Jusuf Kalla Klarifikasi soal Ceramah di Masjid UGM, Jelaskan Alasan Pakai Istilah 'Mati Syahid'
Suci BangunDS April 18, 2026 07:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) memberikan klarifikasi mengenai potongan ceramahnya yang sempat viral dan membuat dirinya dilaporkan ke pihak kepolisian.

Jusuf Kalla dilaporkan ke polisi setelah potongan ceramahnya yang bertajuk Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis, 5 Maret 2026 lalu viral di media sosial.

Menurut narasi yang beredar, ceramah JK yang membahas konflik Poso dan Ambon serta penggunaan istilah 'mati syahid' oleh pihak-pihak yang bertikai dituding menistakan ajaran Kekristenan.

Berikut penggalan ceramah JK yang dipotong dan diviralkan serta dibungkus narasi tersebut:

“Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya, Islam dan Kristen, berpendapat 'mati' atau 'menewaskan orang' atau 'mematikan' itu syahid. Semua pihak. Kristen juga berpikir begitu. ‘Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid’. Akhirnya susah berhenti,” ujar Jusuf Kalla.

JK lantas dilaporkan oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan sejumlah organisasi lainnya ke Polda Metro Jaya, terkait dugaan penistaan agama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 300 dan/atau Pasal 301 dan/atau Pasal 263 dan/atau Pasal 264 dan/atau Pasal 243 Undang-undang Nomor 1 Tahun 2023, Minggu (12/4/2026).

Laporan teregistrasi dengan nomor LP/B/2546/IV/2026/SPKT/POLDAMETROJAYA, LP/B/2547/IV/2026/SPKT/POLDAMETROJAYA, dan LP/B/2550/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA yang kesemuanya tertanggal 12 April 2026.

Selain itu, Jusuf Kalla juga dilaporkan oleh Forum Persatuan Islam Indonesia (FPII) ke Polda Metro Jaya pada Jumat (17/4/2026).

Klarifikasi Jusuf Kalla

Dalam konferensi pers di kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Sabtu (18/4/2026) siang ini, Jusuf Kalla mulanya menyampaikan permintaan maaf karena baru bisa klarifikasi, sedangkan polemik potongan ceramahnya sudah mencuat sejak awal pekan.

Penyebabnya, Jusuf Kalla baru pulang dari Jepang pada Sabtu subuh tadi.

Baca juga: Juru Bicara Jusuf Kalla Apresiasi Menteri HAM Natalius Pigai: JK Tidak Diskreditkan Agama Lain

"Pertama saya minta maaf, karena baru hari ini saya dapat menjelaskan masalah-masalah yang viral sekarang ini. Karena saya baru subuh tadi pulang dari Jepang," ujar JK.

"Sehingga, saya tidak bisa cepat memberikan tanggapan mengenai masalah-masalah yang timbul dewasa ini."

Kata politisi kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan 15 Mei 1942 itu, dirinya meminta agar publik memahami bahwa ceramah yang ia sampaikan adalah ceramah Ramadan yang digelar di masjid kampus, artinya hanya dihadiri oleh umat muslim dan intelektual, dengan lingkungan terbatas.

Dalam ceramahnya, karena tema yang diangkat adalah tema perdamaian, Jusuf Kalla membahas berbagai konflik di dunia, mulai dari konflik di Eropa, lalu Perang Dunia I, hingga beragam konflik di Indonesia.

Konflik-konflik di Indonesia, kata dia, terjadi karena berbagai faktor, seperti konflik ideologi, konflik wilayah, dan konflik agama.

Lalu, JK pun membahas singkat konflik Poso (1998-2001) dan Ambon (1999-2002) sebagai contoh konflik agama di Indonesia. 

"Satu menit saja, saya jelaskan konflik karena agama, itu antara lain Ambon," ucapnya.

SOAL CERAMAH JK - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) dalam konferensi pers di kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Sabtu (18/4/2026) siang. Dalam kesempatan tersebut,  Jusuf Kalla menyampaikan maaf karena baru bisa klarifikasi, sedangkan polemik potongan ceramahnya sudah mencuat sejak awal pekan. (Tangkap layar YouTube KompasTV)

Lantas, Jusuf Kalla menjelaskan makna kata 'mati syahid' yang ia pakai saat membahas akar utama konflik berdarah di dua daerah tersebut.

Mulanya, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) periode 2024-2029 ini menyebut, dirinya tahu betul, bahwa penyebab konflik itu adalah penggunaan narasi agama untuk melakukan kekerasan.

Sebab, ia mengambil risiko untuk hadir dalam menjalankan misi perdamaian dan melihat langsung konflik Poso dan Ambon

Kata JK, masing-masing pihak yang bertikai, yakni pemeluk agama Islam dan Kristen, sama-sama memegang erat pemahaman tentang berani mati membela agama.

"Saya pertaruhkan jiwa saya, dengan Hamid [Hamid Awaluddin, mantan Menteri Hukum dan HAM RI], masuk ke daerah konflik tadi, tidak ada Presiden Gus Dur, jenderal-jenderal, tokoh2 Maluku tokoh2 militer, tidak bisa mendamaikan," tutur JK.

JK menerangkan, di agama Islam, mati membela agama disebut 'mati syahid', sedangkan di agama Kristen, sebutannya adalah 'martir'.

"Saya datang tanpa pengawal, masuk ke daerah itu. Dan saya tahu, kenapa dia berbuat begitu. Karena dia pikir, ini perang agama. Siapa yang meninggal akan syahid, untuk Islam, di Kristen, namanya martir," kata JK.

Namun, karena lokasi ceramahnya ada di masjid dan hanya dihadiri umat Islam, jadi JK menggunakan istilah 'syahid' agar dapat dipahami oleh para jamaah.

Lebih lanjut, JK menyebut, maksud dari dirinya membahas konflik Poso dan Ambon adalah untuk memberikan pesan tegas, agar generasi Indonesia selanjutnya, tidak menjadikan agama untuk alat politik dan memicu konflik.

Baca juga: Juru Bicara Jusuf Kalla Apresiasi Menteri HAM Natalius Pigai: JK Tidak Diskreditkan Agama Lain

Segala konflik, termasuk yang berakar dari agama, hanya akan menimbulkan pertumpahan darah yang fatal, seperti konflik Poso yang menelan 2.000 korban jiwa, dan konflik Ambon yang menyebabkan 5.000 orang tewas.

"Tapi, saya berada di masjid, dan tidak mengerti istilah 'martir' sehingga saya katakan 'syahid'. Hampir sama dalam artinya, syahid' dan 'martir'. Cuma bedanya caranya. Syahid, mati karena membela agama, 'martir' juga sama, mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja," jelas JK.

"Tapi, karena saya di masjid, maka saya pakai kata 'syahid', karena kalau saya pakai kata 'martir', jamaah tidak tahu."

"Untuk menjelaskan 'jangan sekali-sekali memakai agama untuk berkonflik', jangan!"

"Anda calon-calon pemimpin semuanya, musti adil, tidak boleh pakai agama ke unsur-unsur politik. Ini akibatnya [konflik agama], 7.000 orang meninggal dalam tiga tahun."

"[Konflik] Aceh, 30 tahun, meninggal 15.000. Artinya, di Aceh, tiap tahun 500 orang meninggal. Ini [konflik Ambon dan Poso], 7.000 orang meninggal dalam tiga tahun, tiap tahun 1.000 orang meninggal."

(Tribunnews.com/Rizki A.)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.