Gubernur Sampai Tangani Viral Siswa Olok Guru, Psikolog Singgung Validasi Kalahkan Rasa Hormat
Ignatia Andra April 19, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Ramai dibicarakan di media sosial kasus sebuah video yang menunjukkan para siswa 'berani' terhadap gurunya sendiri di sekolah.

Makin bertambahnya generasi yang sangat dekat dengan media sosial itu makin banyak pula kasus di luar biasanya.

Aksi sejumlah siswa di SMA Negeri 1 Purwakarta yang mengolok-olok guru, menuai kecaman publik. Aksi ini terkuak selepas video singkatnya beredar dan viral di media sosial.

Dalam rekaman berdurasi 31 detik tersebut, para siswa tampak mengolok-olok seorang guru perempuan di dalam ruang kelas.

Kasus ini bahkan menyita perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Mengapa para siswa berani?

Menanggapi fenomena ini, psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menilai kejadian yang memicu kemarahan publik tersebut terjadi karena adanya percampuran kompleks antara perkembangan biologis, dinamika sosial, dan pengaruh era digital.

Danti menjelaskan, dari kacamata neuropsikologi, remaja berada dalam fase di mana prefrontal cortex atau bagian otak yang bertanggung jawab atas kontrol impuls dan pertimbangan konsekuensi belum berkembang sempurna.

"Sebaliknya, amygdala atau pusat emosi sedang sangat aktif. Hal ini menyebabkan impulsivitas tinggi, di mana remaja cenderung bertindak berdasarkan emosi sesaat tanpa memikirkan dampak jangka panjang seperti nama baik atau sanksi hukum," ungkap Danti kepada Kompas.com, Sabtu, dikutip TribunJatim.com, Minggu (19/4/2026).

Selain faktor biologis, teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura juga berperan.

Di era media sosial, perilaku membangkang terhadap otoritas sering kali dikemas sebagai konten yang dianggap "berani" atau "lucu".

Siswa kemungkinan besar mengadopsi gestur tersebut dari apa yang mereka lihat di internet.

Baca juga: Viral Siswa SMP di Tuban Tendang Kepala Teman, Dinas Pendidikan: Niatnya Bikin Konten Stop Bullying

Bahaya eksistensialisme digital

Adanya teman yang memvideokan aksi tersebut menjadi faktor kunci yang disebut sebagai audience effect.

Kehadiran kamera mengubah perilaku dari sekadar protes menjadi sebuah pertunjukan (performance) demi mendapatkan pengakuan kelompok atau peer approval.

"Karena dilakukan bersama-sama, muncul diffusion of responsibility atau berkurangnya rasa bersalah secara individu karena mereka merasa tanggung jawab atas tindakan tersebut ditanggung bersama kelompok," tambah Danti.

Secara psikososial, remaja memang berada pada tahap pencarian jati diri. Dan melawan arus atau menantang otoritas guru dianggap sebagai cara instan untuk merasa memiliki kuasa (sense of power) di lingkungannya.

Bahkan, dalam analisis operant conditioning, sorakan atau tawa teman berfungsi sebagai hadiah sosial (positive reinforcement).

Bagi beberapa remaja, menjadi "terkenal karena hal buruk" dianggap lebih baik daripada tidak dikenal sama sekali.

Danti memberikan catatan kritis bahwa fenomena memvideokan aksi ini menunjukkan adanya "eksistensialisme digital" yang mengkhawatirkan. Bagi generasi ini, realitas baru dianggap nyata jika sudah menjadi konten.

"Tanpa kamera, mungkin keberanian tersebut tidak akan sebesar itu. Ini menunjukkan kebutuhan akan validasi teman sebaya yang mengalahkan rasa hormat pada otoritas," pungkasnya.

Kata Kepala Dinas Pendidikan

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, mengonfirmasi bahwa insiden tersebut melibatkan sembilan orang siswa kelas XI IPS dan terjadi pada Kamis (16/4/2026), namun baru viral di media sosial pada Sabtu (18/4/2026).

Menurut Purwanto, aksi pelecehan ini bermula tepat setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) terkait pengolahan aneka makanan selesai dilaksanakan.

Guru yang menjadi sasaran olok-olok diketahui bernama Atum, seorang pengajar yang baru bertugas di sekolah tersebut.

“Setelah kegiatan itu selesai, kemudian terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak tersebut,” ujar Purwanto di Bandung, Sabtu (18/4/2026).

Gubernur turun tangan

Dalam cuplikan video yang beredar, terlihat seorang siswi melakukan tindakan provokatif dengan mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah guru yang berada di depannya.

Pihak SMAN 1 Purwakarta telah mengambil langkah sigap dengan memanggil para siswa yang terlibat beserta orangtua mereka.

Sebagai konsekuensi awal, sekolah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada sembilan siswa tersebut.

Sedangkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyarankan sanksi beda, daripada skorsing.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.