WARTAKOTALIVE.COM – Harapan tipis akan perdamaian permanen di Timur Tengah kembali terbentur tembok besar.
Hanya berselang beberapa jam setelah dinyatakan terbuka, militer Iran resmi memberlakukan kembali pembatasan ketat di Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026).
Teheran menuding Amerika Serikat telah melakukan "pelanggaran kepercayaan" yang berulang terkait kesepakatan gencatan senjata yang masih sangat rapuh.
Baca juga: Langit Teheran Kembali Terbuka! Iran Buka Parsial Ruang Udara Usai Perang 40 Hari Melawan AS-Israel
Saling Kunci di Selat Hormuz
Drama dimulai ketika Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sempat mengumumkan pembukaan selat melalui platform X.
Namun, retorika itu segera dibatalkan oleh media pemerintah Iran yang menyatakan bahwa pengawasan penuh militer kini kembali diberlakukan.
Teheran menegaskan bahwa lalu lintas kapal di jalur minyak paling vital dunia itu akan dianggap "tidak sah" selama blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran belum dicabut.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump tetap pada pendiriannya yang keras.
"Blokade pelabuhan Iran akan tetap berlaku sampai kesepakatan penuh tercapai 100 persen," tegas Trump.
Saat ini, setidaknya empat kapal tanker terpantau sedang melintasi selat menuju ke arah timur, dua di antaranya diduga merupakan bagian dari "armada gelap" (dark fleet) Iran yang berada di bawah sanksi AS.
Baca juga: Donald Trump Mau Angkut Uranium Iran ke AS, Sebut Pakai Ekskavator Raksasa
Model Gaza di Libanon: Munculnya 'Garis Kuning'
Sementara itu, situasi di perbatasan Israel-Lebanon memanas dengan kebijakan baru yang kontroversial.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) resmi mengadopsi model "Garis Kuning" (Yellow Line)—taktik yang sebelumnya digunakan untuk membelah wilayah Gaza—ke wilayah Lebanon Selatan.
Garis ini menjadi batas terlarang bagi warga Lebanon untuk kembali ke 55 desa yang saat ini diduduki militer Israel.
"IDF berwenang untuk terus menghancurkan infrastruktur teroris di sana meskipun selama gencatan senjata," ungkap pejabat senior militer Israel.
Kebijakan ini menjadi pukulan telak bagi ribuan pengungsi Lebanon yang sempat mencoba pulang saat gencatan senjata dimulai.
Misi Pamungkas Pakistan
Di tengah kebuntuan ini, Panglima Militer Pakistan Syed Asim Munir baru saja menyelesaikan kunjungan tiga hari di Teheran untuk menyelamatkan meja perundingan.
Pakistan kini menjadi jembatan diplomasi paling krusial antara Washington dan Teheran.
Delegasi AS dan Iran dikabarkan dijadwalkan bertemu kembali pada Senin mendatang untuk putaran negosiasi kedua.
Namun, Donald Trump telah memberikan peringatan keras bahwa dirinya mungkin tidak akan memperpanjang gencatan senjata jika pembicaraan tersebut menemui jalan buntu.
Dengan Selat Hormuz yang kembali "terkunci" dan Lebanon yang terbagi oleh garis militer, dunia kini menanti apakah diplomasi di Pakistan mampu mencegah ledakan perang yang lebih besar.