Curhat Mahasiswi Exchange Usai Baca Chat dari Guru Besar Unpad, Kesal Diminta Kirim Foto Bikini
Ardhi Sanjaya April 17, 2026 12:17 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Mahasiswi program pertukaran dari luar negeri menulis curhatan setelah menerima chat dari guru besar Fakultas Keperawatan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

Ia sama sekali tak menyangka, chat yang awalnya hanya sapaan berujung pada permintaan tidak pantas dari seorang pengajar.

Ditambah lagi, guru besar tersebut juga sudah memiliki anak dan istri.

Isi chat guru besar Unpad ke mahasiswi luar negeri menjadi viral di media sosial.

Dalam chatnya, pelaku meminta mahasiswi mengirimkan foto tak senonoh padanya.

"Saya butuh fotomu saat berenang di pantai Phuket. Memakai bikini," tulis guru besar Unpad.

"Hi, aku rindu kamu, gimana kabarnya ?" tulis guru besar.

Saat berbincang, si guru besar ini tetap menagih foto mahasiswi.

"Aku masih menunggu style bikinimu," katanya.

Direktorat Perlindungan Perempuan dan Anak Polda Jabar akan melakukan penyelidikan dugaan kekerasan seksual tersebut. 

"Iya akan lidik," ujar Direktur Direktorat PPA Polda Jabar, AKBP Rumi Utari.

Setelah menerima chat tersebut, mahasiswi asal luar negeri ini menulis curhatan.

Baca juga: 16 Mahasiswa FH UI Dinonaktifkan Sementara Terkait Dugaan Pelecehan Seksual, Ini Penjelasan Kampus

Dia menjelaskan awalnya guru besar Unpad mengirim pesan lewat direct message Instagram.

"Sebenarnya dia mengirim DM ke aku di Instagram hari sabtu, dia cuma menulis Hi. Dan aku membalas Hi," katanya.

Ia menjelaskan maksud memberi balasan untuk mengetahui isi pembicaraan selanjutnya.

"Jujur cuma untuk lihat dia mau ngomong apa, tapi aku akan memblokirnya. Tapi setelah itu tidak ada kabar lagi dari dia. Aku kira aku sudah memblokirnya di Instagram saat aku masih di Indonesia," katanya.

Si mahasiwi langsung melaporkan ke dosen lain.

Baca juga: Respon Terduga Pelaku Usai Grup Chat Pelecehan Seksual Mahasiswa IPB Viral, Ketar-ketir Chat Korban

"Aku juga sudah menyampaikan pesan itu ke dosen lain dan menunjukan chatnya ke mereka. Mereka bilang akan berhenti menggunakan dia sebagai akomodasi untuk mahasiswa exchange," katanya.

Dia mengatakan bahwa guru besar Unpad ini sudah melakukan hal yang salah.

Terlebih lagi, pelaku sudah memiliki anak dan istri.

"Tapi tidak apa-apa kalu kamu mau menggunakannya karena aku tahu dia sudah melakukan hal yang salah, meminta orang mengiri foto bikini, bilang dia merindukanku, itu sangat aneh dan tidak profesional. Apalagi dia sudah punya istri dan anak," tulisnya.

Perihal kasus ini, Rektor Unpad Prof Arief Sjamsulaksan Kartasasmita menegaskan, kampus tidak menoleransi segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual, dalam bentuk apa pun di lingkungan kampus.

Menyikapi dinamika yang berkembang saat ini, Unpad telah melakukan berbagai penelusuran. 

Setelah menerima laporan secara lengkap, pada hari yang sama Unpad segera mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara dosen yang bersangkutan dari seluruh kegiatan akademik. 

Selanjutnya, Unpad langsung menjalankan prosedur penanganan dugaan kekerasan seksual sesuai dengan peraturan yang berlaku, dimulai dengan pembentukan tim investigasi untuk melakukan penelusuran secara obyektif dan menyeluruh dengan melibatkan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) Unpad dan unsur senat fakultas. 

Dalam hal ini Unpad berkomitmen, apabila dalam proses investigasi terbukti adanya pelanggaran berupa tindakan kekerasan seksual, Universitas Padjadjaran akan menjatuhkan sanksi sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 

Baca juga: Terbongkar Chat Grup Tak Senonoh Mahasiswa IPB Mirip FH UI, Pihak Kampus Speak Up Soal Isu Pelecehan

"Unpad akan konsisten melakukan proses pembuktian dan penindakan kekerasan sesuai dengan perundang-undangan dan memprioritaskan kepentingan dan keselamatan pihak yang menjadi korban. Itu berlaku untuk semua warga Unpad, termasuk dosen, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan," ungkap Rektor Unpad, Prof Arief Sjamsulaksan Kartasasmita. 

Di luar kasus tersebut, Unpad menekankan bahwa penanganan tindakan kekerasan seksual perlu ditangani dengan penuh kehati-hatian. 

"Unpad akan selalu memperhatikan prosedur pembuktian dengan saksama melalui perangkat yang ada agar tidak menimbulkan keputusan yang keliru, walaupun titik keberpihakan Unpad adalah kepada korban," tegas Rektor. 

https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.