TRIBUNGORONTALO.COM – Operasi pencarian pencarian terhadap dua anak yang terseret arus deras Sungai Bulango, kawasan Jembatan Ampi, Kelurahan Molosipat U, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo, akhirnya mencapai titik akhir.
Seluruh korban yang dilaporkan hilang kini telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Dengan ditemukannya korban terakhir, pihak berwenang secara resmi menghentikan seluruh aktivitas pencarian di sepanjang aliran sungai tersebut.
Dua bocah yang menjadi korban dalam peristiwa nahas ini adalah Alindra Elmira Ramadhan (10) dan Muhammad Nazril Pakaya (10). Keduanya merupakan teman sepermainan yang sedang menghabiskan waktu bersama di sungai sebelum musibah terjadi.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai unsur telah bekerja keras melakukan penyisiran intensif selama dua hari berturut-turut. Mereka harus berpacu dengan waktu dan kondisi alam yang tidak menentu untuk menemukan keberadaan kedua korban.
Kasi Operasi Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Gorontalo, Halidin La Bidu, memberikan penjelasan resmi mengenai kronologi kejadian ini. Ia menyebutkan bahwa laporan awal masuk ke pihak Basarnas pada Jumat (17/4/2026) malam.
Pihak keluarga yang sebelumnya berupaya mencari secara mandiri merasa putus asa karena tanda-tanda keberadaan anak-anak mereka tidak kunjung ditemukan. Oleh karena itu, mereka segera menghubungi Kantor Pencarian dan Pertolongan Gorontalo untuk meminta bantuan profesional.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun, insiden bermula saat Alindra dan Nazril pergi ke sungai untuk mandi bersama pada Jumat siang, sekitar pukul 13.20 Wita. Cuaca pada saat itu awalnya terlihat mendukung untuk aktivitas di luar ruangan.
Namun, situasi mendadak berubah menjadi mencekam ketika debit air sungai tiba-tiba meningkat drastis. Arus yang semula tenang berubah menjadi aliran yang sangat kuat dan langsung menyeret tubuh kedua bocah tersebut ke arah hilir.
Merespons laporan tersebut, tim segera bergerak menuju titik lokasi kejadian (LKP). Personel penyelamat dikerahkan dengan peralatan lengkap guna memulai operasi penyisiran di tengah kegelapan malam.
"Tim SAR gabungan tiba di lokasi pada pukul 20.10 Wita dan langsung berkoordinasi dengan keluarga korban serta melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai, khususnya di sekitar Jembatan Ampi hingga wilayah aliran Sungai Bulango," ujarnya Minggu (19/4/2026).
Pencarian tahap awal di malam pertama membuahkan hasil yang cepat namun menyedihkan. Tak lama setelah menyusuri tepian sungai, petugas menemukan tanda-tanda keberadaan salah satu korban di dekat area jembatan.
Muhammad Nazril Pakaya ditemukan sekitar pukul 20.58 Wita. Posisi jenazah korban berada di bawah jembatan, tidak jauh dari titik awal saat mereka dilaporkan terseret arus sungai.
Petugas segera melakukan proses evakuasi terhadap jenazah Nazril di bawah suasana haru menyelimuti lokasi. Jenazah kemudian diserahkan kepada pihak keluarga pada pukul 21.10 Wita untuk dilakukan proses persemayaman.
Korban pertama, Nazril, telah dimakamkan oleh pihak keluarga pada keesokan harinya. Meskipun duka menyelimuti, tim SAR tidak bisa berhenti karena satu korban lainnya, yakni Elmira, masih belum ditemukan.
Pencarian terhadap Elmira sempat dilanjutkan hingga larut malam pada hari Jumat tersebut. Namun, keterbatasan cahaya dan faktor keamanan personel membuat tim harus mengambil keputusan untuk menghentikan operasi sementara.
"Atas arahan dari kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Goronyalo kepada komandan regu Foxfort bahwa dilaksanakan upaya pencarian hari kedua ini di mulai pukul 06.30 Wita," jelas Halidin.
Pada hari kedua, operasi SAR diperluas secara signifikan. Kekuatan tim gabungan dibagi menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU) untuk memastikan setiap sudut aliran sungai diperiksa dengan teliti.
SRU 1 difokuskan untuk melakukan penyisiran di atas air. Mereka menyusuri aliran sungai mulai dari lokasi kejadian menggunakan perahu karet milik KPP Gorontalo dan BPBD Kota Gorontalo.
Sementara itu, SRU 2 memiliki tugas yang tidak kalah berat, yakni menyisir sepanjang bantaran sungai melalui jalur darat. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi jika korban tersangkut di pepohonan atau bebatuan di pinggir sungai.
Penyisiran yang berlangsung selama berjam-jam ini akhirnya membuahkan hasil pada sore hari. Tim melihat adanya objek yang mengapung di kejauhan yang diduga kuat sebagai korban kedua.
"Setelah melakukan penyisiran intensif selama beberapa jam, tim gabungan akhirnya melihat tanda-tanda keberadaan korban," lanjut Halidin menceritakan detik-detik penemuan tersebut.
Alindra Elmira Ramadhan akhirnya ditemukan pada pukul 16.05 Wita. Jenazah Elmira ditemukan di sekitar perairan Tombulobutao, dalam kondisi yang sudah tidak bernyawa.
Penemuan ini menjadi penutup dari rangkaian pencarian yang melelahkan bagi seluruh tim yang terlibat. Rasa lega bercampur duka menyelimuti para relawan dan petugas saat mengevakuasi korban terakhir ke rumah duka.
"Dengan ditemukannya korban ke 2, Operasi SAR diusulkan untuk ditutup," pungkas Halidin dengan nada tegas namun penuh simpati.
Selama operasi berlangsung, tim di lapangan menghadapi tantangan alam yang ekstrem. Air sungai yang sangat keruh akibat hulu yang diguyur hujan menjadi hambatan utama dalam jarak pandang di bawah air.
Selain itu, banyaknya bebatuan tajam dan sampah di sepanjang aliran sungai meningkatkan risiko keselamatan bagi para penyelamat. Hujan yang turun secara fluktuatif juga sempat menghambat pergerakan alat utama di air.
Berdasarkan pantauan TribunGorontalo.com, suasana di rumah duka Kelurahan Molosipat U tampak sangat padat oleh pelayat. Korban kedua, Elmira, telah dimakamkan pada Sabtu malam usai salat Magrib di pemakaman keluarga terdekat.
Baca juga: Fakta-fakta 2 Bocah Hanyut di Sungai Bulango Gorontalo, Keluarga Sempat Curiga
Kepergian Muhammad Nazril Pakaya menyisakan kekosongan yang mendalam bagi mereka yang mengenalnya. Di mata para tetangga di Kelurahan Molosipat U, Nazril bukanlah sekadar anak kecil biasa, melainkan sosok yang sangat santun.
Bocah berusia 10 tahun ini dikenal memiliki kepribadian yang cenderung pendiam namun sangat ramah. Ia tidak pernah membuat kegaduhan dan selalu menghormati orang yang lebih tua di lingkungannya.
Satu hal yang paling membekas di ingatan warga adalah kebiasaan religius Nazril yang sudah terpupuk sejak dini. Ia dikenal sebagai anak yang rajin menjalankan ibadah tanpa perlu diminta berulang kali oleh orang tuanya.
Seorang warga sekitar yang sering berinteraksi dengannya menuturkan bahwa keseharian Nazril sangat teratur. Aktivitasnya setelah pulang sekolah biasanya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat bagi jiwanya.
“Setiap pulang dia pasti mengaji, itu yang sering saya lihat karena dia selalu lewat di depan rumah,” ujar seorang tetangga dengan mata berkaca-kaca pada Sabtu (18/4/2026).
Selain rajin mengaji, Nazril juga dikenal sebagai anak yang disiplin dalam melaksanakan salat lima waktu. Ia sering terlihat menuju masjid atau segera berwudu saat azan berkumandang setelah sampai di rumah.
Meski pendiam, Nazril bukanlah anak yang menutup diri dari pergaulan. Ia memiliki banyak teman sebaya di lingkungan tempat tinggalnya dan aktif bermain seperti anak-anak pada umumnya.
“Mereka satu kelas dan sering bersama, anaknya aktif tapi tetap baik,” tambah tetangga tersebut, mengenang kebersamaan Nazril dan Elmira yang memang merupakan teman akrab.
Kepergiannya terasa kian memilukan karena Nazril sebenarnya memiliki rencana besar untuk masa depannya. Pihak keluarga telah mempersiapkan kepindahan Nazril untuk melanjutkan pendidikan di luar daerah.
Nazril dijadwalkan akan menyusul ayahnya ke Morowali pada tahun ajaran baru mendatang. Rencana tersebut dimaksudkan agar ia bisa tinggal bersama saudaranya dan mendapatkan perhatian langsung dari sang ayah.
“Rencananya akan ikut ayahnya ke Morowali dan sekolah di sana,” ungkap warga tersebut, menceritakan impian yang kini harus terkubur bersama sang bocah.
Paman korban, Romi Pakaya, tidak dapat menyembunyikan kesedihannya saat ditemui di rumah duka. Baginya, keponakannya tersebut adalah anak yang patuh dan sangat membantu di rumah.
“Anaknya baik, sering membantu keluarga di rumah dan juga sering bermain dengan teman-temannya,” kata Romi dengan suara yang sedikit bergetar.
Romi menceritakan bahwa pada hari kejadian, ia tidak menyangka aktivitas mandi di sungai akan berakhir tragis. Mandi di sungai memang sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan anak-anak di wilayah tersebut sepulang beraktivitas.
Arus Sungai Bulango yang tiba-tiba berubah menjadi ganas memang sulit diprediksi, bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Kondisi inilah yang membuat kedua korban tidak sempat menyelamatkan diri saat air bah datang.
Sejarah mencatat bahwa Sungai Bulango memang memiliki karakteristik arus yang bisa meningkat secara mendadak jika terjadi hujan di wilayah pegunungan. Hal ini seringkali mengejutkan warga yang sedang beraktivitas di pinggir sungai.
Pihak otoritas setempat pun mengimbau kepada seluruh orang tua untuk lebih waspada dan mengawasi anak-anak mereka saat bermain di dekat aliran sungai. Terutama mengingat cuaca ekstrem yang sering terjadi belakangan ini.
Kini, lokasi di sekitar Jembatan Ampi yang biasanya ramai dengan tawa anak-anak mendadak sepi dan penuh haru. Warga sekitar masih sering berkumpul untuk mendoakan kedua almarhum yang telah pergi mendahului mereka.
Kepergian Nazril dan Elmira menjadi pengingat penting bagi masyarakat Gorontalo akan bahaya tersembunyi di balik tenangnya aliran sungai.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Gorontalo, Mulyono Mardjun, sebagian besar kejadian hanyut di wilayah Kota Gorontalo dipicu oleh minimnya kemampuan berenang dan kurangnya pengawasan orang tua.
Anak-anak sering bermain di sungai tanpa memperhatikan kondisi air yang tiba-tiba naik atau arus yang deras.
BPBD juga menemukan bahwa banyak warga masih menganggap aktivitas di sungai sebagai hal biasa, tanpa menyadari potensi bahaya yang mengintai, terutama di musim hujan.
Padahal, arus sungai Bulango seringkali tidak dapat diprediksi, dan beberapa titik memiliki pusaran air berbahaya.
“Kadang masyarakat tidak sadar. Mereka pikir arusnya pelan, padahal di tengah bisa sangat deras. Karena itu kami tekankan pentingnya kewaspadaan, apalagi saat hujan turun di wilayah hulu,” tegas Mulyono. (*)