Waduh, Viral di Medsos, Nakes Salatiga Tantang Antivaksin, Siap Disuntik 3 Vaksin Sekaligus
Rustam Aji April 19, 2026 12:25 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SALATIGA - Perdebatan soal vaksin di media sosial facebook sedang ramai diperbincangkan. Seorang tenaga kesehatan (nakes) di Salatiga, Ragil Kurniawan tengah memberikan edukasi soal pentingnya vaksin. 

Namun, edukasi tersebut dibantah pihak antivaksin hingga akhirnya nakes tersebut mengajukan tantangan divaksin tiga jenis sekaligus.

Ragil mengaku, awalnya hanya ingin menyampaikan pentingnya vaksinasi kepada masyarakat.

 Ia merujuk pada laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang mencatat adanya outbreak campak sepanjang 2025 hingga 2026, dengan sekitar 70 hingga 72 anak meninggal dunia yang sebagian besar belum mendapatkan imunisasi.

"Saya sebagai tenaga kesehatan melakukan edukasi lewat media sosial bahwa vaksin penting untuk menjaga kesehatan masyarakat terutama anak-anak. Unggahan saya direspon dari grup antivaksin yang menyatakan sebaliknya, vaksin berbahaya, ada chipnya, program depopulasi, dan sebagainya," paparnya, Minggu (19/4/2026). 

Merespons hal tersebut, Ragil melontarkan tantangan secara spontan. Ia menyatakan bersedia menerima tiga jenis vaksin sekaligus yakni HPV, dengue, dan influenza dengan syarat biaya ditanggung pihak penantang.

Baca juga: Dua Rumah di Sapuran Wonosobo Hanguskan Terbakar, Kerugian Capai Rp 400 Juta

Tak disangka, tantangan itu direspons oleh salah satu akun kelompok antivaksin yang menyanggupi untuk membiayai vaksinasi tersebut. Rencana pun sempat disusun, dengan pelaksanaan dijadwalkan pada Senin (20/4/2026) di rumah vaksin Semarang.

Rencana aksi tersebut pun viral dan menarik perhatian publik warganet.

"Ungggahan viral, meledak. Banyak orang tertarik. Padahal, vaksinasi biasa sejak dulu ada," paparnya. 

Selain menjadi momen edukasi, Ragil menyebut, langkah ini juga menguntungkan secara pribadi karena total biaya vaksin mencapai sekitar Rp 3,5 juta. Ia juga melihatnya sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa vaksin aman.

"Saya dapat sell memori secara gratis. Kedua, ini edukasi publik bahwa vaksin tidak berbahaya. Saya tidak ada kekhawatiran. Malah seneng," ungkapnya. 

Namun, menjelang pelaksanaan, pihak antivaksin membatalkan kesepakatan. Alasannya, proses pemeriksaan kesehatan (MCU) yang menjadi bagian dari kesepakatan sebelum dilakukan vaksinasi tidak diperbolehkan untuk direkam oleh fasilitas kesehatan.

"Dia mau MCU-nya direkam, tapi dari pihak faskes tidak boleh," katanya. 

Meski demikian, Ragil menegaskan, akan tetap melanjutkan rencananya untuk melakukan vaksinasi tiga jenis vaksin sekaligus dengan biaya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa anggapan vaksin berbahaya tidak berdasar.

"Membantah asumsi genk antivax bahwa vaksin bahaya. Jadi, pikiran mereka itu kan vaksin bahaya, sehingga saya harus MCU. Besok tak buktikan," ucapnya. (eyf)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.