Saling Ancam di Selat Hormuz: Iran Siap Tutup Jalur Vital, Trump Tegaskan Blokade Berlanjut
Dedi Qurniawan April 18, 2026 06:33 PM

POSBELITUNG.CO - Pemerintah Iran mengancam akan kembali menutup Selat Hormuz jika Amerika Serikat tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada Sabtu (18/4/2026).

Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah jalur pelayaran vital tersebut dibuka kembali menyusul kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa blokade akan tetap berlaku sepenuhnya sampai Teheran mencapai kesepakatan final dengan Washington, termasuk mengenai program nuklirnya.

Saat ditanya wartawan pada Jumat (17/4/2026) mengenai langkah jika kesepakatan tidak tercapai pekan depan, Trump mengisyaratkan kemungkinan terjadinya eskalasi militer.

“Saya tidak tahu. Tapi mungkin saya tidak akan memperpanjangnya, jadi akan ada blokade dan sayangnya kita harus mulai menjatuhkan bom lagi," kata dia.

Meski demikian, saat berada di atas Air Force One menuju Washington, ia tetap menyampaikan rasa optimisme bahwa kesepakatan akan segera tercapai.

“Kesepakatan itu akan terjadi,” ujarnya, seraya menolak tegas kemungkinan Iran memberlakukan pembatasan atau pungutan di Selat Hormuz.

Sikap Trump sempat terlihat berubah-ubah setelah sebelumnya merayakan pembukaan selat dengan menyebut jalur tersebut telah siap untuk dilewati sepenuhnya.

Namun, beberapa menit kemudian ia kembali menekankan bahwa blokade Angkatan Laut AS akan terus berlanjut "hingga transaksi AS dengan Iran selesai 100 persen."

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa kapal-kapal yang melintas akan diarahkan melalui rute yang ditentukan oleh Iran dengan kerja sama otoritas terkait.

Pernyataan ini mengindikasikan keinginan Teheran untuk tetap mempertahankan kendali atas selat tersebut meski belum ada kejelasan mengenai penerapan biaya tol.

Di sisi lain, pejabat Iran menilai blokade yang dilakukan Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada pekan lalu.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, bahkan menegaskan bahwa selat itu “tidak akan tetap terbuka” jika blokade tersebut terus berlanjut.

Laporan dari perusahaan data Kpler menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran saat ini masih terbatas dan hanya diizinkan melalui koridor tertentu dengan persetujuan Iran.

Sementara itu, Komando Pusat AS menyebut telah mengirim kembali 21 kapal ke Iran sejak blokade dimulai pada Senin lalu sebagai bentuk tekanan kepada Teheran.

Blokade ini merupakan bagian dari upaya Trump untuk memaksa Iran membuka akses pelayaran sepenuhnya dan menerima gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.

Langkah Washington mempertahankan blokade menunjukkan keinginan untuk menjaga tekanan di tengah ketidakpastian nasib gencatan senjata yang baru dicapai.

Upaya diplomatik melalui pembicaraan langsung antara kedua negara pada akhir pekan lalu dilaporkan gagal mencapai titik temu terkait isu nuklir.

Meski begitu, dalam wawancara singkat dengan Axios, Trump memberi sinyal kuat bahwa proses negosiasi antara kedua belah pihak masih berlanjut.

“Pihak Iran ingin bertemu,” ujarnya, seraya menambahkan, “Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya pikir pertemuan itu kemungkinan akan berlangsung selama akhir pekan."

Di pasar global, harga minyak dunia sempat mengalami penurunan pada Jumat karena munculnya harapan pasar akan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.

Namun, Kepala Badan Energi Internasional memperingatkan bahwa krisis energi dunia bisa memburuk secara signifikan jika Selat Hormuz kembali ditutup.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi kini disebut menjadi pengambil keputusan utama di tengah ketidakpastian kondisi Mojtaba Khamenei yang dilaporkan terluka. (sumber : Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.