TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Seorang lansia asal Randusari-Karanganom, Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, tercatat menjadi calon jemaah haji tertua dari DIY pada tahun 2026.
Calon haji bernama Mardijiyono Karto Sentono ini rencananya akan berangkat ke Arab Saudi pada 1 Mei 2026.
Walau usianya yang sudah cukup tua yakni 103 tahun, namun itu tidak mengurangi semangatnya untuk menyempurnakan rukun Islam kelima.
Dewi Rusmala (33), cucu Mardijiyono, menjelaskan, kakeknya akan melaksanakan ibadah haji sendiri tanpa didampingi pihak keluarga.
Nantinya, Mbah Mardijiyono akan mendapatkan pendampingan khusus dari petugas haji karena usianya sudah lanjut dan mengalami gangguan pendengaran dan keterbatasan berjalan.
"Mbah kan kakinya sakit karena sempat jatuh waktu lagi di rumah anaknya yang ada di Jakarta," ucapnya, saat dijumpai di rumahnya, Jumat (17/4/2026).
Dikatakannya, Mbah Mardijiyono pernah dibawa ke dokter dan ternyata direkomendasikan menjalani pengobatan operasi.
Dikarenakan takut proses penyembuhannya berlangsung lama, pihak keluarga saat itu memutuskan untuk membawa Mbah Mardijiyono ke pengobatan alternatif.
Saat ini kondisinya sudah mulai membaik meski tetap harus menggunakan bantuan walker untuk berjalan.
Baca juga: 15 Tahun Setia Bareng Prabowo, Zulhas Tegaskan Komitmen PAN Kawal Swasembada Pangan
Dewi menjelaskan, keberangkatan kakeknya ke Tanah Suci ini tak lepas dari wasiat dari neneknya.
Awalnya pada akhir Desember 2019 silam, neneknya mengalami sakit.
Sebelum akhirnya berpulang, sang nenek berwasiat supaya Mbah Mardijiyono untuk melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci.
"Mbah putri enggak mau (ikut berangkat haji). Katanya Mbah Kakung saja yang berangkat. Waktu itu karena mungkin Mbah Putri sudah tidak sehat juga, sudah sakit-sakitan, tapi Mbah Kakung masih sehat," jelasnya.
Pesan dari sang itu itu akhirnya dilaksanakan oleh Mardijiyono.
Pada 2020, Mardijiyono akhirnya mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji.
Tadinya, Mardijiyono dijadwalkan berangkat pada tahun 2045, namun ternyata mendapatkan kuota haji lansia sehingga dijadwalkan berangkat lebih awal yakni pada tahun 2026.
"Waktu pendaftaran itu sempat jual sapi sekitar Rp10 juta. Terus kekurangannya berhasil ditambahin, jadi dapat kursi. Karena Mbah kan, dulu selain jadi petani juga beternak sapi. Tapi Mbah itu melihara sapi bareng dengan teman-temannya," ucap Dewi.
Menurut Dewi, pihak keluarga terus mendampingi Mbah Mardijiyono untuk mengurus segala kebutuhan dan perlengkapan menuju ibadah haji 2026.
Termasuk saat melaksanakan latihan manasik haji.
Bahkan Dewi turut menggendong Mardijiyono untuk latihan manasik haji di DIY.
"Persiapan Mbah terkait check-up dan sebagainya sudah dilakukan. Jadi, hanya keterbatasan jalan saja. Mbah juga sudah hafal ayat-ayat juga, karena tahun 2023 itu Mbah Mardijiyono sudah sempat melaksanakan ibadah umroh," ujar dia.
Selain itu, ia juga sudah mempersiapkan segala kebutuhan pakaian, sandal, hingga popok untuk dipergunakan oleh Mardijiyono saat melaksanakan ibadah haji.
Persiapan itu pun juga dibantu oleh anak-anak Mardijiyono. Sebab, Mardijiyono memiliki delapan anak dan Dewi menjadi salah satu cucu paling besar di keluarga tersebut.
"Ya semoga Mbah Kakung bisa melaksanakan ibadah haji dengan lancar, selamat, dan kembali ke Tanah Air sebagai haji mabrur," harap Dewi.
Sementara itu, Mardijiyono, mengaku senang bisa berangkat haji. Ia tak menyangka bisa segera menyempurnakan ibadah rukun Islam kelima.
"Ya seneng wae (ya senang saja). Ya nanti doa apa saja yang penting didoa," tutur dia.