Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18 April memiliki nilai sejarah bagi Kota Bandung. Berbagai bangunan dengan gaya heritage ini memiliki kisah yang hingga kini jejaknya pun masih bisa dilihat oleh wisatawan.
Di momen ini, Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) mengajak publik menyelami memori kolektif itu lewat kegiatan walking tour, sebuah perjalanan yang bukan hanya berpindah tempat, tetapi juga melintasi waktu, kembali ke 1955 saat Bandung menjadi panggung solidaritas dunia.
Dipandu oleh edukator Museum KAA, Nadia Inggrida, rombongan peserta diajak menyusuri titik-titik penting yang menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah tersebut.
Dari gedung-gedung tua hingga jalanan legendaris, setiap sudut kota menyimpan cerita yang perlahan diungkap sepanjang perjalanan.
Perjalanan dimulai dari Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) di Jalan Naripan. Bangunan yang kini dikenal sebagai pusat seni itu dulunya merupakan pusat perbelanjaan sekaligus tempat berkumpul masyarakat Belanda.
Baca juga: Ratusan Agenda Wisata Masuk Calendar of Events 2026, Asia Afrika Festival hingga Nyaneut Festival
Nadia menjelaskan, pada masa KAA, gedung ini difungsikan sebagai ruang pameran yang menampilkan kekayaan budaya Indonesia, khususnya Jawa Barat.
“Di sini ada pameran tanaman seperti anggrek, kaktus, teratai, juga kerajinan seperti wayang golek yang bisa dibeli para delegasi,” ujar Nadia, Sabtu (18/4/2026).
Tak hanya itu, lukisan seniman lokal hingga instalasi seni turut dipamerkan. Ruang ini menjadi etalase budaya yang memperkenalkan identitas Indonesia kepada dunia.
Dari YPK, rombongan bergerak ke Jalan Braga. Nadia menjelaskan, kini Braga dikenal sebagai tempat nongkrong. Braga di masa KAA berubah menjadi ruang diplomasi budaya yang meriah.
“Sepanjang jalan, bendera negara-negara Asia-Afrika berkibar. Etalase toko dihias dengan ornamen khas berbagai negara. Bahkan, instalasi seni dan ukiran yang menyerupai karya luar negeri turut dipamerkan. Braga bukan hanya jalan biasa, tapi menjadi ruang interaksi budaya antarnegara,” kata Nadia sambil menunjukkan foto-foto lama.
Ia juga menekankan bahwa KAA tidak hanya dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia.
Negara-negara peserta pun turut menggelar acara. Salah satunya Sudan, yang mengadakan pemutaran film di Hotel Grand Preanger untuk memperkenalkan negaranya kepada publik Bandung.
Memasuki Hotel Grand Preanger, peserta mulai melihat bagaimana kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah.
Berbagai fasilitas disediakan, mulai dari layanan kesehatan hingga transportasi.
Bahkan, tersedia dokter umum dan dokter gigi bagi para delegasi semuanya gratis.
“Yang paling unik di Hotel Grand Preanger adalah bagian lift tua dengan sekat besi yang digunakan pada saat KAA. Namun sekarang, lift ini sudah tidak bisa digunakan lagi,” ucapnya.
Perjalanan berlanjut ke Hotel Savoy Homann, salah satu bangunan paling ikonik di kawasan Asia Afrika.
Di titik ini, penjelasan tidak hanya datang dari pemandu, tetapi juga diperkuat oleh keterangan dari pihak hotel.
Marketing Communication Hotel Savoy Homann, Yuke, menjelaskan bahwa hotel ini menyimpan banyak peninggalan penting Konferensi Asia Afrika yang masih terjaga hingga hari ini.
Salah satunya adalah Golden Book, buku bersejarah yang memuat daftar hadir para delegasi sejak tahun 1955.
Golden Book ini pun dipajang di area dekat lobby, ukurannya cukup besar, dan para tamu pun bisa melihat lebih dekat isi buku tersebut.
“Buku ini tidak hanya berisi tanda tangan saat KAA berlangsung, tapi juga saat peringatan-peringatan berikutnya ketika para delegasi kembali berkunjung,” jelas Yuke.
Ia menambahkan, tradisi pencatatan kehadiran atau historical log ini justru bermula dari momen KAA, ketika para delegasi berkumpul di hotel sebelum berjalan bersama menuju Gedung Merdeka.
Di area belakang hotel, terdapat pula ruang Memorabilia, yang menyimpan satu set peralatan makan yang digunakan dalam jamuan resmi KAA.
Set peralatan makan seperti sendok, garpu, gelas, hingga wajan, dan vas bunga pun tersimpan rapi dengan memori yang tersimpan.
“Hingga kini, ruang jamuan diberi nama Asia Africa Room, mempertahankan fungsi historisnya sebagai simbol diplomasi meja makan. Di tahun 2007, Hotel Savoy Homann juga mendapat penghargaan sebagai hotel dengan service excellence terbaik di Jawa Barat,” tambah Yuke.
Baca juga: Kawasan Konferensi Asia Afrika Bandung Diajukan Jadi Warisan Dunia UNESCO
Secara historis, hotel ini memiliki perjalanan panjang. Berdiri sejak 1939 dengan desain arsitek Belanda Albert Aalbers, bangunan ini awalnya berkembang dari rumah keluarga Homann berkebangsaan Jerman.
Seiring waktu, hotel ini berubah nama dari Hotel Post Road, Grand Homann, hingga menjadi Savoy Homann seperti sekarang.
Fasad bangunan yang melengkung khas art deco menjadikannya ikon arsitektur Bandung. Bahkan, banyak bangunan lain di kota ini yang kemudian meniru gaya tersebut.
Selanjutnya, rombongan menuju Kantor Pos Bandung, yang pada masa KAA berfungsi sebagai pusat komunikasi.
Salah satu bagian paling menarik adalah cerita tentang press room. Ruangan ini disediakan di beberapa titik, salah satunya adalah Museum Konperensi Asia Afrika.
Perjalanan ditutup di Gedung Merdeka, titik paling penting dari seluruh rangkaian.
Di sinilah para pemimpin Asia dan Afrika berkumpul dan melahirkan Dasasila Bandung, sebuah deklarasi yang berisi prinsip-prinsip perdamaian, kedaulatan, dan kerja sama internasional.