TRIBUNJATENG.COM - Semangat perjuangan Kartini tak pernah benar-benar padam.
Ia hidup dan berdenyut dalam kisah-kisah perempuan Indonesia masa kini, termasuk mereka yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) migran di Malaysia.
Di tengah keterbatasan, tekanan kerja, hingga kerinduan akan kampung halaman, para perempuan ini menemukan cara baru untuk bersuara: melalui tulisan.
Baca juga: Duduk Setara di Bumi Kartini, Ribuan Warga Santap 477 Tumpeng Ingkung di Malam Hari Jadi Jepara
Baca juga: Mahasiswa UNS Sukses Kembangkan Bahan Ajar Edukatif Berbasis Bahasa Mandarin
Lebih dari 100.000 pekerja rumah tangga migran Indonesia diperkirakan bekerja di Malaysia, sebagian besar adalah perempuan.
Mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari jam kerja panjang, isolasi sosial, hingga persoalan upah yang tidak selalu dibayarkan.
Namun di balik itu semua, tersimpan kekuatan besar, ketahanan, harapan, dan keberanian untuk berbagi cerita.
Salah satu wujud nyata dari semangat tersebut hadir melalui program pengabdian internasional yang digagas Universitas Sebelas Maret (UNS).
Program bertajuk “Pemberdayaan Pekerja Rumah Tangga Migran Indonesia Melalui Advokasi Berbasis Gender dan Menulis Kreatif Berkelanjutan di Malaysia” ini berlangsung dari Januari hingga Juni 2026 di Kuala Lumpur dan Solo.
Program ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara, menggandeng Taylors University Malaysia serta Persatuan Pekerja Rumah Tangga Indonesia Migran (Pertimig).
Didukung oleh hibah Community Development Program Equity The Impact Rankings 2025, kegiatan ini menjadi ruang pemberdayaan sekaligus pemulihan bagi para pekerja migran.
Menulis sebagai Ruang Aman dan Suara Perlawanan
Di tengah tekanan kehidupan sebagai pekerja migran, menulis hadir bukan sekadar aktivitas kreatif.
Ia menjadi ruang aman tempat para perempuan ini mengolah pengalaman, menyalurkan emosi, dan membangun kembali rasa percaya diri.
Program ini mengusung tiga pendekatan utama: advokasi berbasis gender, penguatan kesehatan mental, dan pelatihan menulis kreatif.
Dalam sesi advokasi, peserta diajak memahami hak-hak mereka sebagai pekerja, termasuk berdasarkan standar internasional seperti Konvensi ILO 189 dan 190.
Sementara itu, sesi kesehatan mental memberikan bekal praktis untuk menghadapi stres dan tekanan, seperti teknik pernapasan dan relaksasi sederhana.
Namun yang paling menyentuh adalah sesi menulis kreatif bertajuk “Menulis untuk Mengubah”.
Di sinilah para pekerja migran mulai merangkai kata, tentang rindu, tentang luka, tentang harapan.
Cerita-cerita itu kemudian diolah menjadi puisi, cerpen, hingga esai yang tidak hanya menyentuh, tetapi juga membuka mata publik.
Ketua Pertimig, Uli Rini, menegaskan pentingnya ruang ini bagi para pekerja migran.
"Materi yang dibawakan teman-teman dari UNS sangat bermanfaat untuk kita menyalurkan cerita yang dialami, yang selama ini mungkin dipendam."
"Ini sangat bagus agar masyarakat di tanah air paham bahwa kehidupan PRT migran tidak selalu indah karena kerja di luar negeri."
"Kita mungkin kadang simpan semua sendiri karena tidak punya teman cerita. Nah dengan menulis ini, teman-teman bisa bagikan apa yang dirasa."
Sastra, Advokasi, dan Pemulihan
Menulis dalam program ini tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi diri, tetapi juga sebagai alat advokasi.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa expressive writing mampu membantu mengurangi kecemasan, depresi, dan trauma, terutama pada kelompok rentan seperti pekerja migran.
Melalui pendekatan digital storytelling, kisah-kisah personal ini diangkat ke ruang publik sebagai narasi humanis yang menantang stigma.
Cerita-cerita yang selama ini tersembunyi kini perlahan menemukan panggungnya.
Karya-karya peserta yang dihasilkan sejak workshop Februari saat ini tengah melalui proses penyuntingan intensif.
Nantinya, tulisan-tulisan tersebut akan dihimpun dalam sebuah antologi yang dijadwalkan terbit pada 16 Juni, bertepatan dengan peringatan International Domestic Workers Day.
Momentum ini diharapkan menjadi simbol penting bahwa pekerja rumah tangga migran bukan sekadar “pekerja tak terlihat”, melainkan individu dengan suara, martabat, dan kontribusi nyata.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi lintas negara dan peran aktif berbagai pihak, termasuk mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam KOMANDO45 di Taylors University.
Mereka turut menjadi mentor dalam pendampingan menulis dan advokasi digital.
Associate Professor Dr Indra Yohanes Kiling dari Taylors University menilai program ini membawa dampak positif yang signifikan.
"Kegiatan dari UNS ini sampat berdampak positif bagi para pekerja rumah tangga migran Indonesia untuk mereka beradaptasi di Malaysia."
"Selain itu, program ini juga membantu mahasiswa Indonesia di Taylor's University untuk terhubung dengan anggota komunitas dan mengembangan empati para mahasiswa." imbuhnya.
Ke depan, program ini tidak berhenti pada pelatihan semata. Pendampingan akan terus berlanjut secara daring, disertai rencana pelatihan peer educator, penyusunan policy brief, hingga replikasi program di negara lain seperti Singapura, Hong Kong, dan Taiwan. (*)