TRIBUN-TIMUR.COM, BONE — Kenaikan harga bahan pokok produksi mulai dirasakan pelaku usaha kafe di Kabupaten Bone.
Kondisi ini dipicu meningkatnya harga sejumlah bahan baku, yang disebut terdampak oleh gejolak ekonomi global.
Salah satu usaha mulai merasakan dampaknya adalah Kafe Rabica di Jalan Hasanuddin, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone.
Owner Kafe Rabica, Arjum Syam, mengungkapkan, kenaikan paling terasa terjadi pada bahan kemasan, khususnya cup take away berbahan plastik.
“Untuk cup take away sekarang harganya sudah naik di atas Rp1.000 per cup. Sebelumnya masih di bawah Rp1.000, sekarang sudah naik,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (19/4/2026).
Menurut Arjum, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada kemasan plastik, tetapi juga mulai berdampak pada bahan lain seperti sedotan dan biji kopi.
Ia menyebut, kondisi ekonomi global turut memengaruhi harga bahan baku, terutama komoditas yang bergantung pada kurs dolar.
“Kalau biji kopi itu ikut kurs dolar, jadi memang berpengaruh semua. Plastik, sedotan, sampai bahan lainnya juga naik,” katanya.
Meski demikian, Arjum mengaku saat ini pihaknya masih belum menaikkan harga menu karena stok bahan baku masih tersedia.
Namun, ia memperkirakan dalam satu hingga dua bulan ke depan penyesuaian harga kemungkinan tidak bisa dihindari jika harga bahan terus naik.
“Kalau stok masih aman, tapi mungkin bulan depan atau dua bulan ke depan ada kemungkinan kenaikan harga,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihak kafe mulai menerapkan efisiensi operasional, salah satunya dengan mempertimbangkan penggunaan gelas kaca bagi pelanggan yang minum di tempat.
Menurutnya, penggunaan cup take away untuk pelanggan dine in dinilai tidak lagi efisien di tengah lonjakan harga bahan kemasan.
“Kami kemungkinan kembali pakai gelas kaca untuk yang minum di tempat, supaya bisa menghemat penggunaan cup plastik,” ujarnya.
Ia mengatakan, langkah serupa juga mulai dilakukan sejumlah pelaku usaha kafe lain untuk menekan biaya operasional.
Sementara itu, salah satu pengunjung Kafe Rabica, Agus, mengaku memahami kondisi tersebut dan tidak keberatan apabila ada perubahan dalam penyajian.
“Kalau minum di tempat pakai gelas kaca tidak masalah, malah lebih nyaman,” ujarnya.
Meski begitu, ia berharap jika nantinya ada kenaikan harga menu, angkanya masih dalam batas yang wajar agar pelanggan tetap bisa menikmati minuman favorit mereka.
“Kalau naik sedikit masih bisa dimaklumi, apalagi kalau bahan bakunya memang naik,” tandasnya.(*)