Persiapan Jemaah Haji 2026, Pakar Ingatkan Cek Kesehatan 3 Bulan sebelum Berangkat
Wahyu Gilang Putranto April 19, 2026 01:38 AM

Persiapan ibadah haji tidak hanya soal fisik dan mental, tetapi juga kesiapan kesehatan yang matang sejak jauh hari sebelum keberangkatan.

Dokter, peneliti Global Health Security, dan pakar epidemiolog Dicky Budiman menegaskan bahwa pendekatan kesehatan haji harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sebelum, selama, hingga setelah ibadah berlangsung.

Ia menyebut konsep ini sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

“Pertama ya, saya ingin sampaikan bahwa secara prinsip pendekatan kesehatan haji ini mengacu pada continue of care yang namanya. Jadi pra, selama, dan pascaibadah haji,"ungkapnya pada Tribunnews, Sabtu (18/4/2026). 

Menurut Dicky, tahapan paling krusial dimulai dari fase pra-keberangkatan, terutama melalui pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.

Ia menekankan bahwa screening dan pengendalian penyakit penyerta atau komorbid menjadi prioritas utama.

“Jadi yang perlu dilakukan adalah medical check-up comprehensive, minimal tiga bulan lah sebelum keberangkatan," imbaunya. 

Langkah ini penting mengingat mayoritas kasus sakit hingga kematian pada jemaah haji berkaitan dengan penyakit kronis.

Beberapa di antaranya seperti penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit paru kronik, hingga gagal ginjal.

Tak hanya pemeriksaan, penyesuaian terapi juga perlu dilakukan agar kondisi jemaah benar-benar stabil sebelum berangkat.

Selain itu, penilaian kelayakan kesehatan untuk bepergian atau fitness to travel juga menjadi bagian penting dalam tahap ini.

Dicky mengungkapkan bahwa data terbaru menunjukkan dominasi penyakit kronis pada kasus jemaah haji.

Ia merujuk pada studi dalam dua tahun terakhir.

“Evidence terkini itu, kita bisa melihat bahwa studi haji di dua tahun terakhir menunjukkan lebih dari 60 persen kasus rawat inap itu ya terkait penyakit kronis ya, bukan infeksi,"lanjutnya. 

Selain pemeriksaan kesehatan, vaksinasi juga menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan.

Vaksin meningitis menjadi wajib, sementara vaksin lain seperti polio, influenza, dan pneumokokus dianjurkan sesuai kondisi masing-masing jemaah.

Pendekatan vaksin ini bersifat berbasis risiko, bukan sekadar kewajiban administratif.

Artinya, jenis vaksin yang diberikan disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan potensi paparan penyakit.

Tak kalah penting, pencegahan infeksi saluran pernapasan juga menjadi perhatian utama mengingat tingginya kepadatan selama ibadah haji.

Penggunaan masker, menjaga kebersihan tangan, serta menghindari kelelahan ekstrem menjadi langkah sederhana namun krusial.

Kesimpulannya, persiapan kesehatan jemaah haji harus dimulai jauh sebelum keberangkatan.

Pemeriksaan menyeluruh, pengendalian penyakit kronis, serta vaksinasi menjadi fondasi utama agar ibadah dapat berjalan lancar dan aman. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.