Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH — Persatuan Arsitek Internasional atau Union Internationale des Architectes (UIA) melalui program kerja Natural and Human Disasters menggelar konferensi internasional bertajuk International Conference on Natural & Human Disaster 2026: Rethinking Architecture – Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3) di Banda Aceh.
Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, yakni mulai Jumat hingg Minggu, 17-19 April 2026.
Pada hari kedua pelaksanaan konferensi, para peserta dari dalam dan luar negeri diajak mengunjungi sejumlah situs bersejarah yang terdampak tsunami 2004.
Lokasi yang dikunjungi antara lain Masjid Raya Baiturrahman, escape building (gedung penyelamatan) di Lambung, kuburan massal korban tsunami, PLTD Apung, serta Museum Tsunami Aceh.
Ketua Penyelenggara DR3 Aceh 2026 sekaligus Ketua Region IV (Asia dan Oceania) UIA Natural and Human Disasters Work Programme, Aimee Roslan, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan memberikan pemahaman langsung kepada peserta mengenai dampak tsunami dan upaya penanganan bencana di Aceh.
Baca juga: Mahasiswa dari 7 Negara Diajak Kunjungi Situs Sejarah, Gampong Pande hingga Rumoh Aceh
“Pada hari ini merupakan hari kedua di mana kita sudah membawa para peserta, baik lokal maupun internasional, ke beberapa situs yang terdampak tsunami di Aceh.
Di situ para peserta dapat mempelajari tsunami itu sendiri dan bagaimana cara Aceh mengatasi bencana itu,” ujar Aimee.
Ia menjelaskan, di Masjid Raya Baiturrahman, peserta diperlihatkan bagaimana bangunan tersebut tetap kokoh berdiri saat tsunami melanda, meskipun kawasan sekitarnya luluh lantak.
“Kita menceritakan bagaimana masjid ini tetap kekar berdiri, padahal sekelilingnya musnah pada masa tsunami itu,” katanya.
Rombongan juga mengunjungi PLTD Apung, melewati kuburan massal korban tsunami, serta melihat langsung escape building di kawasan Lambung yang kini menjadi salah satu infrastruktur mitigasi bencana.
Menurut Aimee, peserta internasional mengaku kagum dengan upaya rekonstruksi dan kesiapsiagaan bencana di Aceh, khususnya pembangunan fasilitas penyelamatan seperti escape building.
“Para peserta kita terutama dari luar negeri amat kagum sekali dengan bagaimana bangunan seperti escape building bisa dibangun dan amat berguna sekali untuk kegiatan masyarakat,” ujarnya.
Kunjungan juga dilakukan ke Museum Tsunami Aceh, yang dipandu langsung oleh arsiteknya, Ridwan Kamil.
Kehadiran Ridwan Kamil memberikan penjelasan mendalam terkait konsep desain museum sebagai ruang refleksi sekaligus edukasi kebencanaan.
“Sejujurnya para peserta amat bergembira sekali dan mereka mengatakan beginilah cara Aceh membangun kembali dan mengelola bencana dengan baik,” kata Aimee.
Ia menambahkan, kunjungan lapangan ini menjadi bagian penting dari konferensi untuk mengingat kembali tragedi Tsunami Aceh 2004 sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana.
“Tujuan kunjungan ini untuk memahami apa yang terjadi saat tsunami 2004, kemudian melihat langkah-langkah yang telah dibuat oleh pemerintah daerah dan pusat untuk mengantisipasi jika bencana serupa terjadi lagi,” ujarnya.
“Jadi kunjungan ini juga untuk mengenang kembali memori dan memberikan kesadaran bagi kita semua bahwa inilah yang terjadi bila bencana melanda,” pungkas Aimee.(*)
Baca juga: Situs Sejarah Nasional Rumoh Geudong di Pidie tanpa Alokasi Dana Operasional