SURYA.co.id – Euforia pembukaan Selat Hormuz ternyata tak bertahan lama.
Kurang dari 24 jam setelah jalur vital perdagangan minyak dunia itu kembali dibuka usai kesepakatan gencatan senjata di Lebanon, Iran justru melontarkan ancaman baru kepada Amerika Serikat.
Teheran memperingatkan bahwa akses pelayaran global bisa kembali ditutup jika Washington tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pernyataan ini langsung mengguncang pasar global yang sebelumnya mulai stabil.
"Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka," tulis Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf di media sosial X, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.
Ancaman ini menjadi sinyal kuat bahwa “kunci” jalur energi dunia masih sepenuhnya berada di tangan Iran, dan bisa digunakan kapan saja sebagai alat tekanan diplomatik.
Nada keras juga datang dari pemerintah Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei menegaskan bahwa tindakan militer bukan sekadar retorika.
"Pembukaan dan penutupan Selat Hormuz tidak terjadi di internet, itu ditentukan di lapangan, dan angkatan bersenjata kita tentu tahu bagaimana harus bertindak menanggapi tindakan apa pun dari pihak lain," kata dia.
"Apa yang mereka sebut blokade angkatan laut pasti akan ditanggapi dengan respons yang sesuai dari Iran. Blokade angkatan laut adalah pelanggaran gencatan senjata dan Iran pasti akan mengambil tindakan yang diperlukan." tambahnya.
Pernyataan ini memperjelas satu hal, Iran menganggap blokade sebagai bentuk pelanggaran langsung terhadap kesepakatan damai, dan siap membalas dengan langkah nyata di lapangan.
Baca juga: Israel - AS Terpecah Belah? Netanyahu Kini Beda Jalan dengan Trump, Israel Tuntut 1 Hal Ini ke Iran
Di balik ancaman tersebut, Iran sebenarnya menyampaikan syarat yang jelas kepada Amerika Serikat, hentikan segala bentuk blokade ekonomi maupun tekanan militer di wilayahnya.
Teheran menuntut implementasi penuh kesepakatan damai tanpa adanya intervensi tambahan, baik dalam bentuk sanksi maupun operasi militer di kawasan Teluk.
Namun, narasi ini berbenturan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang justru menyebut proses perdamaian sudah hampir tercapai.
"Sepertinya ini akan sangat baik untuk semua orang. Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan. Tidak ada lagi poin yang menjadi kendala dengan Teheran," ujarnya.
Trump bahkan mengklaim Iran telah setuju menyerahkan uranium yang telah diperkaya.
"Kita akan mendapatkannya dengan bekerja sama dengan Iran, dengan banyak alat berat," katanya dalam acara Turning Point USA di Phoenix, Arizona.
Namun klaim tersebut langsung dibantah oleh Iran yang menegaskan bahwa persediaan uranium mereka tidak akan diserahkan.
Ancaman terbaru ini langsung memicu kekhawatiran di pasar global. Selat Hormuz diketahui merupakan jalur distribusi sekitar sepertiga minyak dunia.
Ketidakpastian atas akses jalur ini membuat harga minyak sangat rentan berfluktuasi.
Para analis ekonomi menilai bahwa gangguan sekecil apa pun di Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi secara global, yang berimbas langsung pada inflasi di berbagai negara pada 2026.
Investor pun kembali bersikap wait and see, mengantisipasi kemungkinan eskalasi konflik yang bisa terjadi dalam waktu singkat.
Pernyataan keras lainnya datang dari Ghalibaf yang meragukan keberhasilan negosiasi lanjutan.
"Mereka tidak memenangkan perang dengan kebohongan ini, dan mereka tentu tidak akan mendapatkan apa pun dalam negosiasi," tegasnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa pembukaan Selat Hormuz bukanlah akhir konflik, melainkan awal dari babak baru dalam perang urat saraf antara Teheran dan Washington.
Kini, bola panas berada di tangan Presiden AS.
Jika respons yang diambil tidak tepat, maka “kedamaian semu” di kawasan Teluk bisa runtuh sewaktu-waktu, dan dunia harus bersiap menghadapi lonjakan harga minyak yang tak terkendali.
Pemerintah Iran akhirnya resmi membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz sejak Jumat (17/4/2026), menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Selat Hormuz terbuka untuk semua kapal komersial selama periode gencatan senjata tersebut.
"Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi seperti yang telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran," tulis Araghchi di X dilansir CNN, Jumat (17/4/2026).
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pun menyatakan terima kasih dan menyambut baik langkah Iran tersebut.
Namun, ia menambahkan, blokade militer AS di selat tersebut tetap berlaku untuk Teheran sampai terjadi kesepakatan final.
"Selat Hormuz telah sepenuhnya terbuka dan siap untuk kegiatan bisnis dan pelayaran penuh, tetapi blokade angkatan laut akan tetap berlaku sepenuhnya, hanya untuk Iran, sampai transaksi kita dengan Iran selesai 100 persen," ujar Trump di Truth Social, dikutip dari AFP, Jumat (17/4/2026).
"Proses ini seharusnya berjalan sangat cepat karena sebagian besar poin sudah dinegosiasikan. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini," sambungnya.
Harga minyak dunia anjlok pada akhir perdagangan Jumat (17/4/2026) waktu setempat atau Sabtu (18/4/2026) WIB, setelah Iran menyatakan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz kembali dibuka.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun 9,01 dollar AS atau 9,07 persen menjadi 90,38 dollar AS per barrel, setelah pada sesi sebelumnya sempat menyentuh level terendah di 86,09 dollar AS.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok 10,48 dollar AS atau 11,45 persen ke level 83,85 dollar AS per barrel, setelah sempat menyentuh level terendah 80,56 dollar AS.
Penurunan kedua patokan harga minyak dunia itu menjadi yang terbesar sejak 8 April 2026, seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Kini seluruh kapal dapat melintasi Selat Hormuz, namun tetap harus berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran, menurut seorang pejabat senior Iran.