Pemda DIY Dorong Bandara YIA Layani Penerbangan Umrah Langsung
Joko Widiyarso April 17, 2026 01:14 PM

 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong pengembangan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kabupaten Kulon Progo agar tidak sekadar menjadi titik embarkasi dan debarkasi haji, melainkan juga melayani penerbangan umrah secara langsung di masa mendatang. 

Selain optimalisasi bandara, Pemda DIY juga mengevaluasi fungsi sejumlah aset daerah di Kulon Progo agar dapat memberikan kontribusi ekonomi yang lebih optimal.

Hal ini menjadi fokus utama dalam rangkaian kunjungan kerja Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, ke Kabupaten Kulon Progo, pada Selasa (14/4/2026) lalu. 

Dalam kunjungan tersebut, Ni Made didampingi oleh ketiga Asisten Setda DIY, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, serta Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda DIY.

Kunjungan kerja diawali dengan pertemuan bersama General Manager (GM) Bandara Internasional Yogyakarta yang baru bertugas, Muhammad Thamrin.

Agenda utama yang dibahas adalah koordinasi persiapan pelaksanaan embarkasi haji perdana dari DIY yang dijadwalkan berlangsung pada 21 April 2026 mendatang, sekaligus menjajaki peluang pengembangan YIA untuk layanan perjalanan ibadah umrah.

Terkait wacana tersebut, Ni Made memproyeksikan adanya integrasi antara penerbangan umrah dengan paket wisata mancanegara.

"Umrahnya ini bisa nanti ada kaitannya mungkin dengan direct/langsung. Kemudian menjalin kerja sama dengan pihak yang mengelola paket-paket wisata di mana gitu yang di luar negeri, sehingga kemudian bisa langsung. Misalnya umrah habis itu mau ke Turki atau mau ke mana gitu. Ini cuman inisiasi saja. Baru cerita-cerita bagaimana ke depan itu mengembangkan Bandara YIA tidak hanya sebagai embarkasi-debarkasi haji, tetapi bagaimana ke depan untuk umrahnya itu juga bisa," ungkap Ni Made.

Gagasan ini mendapat dukungan penuh dari pihak GM Bandara Internasional Yogyakarta yang berkomitmen mengoptimalkan YIA sebagai bandara embarkasi-debarkasi haji. Ni Made meyakini kelancaran rencana ini sangat bergantung pada sinergi antarinstitusi.

"Hubungan baik, kerja sama yang baik, kolaborasi yang baik gitu dengan YIA ataupun pemerintah daerah Ini menjadi bagian penting untuk pengembangan ke depan," kata Ni Made.

Evaluasi Aset Pelabuhan hingga Agrowisata

Setelah berkoordinasi di YIA, agenda kunjungan dilanjutkan dengan pemantauan langsung ke Pelabuhan Tanjung Adikarto.

Di lokasi ini, jajaran Pemda DIY meninjau kelayakan aset untuk menentukan apakah fasilitas tersebut masih dapat dipertahankan sebagai pelabuhan kelautan atau perlu dialihfungsikan akibat kendala alam.

"Supaya ini bisa optimal. Jadi banyak teknis yang kita diskusikan di situ. Karena kan sedimentasinya cukup tinggi ya, cukup besar. Jadi untuk optimal pemanfaatannya juga ini yang mungkin menjadi bagian penting ke depan yang perlu kita lihat. Apakah ini tetap bisa menjadi pelabuhan atau mungkin ada pemanfaatan atau fungsi-fungsi lain untuk itu. Jadi banyak hal ya karena namanya juga alam. Perlu ada rekayasa tertentu untuk kemudian itu bisa menjadi optimal," jelas Ni Made.

Rombongan kemudian beranjak menuju Unit Kerja Tambak UPTD Balai Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura yang berada di bawah naungan DPKP DIY. Peninjauan difokuskan pada proses pembenihan kelapa kopyor serta ragam benih tanaman berkualitas tinggi lainnya.

"Saya kira ini juga akan menjadi satu potensi kita untuk mengembangkan DIY sebagai pusat pembenihan. Kemudian juga penyediaan produk-produk pertanian yang berkualitas," tutur Ni Made saat mengamati hasil pembenihan.

Sebagai titik akhir rangkaian kunjungan, Ni Made mendatangi Jogja Agro Park (JAP) yang berlokasi di Desa Wijilan, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo. 

JAP merupakan kompleks terpadu berskala luas yang mengintegrasikan fasilitas agribisnis dan agrowisata (agrotourism) sebagai media edukasi pertanian masyarakat.

"JAP sekarang luar biasa bagus ya. Sudah banyak perbaikan-perbaikan yang ada di sana. Banyak yang bisa kita lihat dan kita pelajari. Tidak hanya bicara masalah tanaman semata ya, juga ada edukasi-edukasi kepada masyarakat, baik siswa-siswa maupun pengunjung yang pengen tahu aja terkait dengan tanaman ataupun dengan ternak," papar Ni Made.

Dalam kesempatan tersebut, Pemda DIY turut menyoroti pentingnya kreativitas dan inovasi dalam aspek pemasaran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pertanian lokal di kawasan JAP. Kesesuaian harga dan regulasi penjualan menjadi catatan tersendiri agar aset ini mampu memberikan nilai tambah ekonomi.

"Kita tadi lihat produk-produknya bagus. Menjualnya juga mungkin kita perlu menyesuaikan dari peraturan-peraturan yang sudah ada. Saya kira ini mungkin menjadi titik awal kita melihat atau mereview lagi aturan-aturan yang kemudian bisa menjadi optimal, dalam artian bisa mendatangkan tambahan pendapatan juga bagi daerah," tutup Ni Made.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.