TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Unit Kegiatan Mahasiswa pecinta alam WaPEALA Universitas Diponegoro (Undip) memperingati HUT ke-50 dalam rangkaian acara yang dihelat 17 sampai 19 April 2025.
Ketua Umum Wapeala Undip, Ismail Aryaputra, mengatakan peringatan setengah abad ini menjadi momentum refleksi bagi organisasi yang berdiri sejak 17 April 1976 tersebut hingga sekarang.
“Di usia 50 tahun ini, kami menilai Wapeala sudah cukup dewasa. Jika dulu fokus pada ekspedisi dan pendakian, sekarang kami juga berkomitmen merawat lingkungan yang kami jelajahi,” ujar Ismail.
Ia menjelaskan rangkaian kegiatan peringatan meliputi donor darah, environmental talk show bertema keadilan ekologis, serta bedah buku 50 tahun Wapeala Undip .Selain itu, turut dibahas buku mengenai teknik restorasi kawasan pesisir karya alumni Wapeala.
Ismail menambahkan, Wapeala juga memperkuat komitmen pada pengabdian masyarakat melalui kegiatan sosial.
“Kami tidak hanya berfokus pada kepencintaalaman, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” katanya.
Puncak peringatan dilanjutkan pada Sabtu (18/4/2026) dengan kegiatan estafet sejauh 50 kilometer dari Widya Puraya Undip hingga Dusun Tekelan di lereng Gunung Merbabu, Kabupaten Semarang.
Baca juga: AS Tak Tepati Kesepakatan, Iran Kembali Blokade Total Selat Hormuz: Trump Tak Bisa Memeras Kami!
Menurut Ismail, estafet tersebut melibatkan perwakilan dari setiap angkatan, mulai dari angkatan pertama hingga angkatan ke-41. Masing-masing peserta akan membawa bendera secara bergantian sebagai simbol keberlanjutan organisasi.
“Ini menjadi bentuk estafet nilai dari generasi ke generasi. Jaraknya kami sesuaikan dengan usia organisasi, yakni 50 kilometer,” jelasnya.
Ismail menjelaskan, sistem estafet dibagi dalam beberapa pos dengan jarak berbeda, mulai dari 500 meter hingga 1,5 kilometer per peserta, menyesuaikan kondisi fisik tiap angkatan.
Kegiatan ini juga dilengkapi pengamanan dan dukungan logistik, termasuk tim medis, marshal, serta kendaraan pengawal untuk memastikan keselamatan peserta.
Salah satu peserta, Aris Kabul Pranoto yang merupakan perwakilan angkatan awal, menyatakan sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut.
“Kami angkatan pertama tetap ikut berpartisipasi. Ini bentuk kebersamaan lintas generasi,” ujarnya pria 67 tahun ini.
Setelah kegiatan estafet, rangkaian peringatan akan ditutup dengan reuni akbar Wapeala yang digelar di Salatiga.
Ismail berharap, di usia ke-50 ini Wapeala dapat terus berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengedukasi masyarakat.
“Ke depan, kami ingin tidak hanya mencapai puncak, tetapi juga menjaga agar alam tetap lestari untuk generasi selanjutnya,” pungkasnya.
Lebih dari itu, warga Depok ini juga turut berkontribusi melalui penulisan buku tentang teknik restorasi ekosistem pesisir yang juga dibedah dalam kegiatan ini.
Buku tersebut membahas upaya pemulihan tiga komponen utama ekosistem pesisir, yakni terumbu karang, mangrove, dan lamun yang selama ini banyak mengalami kerusakan.
Baca juga: Adu Harga BBM Terbaru Usai Ada Kenaikan: Pertamina vs Vivo vs BP, Siapa Paling Murah untuk RON 92?
Aris yang merupakan pensiunan dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang menjelaskan, buku tersebut disusun sebagai panduan teknis berbasis ilmiah yang dapat diterapkan oleh masyarakat maupun kalangan akademisi.
“Buku ini di susun sebagai pedoman bagaimana melakukan restorasi ekosistem pesisir agar yang rusak bisa kembali menjadi baik,” ujarnya.
Ia juga mendorong mahasiswa, khususnya anggota Wapeala, untuk mengimplementasikan isi buku tersebut melalui program nyata di masyarakat, termasuk membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). (arl)