Cerita Ketua RT 7 Pantai Amal Tarakan, Tiap 6 Bulan Sekali Jembatan Rusak dan Warga Selalu Urunan
Junisah April 17, 2026 03:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN -Ketua RT 7 Kelurahan Pantai Amal, Irianto mengaku, jembatan yang rusak di wilayahnya sudah ada puluhan tahun, seiring berkembangnya permukiman warga di Kelurahan Pantai Amal, Tarakan Kalimantan Utara. Diperkirakan keberadaan jembatan di Binalatung sejak tahun 2000-an silam.  

Diketahui jembatan yang rusak ini merupakan akses jalan yang sering dilalui masyarakat termasuk warga sekitar. Kerap kali jembatan ini dilewati kendaraan alat berat termasuk truk angkut rumput laut hingga mobil besar seperti bus yang angkut siswa ke sekolah selalu melalui jalan tersebut.

Dengan dilalui alat berat hingga truk dan bus membuat jembatan tersebut rusak. Tiap rusak warga sekitar bergotong royong andalkan urunan atau swadaya masyarakat.

"Biasa kalau jembatan kayu begini umurnya itu tahan 6 bulan. Jadi, setiap 6 bulan itu diperbaiki lagi. Dengan swadaya masyarakat," ucap Irianto.

Baca juga: Breaking News Dua Jembatan Rusak di Binalatung Dikunjungi DPRD Tarakan, Warga Berharap Diperbaiki

Irianto mengungkapkan, di Kelurahan Pantai Aml ini ada 15 RT, termasuk RT 7 dan di wilayah ini ada tiga jembatan yang mengalami kerusakan parah.

"Sehingga untuk menopang agar jembatan tetap kukuh, warga swadaya atau urunan uang.  Termasuk juga pengusaha rumput laut, karena mereka hanya mengandalkan jembatan untuk  mobilitasnya bisa keluar Binalatung dan hampir setiap hari memuat rumput laut," ungkapnya.

Irianto menambahkan, tidak sedikit jembatan rusak memakan korban. Warga yang lewat kehilangan kesimbangan terjatuh dan alami luka.

"Sudah sering. Bahkan ada korban meninggal. Jatuh dari motornya. Motor tak imbang, jatuh ke bawah. Cuma itu dulu tidak ada yang ekspose atau publish karena tidak ada yang videokan jadi tidak viral," akunya.

Hal ini pun dibenarkan Eka Putra Mulyadi, tokoh masyarakat di RT 14, sekaligus Ketua LPM Pantai Amal. Dulu pernah sekali ada bantuan anggaran pemerintah namun masih belum dinilai cukup. Itu di tahun 2024 sekitar bulan Oktober seingatnya dilakukan perbaikan. Setelah dibantu  pemerintah, jalan rusak lagi.

"Sudah, ini rusak lagi. Jadi, dia sebentar saja," ujarnya.

Baca juga: Jembatan Kayu di Kayan Hulu Ambruk, Pemkab Malinau Kerahkan Alat Berat untuk Dilakukan Perbaikan

Ia berharap sebenarnya, siapapun yang menjadi atau yang mengaku menjadi pemilik lahan jika persoalannya karena status kepemilikan lahan, diharapkan masyarakat jangan dilibatkan.

"Karena jembatan ini adalah urat nadi transportasi masyarakat terlebih lagi anak-anak kita yang ingin berangkat ke sekolah. Di ujung sana ada 2 SD, ada SDN 016 dan SDN 045," sebutnya.

Diakuinya, jalan ini menjadi satu-satunya yang dilewati warga. Untuk swadaya biasanya terkumpul sampai Rp 4 jutanm hingga Rp5 jutaan. Dikumpul dari nilai Rp1000, Rp2000 sampai terkumpul banyak.

"Paling empat jutaan itu habis lagi dipakai untuk beli makanan, papan. Tapi kebanyakan pakai beli makanan untuk gotong royong dikerjakan. Jadi sisa dari itu itu pengusaha-pengusaha rumput laut yang patungan sampai terkumpul Rp50 jutaan beli kebutuhan materialmya," beber Eka.

Artinya sekali perbaikan secara swadaya butuh sekitar Rp50 jutaan agar jembatan layak dilalui. 

Belum lagi banjir saat hujan dan air pasang bersamaan. Sebenarnya kata Eka didukung warga lainnya, sungai itu juga perlu perhatian karena alami pendangkalan. Kondisinya dileba bak  simalakama.

Warga urunan bangun jembatan dan saat rusak warga harus menambah lagi kayu agar kuat menopang. Di sisi lain ancaman banjir juga menyapa. Sampah kayu-kayu menumpuk dan tak bisa keluar masuk ke gorong jembatan. Ketika hujan bersamaan banjir, air sungai meluap masuk ke permukiman warga.

TINJAU JEMBATAN RUSAK - Kunjungan Komisi III DPRD Tarakan ke jembatan rusak di perbatasan RT 7 dan 15 Kelurahan Pantai Amal Kota Tarakan, Jumat (17/4/2026)
TINJAU JEMBATAN RUSAK - Kunjungan Komisi III DPRD Tarakan ke jembatan rusak di perbatasan RT 7 dan 15 Kelurahan Pantai Amal Kota Tarakan, Jumat (17/4/2026) (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

"Dilema karena kalau kayunya tidak ditambah, tidak kuat nopang jembatan, kalau banyak kayu di bawah akses air terhambat masuk keluar saat pasang air," ujarnya.

Ia menyebutkan dari lima jembatan, tiga jembatan tidak layak dilewati dan butuh perbaikan segera.

"Sangat urgent.  Sekarang yang kami butuhkan itu dua jembatan kayu ini diperbaikai sama yang di depan sana," ujarny.

Ia mengakui sempat juga dibahas dulu bersama PU.  Tapi ada lagi kelanjutan. Ia berharap DPRD Tarakan yang telah melakukan kunjungan dan melihat langsung kondisi jembatan dapat mengawal untuk dapat diperbaiki.

"Kami yang begitu, sudah sering dengar. Kita tinggal tunggu pembuktiannya nanti," harapnya.

Ditanya terkait kendala kepemilikan lahan ia berharap warga tak dilibatkan. Dan biarlah menjadi urusan pihak terkait untuk mencari jalan keluar. 

"Harus mencari solusi, berarti ya, duduk bersama," pungkasnya.

(*)

 Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.