Daftar Harga BBM Terbaru di Jateng, Warga Balikpapan Hitung Ulang Pengeluaran
Eko Sutriyanto April 18, 2026 02:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG - Mulai Sabtu, 18 April 2026, PT Pertamina (Persero) resmi menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. 

Kenaikan ini menyasar beberapa jenis BBM dengan nilai cukup signifikan, terutama pada produk beroktan tinggi dan solar nonsubsidi.

Penyesuaian harga ini terjadi setelah sebelumnya, pada 1 April 2026, pemerintah tidak melakukan perubahan harga BBM dan masih mengacu pada tarif bulan Maret.

Kini, kenaikan dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian terhadap kondisi pasar dan biaya distribusi.

BBM yang Mengalami Kenaikan

Ada tiga jenis BBM nonsubsidi yang mengalami kenaikan harga, yaitu: Pertamax Turbo,  Dexlite dan Pertamina Dex.

Kenaikan pada ketiga produk ini terbilang cukup tajam.

Baca juga: Harga BBM Nonsubsidi Melonjak, Komisi VI Minta Pemerintah Antisipasi Dampak ke Daya Beli Masyarakat

Misalnya, Pertamax Turbo naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. 

Sementara Dexlite dan Pertamina Dex sama-sama mengalami lonjakan hingga Rp9.400 per liter dari harga sebelumnya.

BBM yang Harganya Tetap

Di sisi lain, beberapa jenis BBM tidak mengalami perubahan harga yakni Pertamax, Pertamax Green 95, Pertalite (subsidi),  Biosolar (subsidi)

Stabilnya harga BBM subsidi dan sebagian nonsubsidi ini menunjukkan adanya upaya menjaga daya beli masyarakat, terutama untuk kebutuhan sehari-hari.

Daftar Harga BBM di Jawa Tengah (Jateng)

Berikut rincian harga BBM terbaru di Provinsi Jawa Tengah per 18 April 2026:

Pertamax: Rp12.300 per liter
Pertamax Turbo: Rp19.400 per liter
Pertamax Green 95: Rp12.900 per liter
Pertamina Dex: Rp23.900 per liter
Dexlite: Rp23.600 per liter
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter

Warga Balikpapan Mulai Hitung Ulang Pengeluaran

Sementara itu di Balikpapan, kenaikan ini langsung direspons warga dengan kekhawatiran, terutama terkait efek berantai terhadap biaya hidup sehari-hari.

Ahmad (34), pengemudi ojek online, mengaku harus memutar otak untuk menyesuaikan pengeluaran operasionalnya.

“Naiknya jauh sekali. Dulu masih belasan ribu, sekarang hampir Rp20 ribu. Kalau begini, penghasilan bisa tergerus,” ujarnya.

Ia menyebut, kenaikan BBM bukan hanya berdampak pada biaya bahan bakar, tetapi juga berpotensi menurunkan pendapatan karena tarif layanan sulit ikut naik secepat itu.

Senada dengan itu, Rina (29), karyawan swasta, menilai lonjakan harga BBM akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.

“Biasanya kalau BBM naik, harga makanan, ongkos kirim, sampai transportasi ikut naik. Ujung-ujungnya kami yang harus menanggung,” katanya.

Beralih ke BBM Lebih Murah

Sebagian warga mulai mempertimbangkan alternatif untuk menekan pengeluaran.

Andi (41), sopir logistik, mengaku kemungkinan akan beralih ke BBM yang lebih terjangkau.

“Kalau tetap pakai Dex, biaya operasional bisa membengkak. Mau tidak mau harus cari yang lebih murah, walaupun antreannya biasanya panjang,” ungkapnya.

Namun, keputusan tersebut juga tidak sepenuhnya mudah karena berpotensi memicu peningkatan antrean di SPBU untuk BBM subsidi.

Di sisi lain, kekhawatiran juga muncul dari masyarakat terkait kemungkinan kenaikan BBM subsidi dalam waktu dekat.

Siti (38), ibu rumah tangga, menilai pola kenaikan BBM nonsubsidi kerap menjadi sinyal awal perubahan harga yang lebih luas.

“Kami takut ini baru awal. Biasanya kalau nonsubsidi naik dulu, nanti yang subsidi ikut menyusul,” ujarnya. (Tribun Kaltim/Zainul) (Tribun Jateng)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.