TRIBUNNEWSMAKER.COM - Polemik terkait isu ijazah Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kini kian melebar dan menyeret sejumlah tokoh penting nasional.
Salah satu yang turut menjadi sorotan adalah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, yang memberikan pernyataan mengejutkan.
Dalam keterangannya, Jusuf Kalla (JK) mengklaim bahwa peran dirinya sangat besar dalam mengantarkan Jokowi hingga menjadi Presiden Republik Indonesia.
Pernyataan tersebut langsung memicu beragam reaksi publik, mengingat isu awal yang mencuat berkaitan dengan keabsahan ijazah.
Situasi ini pun berkembang dari sekadar polemik administratif menjadi perdebatan politik yang semakin kompleks.
Sejumlah pihak mulai mempertanyakan konteks dan maksud dari pernyataan Jusuf Kalla tersebut.
Di sisi lain, pendukung Jokowi menilai klaim tersebut tidak relevan dengan isu yang sedang dipersoalkan.
Hingga kini, polemik ini terus bergulir dan berpotensi memunculkan dinamika baru di ruang publik maupun politik nasional.
Baca juga: Geram Diisukan Cerai dengan Fairuz A Rafiq, Sonny Septian Doakan Pembuat Hoax: Semoga Diampuni
Seperti diketahui, Wakil Presiden ke 10 dan 12 RI Jusuf Kalla bicara perihal dirinya terseret kasus ijazah Jokowi.
JK menegaskan bahwa ia tak berniat menyerang dengan menyarankan Jokowi menunjukan ijazah.
Kini Jusuf Kalla dilaporkan ke polisi karena isi ceramah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Dia dituduh menistakan agama.
Jusuf Kalla menduga laporan tersebut merupakan dampak dari keterlibatannya di kasus ijazah Jokowi.
"Saya tidak menuduh politik, tapi ini kenyataannya, ini timbul setelah saya mengadukan Rismon dan saya mengatakan bahwa ini sudah 2 tahun rakyat berkonflik, bertentangan, saling mengadu, bereteriak-teriak, demo, sudah lah pak Jokowi. Kasih lihat ijazah saja. itu saja," katanya.
Setelah itu, ia kemudian dilaporkan ke polisi.
"Timbul lah ini (laporan polisi), sensitif sekali itu ijazah, kenapa sih ? dan saya lihat itu asli, kenapa tidak dikasih lihat. Membiarkan masyarakat berkelahi, saling memaki, dua tahun," katanya.
JK juga mengungkap bahwa Rismon dan Roy Suryo sempat ingin bertemu dengannya.
"Si rismon mau ketemu saya dengan tujuh oranng, saya tidak terima. WA temannya. Saya tolak. Roy Suryo mau ketemu, saya tolak. Demi saya mau netral," katanya.
Ia juga menunjukkan isi WhatsApp pihak Rismon ketika meminta bertemu.
"Assalamualaikum Pak Yadi,Tabe Ye.
Saya arief Insya Allah kami mau silaturahmi dengan pak JK sekalian Rismon Sianipar mau memberikan buku Gibran EndGame ke Bapak.
Insya Allah yang mau silaturahmi :
Dr. Rismon Sianipar
Dr. Vivian
Hardian," tulis isi chat.
Menurut JK, Rismon berniat memberi buku padanya.
"Dia mau kasih buku ke saya, mau ditemanin oleh berapa orang. Saya tolak. Saya tidak mau campur ini urusan. Tapi ini soal Rismon ini sudah melibatkan semua, dituduh lah saya, dituduh lah Puan, dituduh SBY, itu pengalihan aja," katanya.
Bahkan terakhir Jusuf Kalla dituduh memberi Roy Suryo Rp 5 miliar untuk kasus ijazah Jokowi.
"Apalagi saya dituduh kasih Rp 5 m. mana saya kasih Rp 5 m, ketemu aja tidak tahu saya. kenal pun tidak, ini buktinya, WA-nya. Yadi jangan terima. Saya dibilang bohirnya, ketemu saja tidak mau saya," katanya.
Jusuf Kalla mengatakan bahwa ia hanya memberi saran, bukan untuk ikut menyerang Jokowi dalam kasus ijazah.
Hal itu dilakukan karena JK merasa sebagai senior Jokowi.
"Saya seniornya, siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta ? Saya yang bawa waktu jadi gubernur, saya yang bawa," katanya.
"Saya ke ibu Mega, ibu ini calon baik orang PDIP, ah jangan. Saya datang lagi, akhirnya beliau jadi gubernur," tambah JK.
Setelah terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi kemudian datang ke Jusuf Kalla mengucapkan terimakasih.
"Waktu dia menang jadi gubernur, datang ke saya ucapan terimakasih. apa kurangnya saya coba," katanya.
Jusuf Kalla pun mengatakan bahwa Jokowi bisa menjadi Presiden RI berkat dirinya.
"Kasih tahu semua termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya. Kan tanpa gubernur mana bisa jadi presiden," kata Jusuf Kalla.
(TribunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)