Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kawan Tuli Coffee and Space Solo menjadi salah satu kedai kopi unik yang menarik perhatian karena seluruh baristanya adalah teman tuli.
Meski tidak dapat mendengar, kemampuan mereka dalam meracik kopi berkualitas tinggi tidak perlu diragukan lagi.
Setiap sajian dibuat dengan presisi, menghasilkan cita rasa kopi yang nikmat dan konsisten.
Kedai ini bukan hanya menawarkan kopi, tetapi juga pengalaman inklusif yang menghangatkan.
Para barista tuli bekerja dengan percaya diri, membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya di industri kopi.
Salah satu menu yang paling banyak dipesan adalah Kopi Susu Kawan Tuli, signature drink dari coffee shop ini.
Proses pembuatannya dilakukan dengan sangat teliti, mulai dari biji kopi yang telah di-roasting, digiling, dipadatkan, hingga diekstraksi menggunakan mesin espresso.
Hasilnya adalah secangkir kopi susu dengan rasa seimbang, creamy, dan aromatik yang langsung terasa di lidah.
Proses kerja para barista terlihat sangat terampil, seolah sudah menjadi rutinitas yang dikuasai sepenuhnya.
Salah satu barista, Dela, mengungkapkan pengalamannya bekerja di Kawan Tuli Coffee and Space selama 8 bulan.
Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru, terutama dalam dunia kopi dan interaksi sosial.
“Saya pengalaman kerja di sini jadi Barista sudah 8 bulan. Belajar banyak hal. Kopi, rasa, karakter kopi beda-beda. Lalu bertumbuh dan berkembang lebih besar. Lalu ketemu teman-teman dengar. Interaksi komunikasi. Orang bisa nyaman. Tambah pengalaman,” jelas Dela.
Menurutnya, bekerja di tempat ini juga membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan pelanggan, termasuk mereka yang tidak memahami bahasa isyarat.
Dela juga menegaskan bahwa pengunjung tidak perlu khawatir meski tidak bisa berbahasa isyarat. Komunikasi tetap bisa dilakukan dengan cara sederhana.
“Aku merasa orang-orang itu seru belajar bahasa isyarat. Interaksi komunikasi. Nggak usah takut. Sharing-sharing. Mau pilih pesan apa. Bisa tulis juga. Nggak usah takut datang ke sini,” ujarnya.
Hal ini membuat Kawan Tuli Coffee and Space menjadi ruang inklusif yang ramah bagi semua kalangan.
Barista lain, Galih, juga membagikan kisah dan rencananya ke depan. Dengan penghasilan yang dimilikinya saat ini, ia mulai menabung untuk masa depan.
“Gaji disimpan aja. Masa depan nggak tahu. Mungkin beli rumah sendiri. Beli alat barista di rumah sendiri. Mungkin kalau misal capek istirahat gabut bikin kopi sendiri. Kan belajar dari sini. Bisa bikin V60 sendiri di rumah,” ungkapnya.
Saat ditanya mengenai impian membuka kedai kopi sendiri, Galih mengaku masih ingin belajar lebih banyak tentang dunia kopi sebelum memutuskan langkah besar tersebut.
“Nggak tahu. Sebenarnya rencana belum tahu sebab kalau misal sudah umur pensiun bisa buka sendiri. Kalau masih muda belajar terus. Biji banyak banget harus belajar lagi. Harus coba-coba cari rasa karena karakternya beda-beda,” tuturnya.
(*)