TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi belum berdampak signifikan terhadap usaha rental kendaraan di Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari, Minggu (19/4/2026).
Kenaikan harga BBM nonsubsidi di Indonesia terjadi karena harganya mengikuti mekanisme pasar bebas yang sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia akibat eskalasi ketegangan geopolitik global, terutama di Timur Tengah.
Selain itu, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat turut membuat biaya impor bahan baku minyak menjadi lebih mahal.
Hal ini membuat badan usaha seperti Pertamina harus melakukan penyesuaian harga jual eceran secara berkala sesuai dengan formula dari Kementerian ESDM untuk mencegah kerugian dan menjaga keamanan pasokan energi nasional.
Sejumlah pelaku usaha mengaku aktivitas bisnis mereka masih berjalan normal dan belum mengalami penurunan permintaan.
Sahidin (79), pemilik usaha rental di Muara Bulian, mengatakan belum merasakan dampak langsung dari kenaikan harga BBM. Ia menyebut, permintaan penyewaan kendaraan masih tetap ada seperti biasa.
"Untuk saat ini belum ada pengaruh, masih ada yang merental dan usaha masih berjalan lancar," katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena usahanya hanya menyediakan kendaraan, sementara biaya bahan bakar ditanggung oleh penyewa.
Hal itu membuat kenaikan harga BBM belum memberikan efek terhadap operasional usahanya.
"Kami ini hanya penyedia fasilitas, untuk BBM itu biasanya ditanggung penyewa, jadi belum terasa dampaknya," ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku tetap memantau perkembangan harga BBM ke depan. Ia tidak menutup kemungkinan akan ada penyesuaian jika kondisi terus berubah.
"Kalau nanti memang ada dampaknya, mungkin akan terasa ke depannya," tambahnya.
Untuk tarif, ia menetapkan harga sewa sebesar Rp300.000 per hari untuk penggunaan di dalam daerah.
Sementara untuk penggunaan luar daerah, harga disesuaikan berdasarkan kesepakatan antara pemilik dan penyewa.
"Kalau di luar daerah, biasanya tergantung negosiasi," jelasnya.
Hal serupa disampaikan Sari, pemilik usaha rental lainnya di Kecamatan Muara Bulian. Ia mengungkapkan bahwa hingga kini usahanya juga masih berjalan normal tanpa adanya dampak berarti dari kenaikan BBM.
"Masih normal dan lancar, belum ada imbas dari kenaikan BBM," ungkapnya.
Ia menjelaskan, penggunaan bahan bakar pada kendaraan rental biasanya disesuaikan dengan preferensi pelanggan. Hal tersebut turut memengaruhi belum adanya dampak langsung terhadap usahanya.
"Biasanya tergantung yang merental, mau pakai jenis BBM apa," tuturnya.
Ia juga menyebutkan bahwa saat ini mayoritas pelanggan masih berasal dari dalam daerah. Ia menambahkan, lonjakan permintaan biasanya terjadi pada momen hari besar atau libur panjang.
"Kalau sekarang masih didominasi dalam daerah, biasanya ramai saat liburan panjang," tuturnya.
Selain usaha rental, ia juga menjalankan usaha penjualan BBM eceran. Saat ini, ia masih menjual Pertalite dengan harga Rp12.000 per liter dan belum melakukan penyesuaian harga.
"Masih jual harga biasa, kalau ada kenaikan signifikan mungkin akan dipertimbangkan, tapi tetap melihat kondisi pelanggan," ungkapnya.
Ia berharap harga BBM ke depan dapat kembali stabil, mengingat kondisi ekonomi masyarakat yang dinilai sedang sulit.
"Semoga bisa stabil lagi, karena sekarang ekonomi memang sedang susah dan penghasilan orang juga sulit," pungkasnya. (Tribunjambi.com/Khusnul Khotimah)
Baca juga: Kronologi Balita Meninggal Usai Dirawat di RSUP M Djamil Padang