisa menyerang dari atas sampai bawah. Penanganannya harus serius dan menyeluruh,” katanya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.