TRIBUNNEWS.COM - Pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo XIV melontarkan kritik tajam terhadap para pemimpin dunia saat mengunjungi Bamenda, wilayah konflik di Kamerun barat.
Al Jazeera melaporkan, kunjungan ini merupakan bagian dari tur Afrika di tengah meningkatnya ketegangan global akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Di hadapan tokoh lintas agama dan masyarakat lokal, Paus menyoroti bagaimana konflik bersenjata dan eksploitasi sumber daya terus memperdalam krisis kemanusiaan.
“Dunia sedang dihancurkan oleh segelintir tiran, namun tetap dipersatukan oleh banyak orang yang saling mendukung,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di Katedral St. Joseph, pusat kegiatan keagamaan di wilayah yang telah dilanda kekerasan selama hampir satu dekade.
Dalam pidatonya, Paus secara khusus menyoroti penggunaan agama sebagai alat legitimasi perang.
“Celakalah mereka yang memanipulasi agama dan nama Tuhan untuk keuntungan militer, ekonomi, dan politik mereka,” katanya.
Ia menegaskan bahwa praktik tersebut telah “menyeret yang suci ke dalam kegelapan dan kekotoran”.
The Guardian melaporkan bahwa pesan ini mencerminkan kritik implisit terhadap narasi yang digunakan sejumlah pihak dalam konflik global, termasuk di Timur Tengah.
Baca juga: Rumah Saudara Paus Leo XIV di Chicago Diteror Bom
Paus juga menyerukan “perubahan arah yang tegas” agar dunia menjauh dari konflik bersenjata dan eksploitasi sumber daya alam.
Komentar Paus muncul hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengkritiknya di media publik.
Trump menanggapi dengan menyatakan bahwa ia menghormati hak Paus untuk berbicara, tetapi tidak setuju dengan pandangannya.
“Saya tidak membantah bahwa Paus bisa mengatakan apa pun, tetapi saya bisa tidak setuju,” kata Trump.
The Washington Post melaporkan, pernyataan Paus ini dipandang sebagai eskalasi retorika dalam perseteruannya dengan Gedung Putih terkait perang Iran.
Trump sendiri menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan menyatakan akan mengambil langkah tegas jika diperlukan.
Pernyataan Paus tidak terlepas dari konteks konflik global yang semakin meluas.
Perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah dan memicu gangguan jalur energi global.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya telah mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi dunia.
Baca juga: Trump Kritik Paus Leo XIV Lagi, Tuduh Iran Bunuh 42 Ribu Demonstran, Ogah Teheran Punya Bom Nuklir
Paus mengkritik bagaimana miliaran dolar dihabiskan untuk perang, sementara kebutuhan dasar seperti pendidikan dan pemulihan justru diabaikan.
Di Kamerun, Paus juga menyoroti konflik separatis di wilayah berbahasa Inggris yang kerap luput dari perhatian dunia.
Konflik sejak 2017 itu telah menewaskan lebih dari 6.000 orang dan memaksa lebih dari 600.000 warga mengungsi.
Ia memimpin pertemuan lintas agama yang melibatkan tokoh adat dan pemimpin gereja untuk mendorong rekonsiliasi.
Kelompok separatis bahkan mengumumkan jeda pertempuran sementara untuk memungkinkan kunjungan Paus berlangsung aman.
Namun, perundingan damai hingga kini masih mengalami kebuntuan, dengan kedua pihak saling menuduh tidak bertindak dengan itikad baik.
Menutup pesannya, Paus menegaskan dunia sedang berada di titik kritis.
Ia menyebut eksploitasi sumber daya yang berujung pada konflik sebagai “dunia yang terbalik” yang harus ditolak.
Paus juga menegaskan dirinya bukan politisi, tetapi akan terus bersuara menentang perang dan mendorong dialog global.
Seruan ini menegaskan posisi Vatikan sebagai salah satu suara moral yang semakin vokal di tengah eskalasi konflik internasional.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)