- Selat Taiwan memanas dan menjadi sinyal adu kekuatan besar di Asia Timur.
Kapal Pasukan Militer Jepang (SDF) dilaporkan masuk ke jalur strategis pada Jumat (17/4/2026) dan memicu reaksi keras dari Beijing.
Langkah Jepang ini dianggap China sebagai provokasi terbuka yang berpotensi memperuncing ketegangan di kawasan.
Pemerinah China tak hanya sekedar keberatan secara diplomatik.
Melainkan membaca pelayaran tersebut sebagai bagian dari manuver strategis yang lebih luas.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun menilai, tindakan Jepang merusak fondasi politik bilateral.
Selat Taiwan bukan sekadar jalur pelayaran internasional, melainkan garis batas geopolitik yang dijaga ketat oleh China.
Seusai masuknya pasukan militer jepang, Komando Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dilaporkan mengerahkan kekuatan laut dan udara untuk memantau pergerakan kapal Jepang.
China tak hanya melakukan pengawasan, melainkan bentruk demontrasi kesiapan tempur.
Ia juga mengaskan bahwa setiap inci perairan di sekitar Taiwan berada dalam jangkauan respons militer Beijing.
Jepang juga merespons pergerakan itu sebagai tekanan pada China di kawasan.
Momentum ini menjadi semakin sensitif karena terjadi di bawah kepemimpinan Sanae Takaichi, yang sejak awal telah mengirimkan sinyal keras terkait potensi krisis Taiwan.