TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Program Studi Profesi Arsitek (PPAr) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali memperkuat barisan tenaga ahli konstruksi tanah air.
Sebanyak 30 lulusan resmi dikukuhkan dalam Wisuda Pendidikan Profesi Arsitek Angkatan ke-17 Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar di Yogyakarta, Sabtu (18/4/2026).
Momen ini menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya para lulusan menggunakan gelar pendidikan profesi baru, yaitu P.Ars (Profesi Arsitektur), sesuai dengan regulasi nasional terbaru.
Ketua Program Studi Profesi Arsitek UII, Dr. Ar. Yulianto Purwono Prihatmaji, S.T., M.T., IPM., IAI., mengungkapkan, keberadaan lulusan baru ini sangat krusial mengingat Indonesia masih mengalami kekurangan tenaga arsitek yang signifikan.
"Pemegang STRA (Surat Tanda Registrasi Arsitek) sekarang berjumlah 8.100. Dengan begitu, rasio dengan penduduk Indonesia hari ini yang berjumlah 287,1 juta adalah 1 banding 35.000 penduduk. Kalau kita melihat rasio secara ideal di negara berkembang, satu arsitek itu akan melayani 20.000 orang. Artinya, kita masih kekurangan separuh lebih," ujarnya.
Kendati demikian, PPAr UII terus menjaga standar kualitasnya dengan raihan akreditasi internasional penuh selama enam tahun dari Korea Architectural Accrediting Board (KAAB).
Raihan tersebut, jelas Yulianto, menjadikan PPAr UII sebagai salah satu dari sedikit program studi di Indonesia yang memiliki pengakuan global.
Baca juga: Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, PSAD UII Desak Pembentukan TGPF dan Pelibatan Hakim Ad Hoc
Menurutnya, lulusan PPAr UII telah ditempa melalui pengalaman nyata, termasuk keterlibatan langsung dalam penataan kawasan perkampungan di Kota Yogyakarta.
"Para lulusan tidak hanya menyelesaikan pendidikan secara akademik, tetapi juga telah terlibat dalam proyek riil bersama masyarakat, pemerintah, dan mitra profesional. Dengan bekal tersebut, kami optimis mereka siap berkontribusi sebagai arsitek profesional yang beretika dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat," tegasnya.
Selama menempuh masa pendidikan, para mahasiswa berperan sebagai pendamping masyarakat dalam mencari solusi desain yang adekuat.
Salah satu capaian konkret adalah penyusunan desain di tujuh titik lokasi kampung, yang terletak di bantaran sungai di wilayah Kota Yogyakarta.
Proyek ini merupakan hasil kolaborasi konsorsium Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII dengan mitra internasional seperti Global Resilience Partnership di Swedia, serta SPARC India dan Indonesia.
Bahkan, tiga lokasi di antaranya telah berhasil dibangun melalui orkestrasi anggaran yang berasal dari lintas sektor, meliputi APBN, APBD, dan dana hibah.
"Model pembelajaran berbasis proyek atau advocacy design dan praktik di berbagai biro arsitek mitra di Jakarta, Bandung, Bali, hingga Malaysia ini terbukti ampuh. Banyak lulusan yang langsung terserap kerja bahkan sebelum prosesi wisuda dilaksanakan," ucapnya. (*)