Produktivitas Tebu Nasional Rendah karena Ratoon dan Pabrik yang Menua 
Choirul Arifin April 18, 2026 06:32 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pertanian memasang target produksi 3 juta ton gula konsumsi tahun 2026 di tengah rendahnya produktivitas tebu nasional.

Sementara, pemerintah juga berupaya mengejar realisasi target swamsebada gula nasional di tahun 2028 melalui perluasan lahan tanaman tebu sertakonsolidasi industri gula nasional.

Sebanyak 36 pabrik gula di berbagai provinsi di Sumatera hingga Sulawesi akan diintegrasikan.

Tantangan utama saat ini, rata-rata produksi gula nasional hanya sekitar 4,74 ton per hektar, jauh di bawah capaian historis.

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementan, Kuntoro Boga Andri mengatakan rendahnya produktivitas tanaman tebu di Indonesia terjadi karena banyaknya pabrik gula yang sudah berusia tua.

Faktor lainnya adalah keterbatasan bibit unggul tebu, praktik budidaya yang belum optimal, hingga keterbatasan infrastruktur irigasi dan akses permodalan juga dinilai menjadi penyebab lainnya.

"Di sisi hilir, banyak pabrik gula berusia tua dengan rendemen rendah, sehingga meski revitalisasi pabrik terus digencarkan melalui suntikan modal negara, peningkatan kinerja belum maksimal tanpa pasokan tebu berkualitas," kata Kuntoro dalam keterangan resminya, Sabtu (18/4/2026).

Baca juga: Realitas Petani Tebu Diabaikan, APTRI Dorong Perbaikan Industri Gula Nasional

Program hilirisasi perkebunan yang di dalamnya terdapat target peremajaan tebu (bongkar ratoon) dan pembukaan lahan baru seluas 200 ribu hektare pada 2025 dan 2026 terus dilakukan pemerintah.

Meski realisasinya masih menghadapi tantangan di lapangan, namun upaya itu tetap dilakukan oleh pemerintah demi mencapai swasembada gula konsumsi di tahun 2028.

Kebijakan tersebut juga diperkuat Perpres No. 40/2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol, serta pelepasan varietas tebu unggul berdaya hasil tinggi. 

Dari sisi tata niaga, penetapan harga acuan sebesar Rp14.500/kg di tingkat produsen dan Rp17.500/kg di tingkat konsumen diharapkan menjaga keseimbangan antara insentif petani dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Baca juga: Koperasi Kana–Faperta UGM Budidaya Tebu 22.000 Ha di Jawa Timur

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan, pemerintah memiliki rencana untuk melakukan bongkar ratoon terhadap 80 persen pohon tebu yang sudah mulai tua.

Bongkar ratoon sendiri merupakan proses peremajaan tanaman tebu dengan membongkar total ratoon (tunas/tandan) lama yang sudah tidak produktif dan menggantinya dengan bibit baru unggul.

"Itu sudah pasti bongkar ratoon kan TR kita itu 80 persen ratoonnya sudah tua. artinya di bawah standar, umumnya di atas 4 tahun," kata Amran saat ditemui awak media di Kantor Pusat Perum Bulog, Senin (13/4/2026).

Kata dia, upaya paling utama dilakukan agar tebu bisa produktif yakni harus melakukan peremajaan terhadap tunasnya.

Setidaknya kata Amran, ada sekitar 300 ribu hektar tanaman tebu yang harus dilakukan bongkar ratoon dengan target 100 ribu hektar dilakukan setiap tahunnya.

"Jadi kita harus kalau kita mau perbaiki produktivitas, produksi gula, itu kita harus bongkar ratun 300-an ribu hektar. Kita target setiap tahun 100 ribu hektar," kata dia.

"Ya, itu kita bongkar ratun, pemupukannya tepat waktu, kemudian airnya juga baik, kemudian pengolahan tanahnya baik, bibitnya baik. Itulah intensifikasi," tandas dia.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.