TRIBUN-SULBAR.COM-Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan setelah Selat Hormuz kembali dibuka pada 17 April 2026. Pembukaan jalur strategis tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Setiap ketegangan di kawasan ini kerap memicu lonjakan harga minyak karena risiko terganggunya distribusi energi.
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak mentah Brent turun sebesar 10,48 persen atau US$10,42 menjadi US$88,97 per barel pada perdagangan siang waktu Amerika Serikat.
Bahkan, harga sempat menyentuh level terendah di US$86,09 per barel.
Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga merosot 12,12 persen atau US$11,48 menjadi US$83,21 per barel, setelah sebelumnya sempat berada di posisi US$80,56 per barel. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak awal April 2026.
Baca juga: Garudafood Buka Lowongan Kerja April 2026, Tersedia Posisi untuk Lulusan SMA hingga S1
Baca juga: BBM Non-Subsidi Naik, Pertamax Turbo Melonjak hingga Rp20 Ribuan
Penurunan harga terjadi setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali dibuka menyusul kesepakatan gencatan senjata di Lebanon. Pernyataan ini memberikan sinyal positif bagi pasar global yang sebelumnya diliputi ketidakpastian.
Analis Gelber & Associates menilai bahwa pasar kini mulai mengurangi premi risiko yang sebelumnya meningkat tajam akibat konflik geopolitik. Harga minyak pun kembali bergerak menuju kondisi yang lebih stabil seiring normalisasi arus pasokan.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa Iran telah menyatakan komitmennya untuk tidak lagi menutup Selat Hormuz. Hal ini dinilai sebagai langkah penting dalam menjaga stabilitas perdagangan energi global.
Kemajuan juga dilaporkan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Berdasarkan laporan jurnalis Axios, kedua negara disebut telah mencapai perkembangan dalam pembahasan nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik.
Harapan akan meredanya ketegangan di Timur Tengah turut menekan harga minyak. Investor menilai peluang tercapainya kesepakatan damai semakin terbuka, meskipun masih terdapat sejumlah kendala dalam pembicaraan, termasuk isu program nuklir Iran.
Donald Trump menyebut bahwa Iran menawarkan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun.
Ia juga menyatakan optimisme bahwa kesepakatan antara kedua negara semakin dekat.
Meski demikian, situasi belum sepenuhnya stabil. Seorang pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa blokade militer terhadap Iran yang melibatkan lebih dari 10.000 personel masih tetap berlangsung.
Analis SEB Research, Ole Hvalbye, mengingatkan bahwa dampak pembukaan Selat Hormuz terhadap pasar Eropa tidak akan langsung terasa. Dibutuhkan waktu sekitar 21 hari bagi pengiriman minyak dari Teluk menuju Rotterdam.
Selain itu, analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai risiko gangguan masih bisa terjadi jika kesepakatan terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi belum tercapai.
Dengan demikian, meskipun pembukaan Selat Hormuz menjadi sentimen positif, pasar energi global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dalam jangka pendek.(*)