TRIBUNGORONTALO.COM – Peristiwa hanyutnya dua anak di aliran Sungai Bulango, Gorontalo, tepatnya di kawasan Jembatan Ampi, Jumat (17/4/2026), mulai menemukan titik terang.
Kedua anak tersebut masing-masing bernama Alindra Elmira Ramadhan (10) dan Muh Nazril Pakaya (10). Keduanya dilaporkan terseret arus saat sedang mandi di sungai pada siang hari.
Dalam laporan Basarnas Gorontalo, insiden ini pertama kali diketahui setelah pihak keluarga melaporkannya ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Gorontalo pada malam hari.
Basarnas mengungkap bahwa kejadian bermula saat debit air sungai tiba-tiba meningkat dan menyeret kedua korban.
Tim SAR gabungan yang menerima laporan langsung bergerak menuju lokasi dan melakukan koordinasi dengan keluarga korban sebelum memulai pencarian. Penyisiran difokuskan di sekitar Jembatan Ampi hingga aliran Sungai Bulango.
Di tengah upaya pencarian yang berlangsung dalam kondisi minim cahaya, tim akhirnya berhasil menemukan satu korban. Sekitar pukul 20.58 Wita, korban ditemukan di bawah jembatan, tidak jauh dari lokasi awal dilaporkan hanyut.
Korban kemudian dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga pada pukul 21.10 Wita dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, satu korban lainnya masih dalam pencarian.
Tim SAR sempat melanjutkan penyisiran hingga malam hari, namun proses tersebut harus dihentikan sementara. Kondisi gelap dan keterbatasan jarak pandang menjadi kendala utama dalam operasi pencarian. Oleh karena itu, pencarian kembali dilanjutkan pada Sabtu (18/4/2026) pagi.
Sebelumnya, peristiwa ini sempat mengundang perhatian warga setelah beredar informasi dua bocah diduga hanyut di Sungai Bulango. Pihak Basarnas Gorontalo pun membenarkan kejadian tersebut.
“Iya (benar), sementara dalam pencarian,” tulis Humas Basarnas Gorontalo dalam Grup Mitra SAR.
Hingga kini, tim SAR gabungan masih terus berupaya menemukan satu korban lainnya dengan harapan seluruh korban dapat segera ditemukan dan dievakuasi.
Baca juga: BREAKING NEWS: 2 Bocah Diduga Hanyut di Sungai Bulango Gorontalo
Kasus hanyutnya dua anak menambah daftar korban bencana di Sungai Bulango dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Gorontalo, Mulyono Mardjun, sebagian besar kejadian hanyut di wilayah Kota Gorontalo dipicu oleh minimnya kemampuan berenang dan kurangnya pengawasan orang tua.
Anak-anak sering bermain di sungai tanpa memperhatikan kondisi air yang tiba-tiba naik atau arus yang deras.
BPBD juga menemukan bahwa banyak warga masih menganggap aktivitas di sungai sebagai hal biasa, tanpa menyadari potensi bahaya yang mengintai, terutama di musim hujan.
Padahal, arus sungai Bulango seringkali tidak dapat diprediksi, dan beberapa titik memiliki pusaran air berbahaya.
“Kadang masyarakat tidak sadar. Mereka pikir arusnya pelan, padahal di tengah bisa sangat deras. Karena itu kami tekankan pentingnya kewaspadaan, apalagi saat hujan turun di wilayah hulu,” tegas Mulyono.
Untuk mengurangi risiko jatuhnya korban, BPBD Kota Gorontalo juga mengusulkan adanya rambu-rambu peringatan bahaya di sejumlah titik rawan, seperti di kawasan jembatan Bulango, Kelurahan Tenilo, serta Kelurahan Bugis yang menjadi jalur aktivitas warga sehari-hari.
Selain edukasi dan tanda peringatan, Mulyono menegaskan bahwa BPBD akan terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui pelatihan relawan dan simulasi penanganan bencana berbasis komunitas.
Harapannya, masyarakat sekitar sungai dapat menjadi pihak pertama yang tanggap jika terjadi kondisi darurat.
“Kami berharap ke depan, masyarakat bisa menjadi lebih mandiri dalam menghadapi potensi bahaya. Jadi sebelum menunggu tim penyelamat datang, warga sudah tahu langkah-langkah awal yang harus dilakukan,” ujarnya.
Mulyono juga menyampaikan imbauan langsung kepada seluruh masyarakat Kota Gorontalo, khususnya yang tinggal di sekitar aliran sungai dan pesisir pantai, agar tidak melakukan aktivitas berisiko tinggi di sekitar air.
“Kami dari BPBD selalu mengimbau masyarakat di bantaran sungai Bone dan Bulango, serta pesisir pantai, untuk selalu berhati-hati bila ingin mandi, mencuci, atau beraktivitas di sekitar air. Banyak kejadian yang sebetulnya bisa dihindari kalau kita lebih waspada,” ucapnya.
Dari data BPBD, sepanjang tahun 2025 ini telah terjadi dua kasus warga hanyut di wilayah Sungai Bulango.
Namun, bila dihitung bersama kejadian dalam dua tahun terakhir, jumlahnya bisa mencapai lima kasus di area yang sama. Sebagian besar korban merupakan anak-anak usia sekolah dasar.
Mulyono menambahkan, pihaknya akan terus melakukan monitoring di titik-titik rawan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Basarnas, TNI, Polri, dan Dinas Sosial, dalam setiap penanganan kasus kedaruratan di wilayah Kota Gorontalo.
“Kami berharap, dengan kerja sama lintas instansi dan kesadaran masyarakat yang meningkat, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi di kemudian hari. Kuncinya ada di pencegahan dan kewaspadaan bersama,” tutupnya. (*)