Pelajar Berseragam SMAN 1 Purwakarta Viral karena Gestur Hina Guru di Dalam Kelas
Muhamad Syarif Abdussalam April 18, 2026 12:11 PM

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Deanza Falevi

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Sebuah video yang menampilkan aksi tak pantas sejumlah pelajar berseragam khas SMAN 1 Purwakarta mendadak viral di media sosial dan menuai sorotan luas. 

Dalam rekaman yang dilihat Tribunjabar.id, para siswa terlihat mengejek seorang guru perempuan dengan gestur tidak sopan, seperti mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah.

Perilaku tersebut dinilai mencederai nilai-nilai pendidikan serta etika yang seharusnya dijunjung tinggi di lingkungan sekolah. 

Tak butuh waktu lama, video itu menyebar cepat dan memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, mulai dari Dewan Pendidikan, tenaga pendidik, alumni, hingga masyarakat di Kabupaten Purwakarta.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Agus Marzuki mengaku prihatin sekaligus kecewa atas insiden tersebut. 

Ia menilai tindakan para pelajar itu bertolak belakang dengan semangat program pendidikan karakter yang tengah digalakkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, yakni Gapura Panca Waluya.

"Program ini menekankan pembentukan karakter siswa melalui lima nilai utama, yakni cageur (sehat jasmani dan rohani), bageur (berperilaku baik dan santun), bener (jujur dan berintegritas), pinter (cerdas dan kompeten), serta singer (cekatan dan kreatif)," ujar Agus saat dikonfirmasi Tribunjabar.id, Sabtu (18/4/2026).

Menurut Agus, jika benar pelaku merupakan siswa dari sekolah unggulan di Purwakarta, hal ini menjadi ironi tersendiri. 

Ia menyayangkan munculnya perilaku tidak terpuji yang mencerminkan kurangnya rasa hormat terhadap guru.

"Terlepas dari alasan apapun, apalagi jika hanya dianggap sebagai ekspresi di dalam kelas, ketika sudah masuk ke ruang publik, tindakan itu menjadi tidak etis dan melanggar norma," ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tindakan yang terlihat sepele dapat berdampak besar terhadap reputasi sekolah dan kepercayaan masyarakat.

"Hal kecil yang dianggap biasa bisa meninggalkan jejak yang dalam. Ini harus menjadi perhatian bersama," katanya.

Dewan Pendidikan berharap peristiwa ini menjadi pembelajaran penting bagi seluruh siswa agar lebih bijak dalam bersikap, terutama di era digital di mana informasi sangat cepat tersebar. 

Agus juga mendorong adanya komunikasi yang lebih terbuka antara guru dan siswa untuk membangun hubungan yang saling menghormati.

"Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang. Jadikan ini sebagai refleksi bersama agar dunia pendidikan kita tetap menjunjung tinggi nilai moral dan etika," ucapnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.