SURYAMALANG.COM, BANGKALAN - Universitas Trunojoyo Madura (UTM) resmi mengoperasikan layanan transportasi massal UTM Trans guna memperkuat konektivitas antara lingkungan kampus dengan jalur transportasi lintas wilayah, khususnya bagi civitas akademika asal Malang dan sekitarnya.
Melalui operasional empat armada bus dan minibus, layanan ini berfungsi sebagai jembatan penghubung (feeder) menuju halte Bus Trans Jatim di Tanean Suramadu.
Inovasi yang dikelola oleh Badan Pengelola Usaha (BPU) ini tidak hanya hadir sebagai solusi mobilitas bagi dosen dan mahasiswa yang rutin pulang-pergi (PP) lintas kota, tetapi juga menjadi strategi nyata kampus dalam mendukung kebijakan pemerintah pusat terkait efisiensi energi dan penghematan anggaran.
Terdapat empat armada UTM Trans yang terdiri dari dua unit bus dan dua unit minibus elf.
Direktur BPU UTM, Faidal, SE, MM menungkapkan, dua unit bus UTM Trans dipeprsiapkan untuk masing-masing kapasitas penumpang dosen dan mahasiswa di atas 20 orang.
Sementara dua unit minibus elf akan dimaksimalkan untuk kapasitas 15 orang, serta dua unit armada cadangan berupa Toyota Avanza dipersipakan untuk kapasitas penumpang kecil.
Baca juga: Sosok Pelaku Penganiayaan Balita Tewas di Kediri Ternyata Sang Nenek, Polisi Sita Kayu dan Paralon
Dalam peluncurannya dari halaman Gedung Rektorat pada Kamis (16/4/2026), jadwal Shuttle Car UTM Trans terbagi menjadi 6 kloter pemberangkatan dengan 2 shelter (Shelter 1 Pos Polisi Sendang dan Shelter 2 Tanean Suramadu).
Adapun rincian jadwal pemberangkatan dari depan UTM Bakery adalah sebagai berikut:
- Kloter I: Berangkat pukul 08.00 WIB, tiba di Shelter 1 pukul 08.30 WIB, dan tiba di Shelter 2 pukul 09.00 WIB.
- Kloter II: Berangkat pukul 09.30 WIB, tiba di Shelter 1 pukul 10.00 WIB, dan tiba di Shelter 2 pukul 10.30 WIB.
- Kloter III: Berangkat pukul 11.00 WIB, tiba di Shelter 1 pukul 11.30 WIB, dan tiba di Shelter 2 pukul 12.00 WIB (estimasi waktu tempuh 30 menit ke masing-masing shelter).
- Kloter IV: Berangkat pukul 13.00 WIB, tiba di Shelter 1 pukul 13.30 WIB, dan tiba di Shelter 2 pukul 14.00 WIB.
- Kloter V: Berangkat pukul 14.30 WIB, tiba di Shelter 1 pukul 15.00 WIB, dan tiba di Shelter 2 pukul 15.30 WIB.
- Kloter VI: Berangkat pukul 16.00 WIB, tiba di Shelter 1 pukul 16.30 WIB, dan tiba di Shelter 2 pukul 17.00 WIB.
Berdasarkan hasil analisa Tim BPU UTM, Faidal memaparkan, kapasitas penumpang UTM Trans berkisar antara 20-30 orang per hari.
Hal ini dikarenakan banyak dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa yang tidak tinggal di kawasan lingkungan kampus UTM, Desa Telang, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan.
Baca juga: Terminal Arjosari Kota Malang Siap Jadi Titik Layanan Trans Jatim, Jika Ada Penambahan Koridor
Sebaliknya, mereka memilih untuk pulang ke Sidoarjo, Lamongan, bahkan hingga kembali ke Malang.
"Mereka memanfaatkan layanan Bus Trans Jatim. Ketika turun di Tanean Suramadu, dosen meminta jemput ke mahasiswa atau teman" ungkapnya.
"Beberapa fakultas sudah menunjukkan animo tinggi atas keberadaan UTM Trans ini yang nantinya terintegrasi dengan jadwal Bus Trans Jatim," pungkas Faidal yang juga dosen Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UTM.
Transformasi Kampus UTM menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN BLU) sejak 22 Mei 2023 menuntut fleksibilitas pengelolaan keuangan demi meningkatkan pelayanan pendidikan secara responsif, efisien, dan mandiri.
Kehadiran UTM Trans pun disambut positif oleh para pengajar.
"Sangat senang sekali, saya menyambut baik. Kok tidak dari dulu-dulu, karena banyak teman dosen dari Malang. Kalau dikumpulkan satu bus, hanya beda jadwalnya saja," ungkap Dosen Sosiologi FISIB UTM, Arie Prananta.
Meski tinggal di rumah kontrakan Perum Gili Residence, Kecamatan Kamal, dosen asal Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang itu tetap harus pulang setiap selepas Shalat Jumat bersama beberapa dosen lainnya yang berasal dari luar Pulau Madura.
Baca juga: Wali Kota Malang Usulkan Penambahan Koridor Bus Trans Jatim, Demi Maksimalkan Mobilitas Malang Raya
Selama ini, tidak tersedia layanan transportasi massal dengan trayek Kampus UTM menuju halte Bus Trans Jatim di akses Suramadu maupun sebaliknya dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.
"Saya biasanya setiap Senin berangkat dengan bus dari Terminal Arjosari tujuan Bungurasih Surabaya.
Selanjutnya naik Bus Trans Jatim Caraningrat dan turun di Tanean Suramadu," tutur Arie.
Di masa trial ini, Arie memberi masukan agar armada ditambah guna mengantisipasi passenger load factor atau faktor muat penumpang.
"Armada juga bisa datang per 10 menit sehingga semua bisa ter-cover di waktu pagi hari, kalau siang bisa dikurangi," pungkasnya.
Hal senada disampaikan Dosen Manajemen FEB UTM, Yustina Chrismardani asal Sidoarjo. Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya jadwal shuttle car ini.
"Saya biasa PP (pulang-pergi) UTM-Sidoarjo. Tentu adanya UTM Trans sangat membantu mobilitas para dosen termasuk mahasiswa karena biasanya ketika kami turun dari Bus Trans Jatim, tidak ada kendaraan yang melintasi jalur menuju kampus. Banyak dosen dan mahasiswa yang memutuskan PP," ungkapnya.
Yustina berharap kapasitas kendaraan dapat dipertebal di masa mendatang.
"Saya kira animo mahasiswa maupun dosen sangat tinggi, kami ingin ada Shuttle Bus dengan kapasitas yang lebih besar. Semoga bisa terwujud di masa mendatang karena saat ini masih sebatas trial," pungkasnya.
Sebagai PTN BLU, UTM menghadapi tantangan untuk menggali sumber pendapatan secara mandiri melalui inovasi dan kreativitas.
Rektor UTM, Prof Dr Safi', SH, MH, mengungkapkan UTM Trans diharapkan dapat menggantikan penggunaan kendaraan pribadi menuju kampus, sehingga lebih dapat dipertanggungjawabkan dari sisi legalitas dan akuntabilitas.
Bahkan, Prof Safi' berencana menerbitkan surat edaran bagi dosen yang berdomisili dekat kampus untuk menggunakan sepeda atau berjalan kaki.
"Sebagaimana yang menjadi semangat Pemerintah Pusat, bahkan Pak Menteri (Diktisaintek) juga berstatemen agar dukungan kebijakan efisiensi dan penghematan energi juga menjalar di lingkungan civitas akademika," ungkapnya.
Safi' mengapresiasi inovasi UTM Trans sebagai upaya efisiensi energi dan anggaran di tengah tantangan keuangan kampus.
"Insya Allah sudah tidak kesulitan, kami tinggal menyesuaikan jam operasionalnya dengan kebutuhan civitas akademika" ujarnya.
"Kami juga tekankan ada perhatian atau apresiasi kepada para driver UTM Trans sehingga ada semangat kerja tambahan, tapi tetap mengacu pada ketentuan karena UTM merupakan perguruan tinggi milik pemerintah," tegasnya.
Hingga saat ini, UTM memiliki populasi mahasiswa aktif lebih dari 20 ribu orang.
Mayoritas berasal dari Kabupaten Bangkalan dan Lamongan yang masing-masing berjumlah hampir 4.000 mahasiswa.
Sementara keterwakilan dari tiga kabupaten lain di Madura (Sampang, Pamekasan, dan Sumenep) berjumlah di bawah 2.000 mahasiswa.
"Semoga dengan launching UTM Trans bisa membantu para dosen dan mahasiswa yang mempunyai trayek PP Suramadu ke UTM" harapnya.
"Kami masih berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Bangkalan untuk menjajaki trayek UTM-Kota Bangkalan," pungkas Prof Safi'.