TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah tekanan biaya produksi dan perubahan pola pasar, para perajin kuningan di Yogyakarta terus berupaya menjaga keberlangsungan usaha mereka.
Kenaikan harga bahan baku hingga menyusutnya akses pasar menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi, termasuk oleh pelaku usaha kerajinan tradisional yang telah berjalan lintas generasi.
Di kawasan Pakualaman, Walidi Craft menjadi salah satu contoh usaha yang bertahan di tengah situasi tersebut.
Sang pemilik, Rias, melanjutkan usaha keluarga yang telah memasuki generasi keempat.
Awalnya, keluarga ini menekuni kerajinan kuningan, sebelum kemudian pada 1998 mulai mengembangkan produksi miniatur kendaraan berbahan aluminium.
Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari miniatur sepeda, becak, hingga andong, serta berbagai kerajinan kuningan seperti lonceng, salib dan tempat lilin.
Seluruh proses dikerjakan secara manual, mulai dari pengolahan bahan hingga tahap finishing.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, tekanan dari sisi bahan baku semakin terasa.
Harga kuningan yang berasal dari rosok terus mengalami kenaikan signifikan.
“Sekarang bahan baku kuningan itu naik terus. Bahkan hampir tiap bulan berubah harga. Dulu satu kilo rosok sekitar Rp75 ribu, sekarang sudah hampir Rp130 ribu,” ujar Rias.
Baca juga: Kenaikan Harga Plastik Menggerus Pendapatan UMKM, Ekonom UGM Desak Keberpihakan Pemerintah
Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya produksi.
Untuk miniatur kendaraan berbahan aluminium, harga jual saat ini berkisar antara Rp55 ribu hingga Rp250 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.
Sementara produk kuningan bisa dibanderol mulai dari Rp25 ribu hingga jutaan rupiah.
Meski demikian, penyesuaian harga tidak selalu berjalan mulus di pasar.
“Kalau bahan naik, otomatis harga produk ikut naik. Tapi konsumen itu tidak selalu mau menerima kenaikan yang cepat,” katanya.
Selain persoalan biaya, perubahan pola distribusi juga menjadi tantangan tersendiri.
Rias mengingat masa ketika produknya banyak terserap oleh pedagang kaki lima di kawasan Malioboro.
Pada periode tersebut, terutama saat musim liburan, penjualan bisa melonjak tajam.
“Dulu saat ramai, momen liburan saja bisa sampai 1.000 pcs terjual. Sekarang jauh sekali bedanya,” ungkapnya.
Penataan ulang kawasan Malioboro turut memengaruhi keberlangsungan pasar tersebut.
Banyak pelanggan lama yang sebelumnya menjadi mitra penjualan kini tidak lagi beroperasi, sehingga jalur distribusi semakin terbatas.
“Pelanggan kami yang dulu di sepanjang Malioboro itu sekarang sudah habis. Setelah pindah pun, malah semakin sepi,” kata Rias.
Upaya mencari pasar baru terus dilakukan.
Saat ini, produk Walidi Craft masih rutin dikirim ke sejumlah daerah seperti Lombok, Makassar, Bali, Jakarta, dan Bandung.
Di masa lalu, miniatur aluminium buatan mereka juga sempat menembus pasar ekspor ke Malaysia, Belanda, hingga Selandia Baru, meski kini frekuensinya menurun.
Dari sisi produksi, pengerjaan miniatur membutuhkan waktu yang tidak singkat. Untuk satu siklus produksi, terutama dengan detail tinggi dan proses pengecatan, bisa memakan waktu hingga tiga minggu.
Dalam kondisi ramai, produksi miniatur jenis tertentu seperti Vespa atau motor CB dapat mencapai sekitar 100 unit per jenis.
Sementara itu, upaya promosi melalui pameran dinilai belum sepenuhnya efektif dalam mendongkrak penjualan.
“Pameran itu ada, tapi kadang sehari laku, kadang tidak. Pengunjung banyak yang cuma lewat saja,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, keberlanjutan usaha kerajinan seperti yang dijalankan Walidi Craft kini semakin bergantung pada kemampuan beradaptasi, sekaligus dukungan ekosistem yang mampu menjaga keberlangsungan pasar bagi para perajin lokal.(*)