TRIBUNNEWS.COM - Kematian dua balita karena campak di Cirebon, Jawa Barat jadi peringatan serius bagi sistem kesehatan nasional.
Kasus ini mengingatkan pentingnya imunisasi dan kewaspadaan terhadap penyakit menular anak.
Sebelum dinyatakan meninggal dunia, kedua balita tersebut sempat mengalami gejala awal seperti demam dan sesak napas hingga dirawat di ICU.
Dokter Suci Saptyuni Permadi, dokter spesialis anak di RSD Gunung Jati Cirebon mengatakan, sebelum meninggal, pasien datang ke rumah sakit dengan gejala umum yang dianggap ringan oleh masyarakat, demam disertai sesak napas.
"Pasien itu datang dengan keluhan demam, disertai sesak napas tinggi, kemudian keluar ruam,"
"Pasien tersebut kemudian kami rawat di ruang perawatan biasa karena awalnya belum terlalu sesak," ujar dr Suci saat diwawancarai TribunJabar.id.
Setelah dirawat, kondisi pasien belum juga stabil.
Dalam waktu singkat, kondisi balita tersebut justru makin menurun hingga harus dirawat di ruang PICU.
“Dalam perjalanannya didapatkan sesak yang berat, pasien dipindahkan ke ruang PICU,” ucapnya.
Ruang PICU atau Pediatric Intensive Care Unit merupakan ruang perawatan intensif khusus rumah sakit untuk bayi hingga remaja dengan kondisi kritis, penyakit serius atau pasca operasi berat yang mengancam nyawa.
Pasien balita berinisial D asal Kota Cirebon tersebut kondisinya menurun drastis.
Baca juga: Kemenkes: Stok Vaksin Campak Dewasa Tersedia Cukup di Seluruh Indonesia
Tak sampai 24 jam di rumah sakit, pasien sudah dinyatakan meninggal dunia.
“Khusus untuk anak D, masuk ke PICU bulan Maret dari IGD,"
"Penurunannya sangat cepat, tidak sampai 24 jam di rumah sakit sudah meninggal. Jadi kurang lebih hanya satu hari perawatan,” jelas dia.
Ia menuturkan, kondisi korban diperparah dengan adanya penyakit bawaan dan komplikasi serius akibat virus campak.
"Ada kelainan jantung dan meningoensefalitis. Jadi kami rawat bersama dengan dokter neurologi anak," katanya.
Kasus serupa juga dialami pasien balita berinisial K asal Kabupaten Cirebon.
“Yang dari kabupaten juga sama. Masuk ruangan dulu, kemudian leukositnya meningkat, sesaknya berat, lalu dirujuk ke ICU dan meninggal. Kejadiannya baru bulan April ini,” ucap dr Suci.
Pasien K ini kondisinya memburuk karena masalah gizi.
“Yang dari kabupaten itu berat badannya hanya sekitar 5 kilogram di usia kurang satu tahun. Jadi memang ada faktor pemberat,” jelas dia.
Suci pun menegaskan bahwa imunisasi menjadi faktor penting untuk mencegah kondisi berat pada pasien anak.
Ia menuturkan, saat ini ada pasien rawat jalan yang mengalami gejala ringan karena sudah divaksin.
"Nah, ini penting. Kita punya data pasien rawat jalan sekitar 6 orang,"
"Mereka ini hanya mengalami gejala ringan karena sudah divaksin. Jadi kalau sudah vaksin, biasanya tidak perlu rawat inap," ujarnya.
Ia pun mengingatkan bahwa orang tua jangan mengabaikan jadwal imunisasi yang ditetapkan, yakni usia 9 bulan dan 18 bulan.
"Vaksin campak diberikan usia 9 bulan, diulang 18 bulan, kemudian diulang lagi saat usia sekolah dasar dalam program BIAS."
Baca juga: Penyakit Campak dan Polio Bangkit Lagi, IDAI Singgung Cakupan Imunisasi
"Jadi totalnya tiga kali. Jangan ditolak ya kalau ada vaksinasi di sekolah," ucap dr Suci.
Meningkatnya kasus campak di Jabar ini membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat menginstruksikan kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (Faskes) untuk memperketat pengawasan terhadap kasus campak.
Kepala Dinkes Jabar, VIni Adiani Dewi menuturkan, bagi faskes yang menemukan ada gejala campak, protokol penanganan bisa segera dilakukan.
Protokol tersebut termasuk isolasi, pemberian vitamin dan nutrisi, hingga edukasi.
Mengutip TribunJabar.id, ia juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dengan mengecek status imunisasi keluarga.
"Segera lengkapi imunisasi di Posyandu, Puskesmas, atau fasilitas kesehatan terdekat jika belum lengkap," pesannya.
Dokter Suci juga mengatakan bahwa virus campak tak hanya menyerang balita atau anak-anak saja, namun juga remaja.
"Ada, trennya sekarang mulai menyasar remaja usia 15 sampai 17 tahun. Biasanya tertular dari adiknya yang masih kecil di bawah 9 bulan yang belum divaksin," ujar dr Suci, ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Mengutip TribunJabar.id, meski remaja sudah divaksin, tetap berisiko tertular oleh adiknya yang terinfeksi virus.
"Kakaknya yang sudah vaksin tetap bisa kena karena paparan virus yang kuat dari adiknya, tapi gejalanya biasanya tidak parah," ucapnya.
Pasien remaja tetap mendapatkan perawatan intensif apabila gejalanya memburuk.
“Namun, mereka tetap harus dirawat jika ada demam tinggi atau asupan makan yang kurang,” jelas dia.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunJabar.id, Eki Yulianto)