Nasib 9 Siswa SMAN 1 Purwakarta Usai Ejek & Acungkan Jari Tengah ke Guru, Orang Tua Nangis Histeris
jonisetiawan April 19, 2026 06:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Gelombang reaksi publik terus menguat setelah video viral yang memperlihatkan aksi tidak pantas sejumlah siswa di SMA Negeri 1 Purwakarta terhadap seorang guru perempuan.

Peristiwa yang terekam dalam durasi singkat itu kini tak hanya menjadi sorotan masyarakat, tetapi juga mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.

Keprihatinan Gubernur Jawa Barat

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengaku prihatin setelah mengetahui kronologi kejadian tersebut.

Baca juga: Siswa SMA di Jogja Minta Maaf Usai Mengaku Dilengserkan dari Ketua OSIS Usai Tolak MBG: Saya Bohong

Ia menyampaikan telah menerima penjelasan langsung dari Kepala Dinas Pendidikan terkait insiden yang terjadi di ruang kelas itu.

“Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut dan kronologisnya, saya sudah mendengarkan paparan dari Kepala Dinas Pendidikan,” ujarnya.

Dalam video berdurasi 31 detik yang beredar luas, tampak sekelompok siswa berseragam mengejek guru di depan kelas.

Salah satu adegan yang paling menyita perhatian publik adalah aksi seorang siswi di bagian belakang kelas yang mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah guru.

Orangtua Menyesal, Sekolah Ambil Tindakan

Berdasarkan informasi yang diterima, pihak sekolah telah memanggil orangtua siswa yang terlibat. Reaksi emosional pun muncul dari para orangtua yang merasa terpukul atas perilaku anak-anak mereka.

“Orangtuanya nangis, merasa menyesal atas tindakan anaknya,” kata Dedi.

Sebagai langkah awal, sekolah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada para siswa tersebut. Namun, kebijakan ini dinilai belum cukup menyentuh aspek pembinaan karakter.

SISWA SMA VIRAL - Insiden viral di SMA Negeri 1 Purwakarta, siswa mengolok-olok guru perempuan di dalam kelas, Dedi Mulyadi beri kritikan.
SISWA SMA VIRAL - Insiden viral di SMA Negeri 1 Purwakarta, siswa mengolok-olok guru perempuan di dalam kelas, Dedi Mulyadi beri kritikan. (Youtube Banjarmasin Post News Video)

Usulan Hukuman: Kerja Sosial yang Mendidik

Alih-alih hanya memberikan skorsing, Dedi Mulyadi mengusulkan pendekatan yang lebih edukatif. Ia menyarankan agar hukuman diganti dengan kegiatan yang memiliki nilai pembelajaran, seperti membersihkan lingkungan sekolah.

“Saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing selama 19 hari… tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu dalam setiap hari dan membersihkan toilet,” ucapnya.

Menurutnya, hukuman semacam ini tidak hanya memberi efek jera, tetapi juga membentuk rasa tanggung jawab dan kedisiplinan siswa secara langsung.

Durasi hukuman pun dapat disesuaikan, berkisar antara satu hingga tiga bulan, tergantung perubahan sikap yang ditunjukkan.

Baca juga: Siswa SMA di Purwakarta Acungkan Jari Tengah ke Guru, Dedi Mulyadi Ngamuk: Suruh Bersihkan Toilet!

Fokus pada Pembentukan Karakter

Dedi menegaskan bahwa esensi dari sebuah hukuman bukan sekadar memberi sanksi, melainkan membangun karakter. Ia mengingatkan bahwa para siswa tetaplah anak-anak yang membutuhkan bimbingan, baik dari orangtua maupun guru.

“Prinsip dasar adalah setiap hukuman yang diberikan harus hukuman yang memberikan manfaat bagi pembentukan karakter.

Bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan oleh gurunya,” pungkasnya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan sikap dan nilai.

Di tengah era digital yang serba terbuka, pengawasan dan pembinaan karakter menjadi semakin penting agar ruang kelas tetap menjadi tempat yang aman dan penuh rasa hormat.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.