SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kasus kekerasan terhadap anak di Jawa Timur (Jatim), khususnya di Surabaya, masih tergolong tinggi dengan berbagai bentuk, mulai dari perundungan (bullying) hingga pelecehan melalui media sosial.
Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Jatim, Febri Kurniawan Pikulun, mengungkapkan pihaknya telah menerima ratusan laporan sejak awal tahun.
“Di Jawa Timur, saya sudah menerima 137 laporan sejak Januari hingga April 2026,” kata Febri kepada SURYA.co.id di Surabaya, Sabtu (18/4/2026).
Febri menjelaskan, kasus kekerasan tersebut banyak terjadi pada anak usia sekolah menengah pertama (SMP). Bentuknya beragam, antara lain:
Ia menyoroti munculnya pola kejahatan baru yang memanfaatkan teknologi.
“Saat ini yang marak adalah menjalin hubungan, lalu saling kirim foto. Setelah itu dimanipulasi dengan AI untuk memeras anak di bawah umur. Ini bentuk kejahatan baru,” ujarnya.
Meski jumlah laporan cukup tinggi, Komnas PA Jatim menilai angka tersebut belum mencerminkan kondisi sebenarnya. Banyak korban memilih untuk tidak melapor karena berbagai alasan, termasuk tekanan dari lingkungan sekitar.
“Tantangan terbesar justru dari lingkungan terdekat, seperti keluarga atau sekolah. Sering kali korban diminta tidak melaporkan kasusnya karena dianggap memalukan,” imbuh Febri.
Akibatnya, tidak sedikit korban baru berani melapor setelah memasuki usia dewasa.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Komnas PA membentuk Komnas PA Milenial yang fokus menjangkau generasi muda dengan pendekatan sebaya.
Ketua Komnas PA Milenial Surabaya, Rr Adinda Dwi Inggardiah, menilai pendekatan ini penting agar korban lebih terbuka.
“Mereka bisa lebih nyaman bercerita dan tidak memendam masalah,” ujarnya.
Melalui pendekatan ini, diharapkan korban kekerasan dapat lebih berani melapor dan mendapatkan pendampingan.
Komnas PA Surabaya juga melakukan berbagai langkah preventif, antara lain:
Selain itu, lembaga ini menyediakan bantuan hukum bagi korban yang terkendala biaya.
“Kami dampingi korban, termasuk dalam proses pemulihan trauma. Pendampingan dilakukan sampai korban benar-benar pulih,” ujarnya.